PGN Bakal Treasury Stock 1,85 Juta Saham

NERACA

Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) akan menjalankan rencana pengalihan saham hasil pembelian kembali (treasury stock) sebesar 1,85 juta lembar saham. Treasury stock perseroan sudah tercatat dalam laporan keuangan PGAS pada 30 September 2014.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, Direktur Keuangan PGAS, M Riza Pahlevi, mengatakan, pelaksanaan treasury stock akan dilakukan melalui transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagaimana dimaksud dalam peraturan No.XI.B2 lampiran keputusan Ketua Bapepam dan LK No. Kep105/BL/2010 tanggal 13 April 2014.

Kata Riza, dalam memperlancar rencana treasury stock, perseroan sudah menunjuk PT Bahana Securities dalam melakukan penjualan saham hasil pembelian kembali. Riza menjelaskan, perseroan telah menetapkan waktu pelaksanaan penjualan paling cepat 14 hari terhitung sejak keterbukaan informasi.

Adapun untuk harga penjualan saham, dia menegaskan, penjualan dilakukan dengan harga yang tidak lebih rendah dari harga penutupan perdagangan harian di BEI satu hari sebelum tanggal penjualan saham atau rata-rata dari harga penutupan perdagangan harian di BEI selama 90 hari terakhir sebelum tanggal penjualan saham, yang mana yang lebih tinggi.

Treasury stock adalah saham perusahaan yang dibeli kembali dari peredaran untuk sementara waktu. Tujuan dari pembelian kembali saham yang beredar biasanya untuk menaikkan harga pasar saham, akan dijual kembali pada karyawan perusahaan, akan dibagikan sebagai dividen, hingga untuk menukar surat-surat berharga perusahaan lain.

Presiden PT Astronacci International, Gema Goeryadi pernah bilang, kebijakan pemerintah yang terus mendorong optimalisasi konversi bahan bakar minyak (BBM) ke gas diyakini akan mendongkrak kenaikan harga saham PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) di 2015.

Dirinya menilai, konversi tersebut membuat PGAS akan dapat windfall,”Berdasarkan analisa finansial saham PGAS flat sebelum kenaikan harga BBM. Ke depannya, PGAS akan dapat windfall dari kenaikan BBM," ujarnya.

Menurutnya, pada Kuartal IV-2014 dan sepanjang 2015 permintaan terhadap energi di Indonesia akan meningkat sangat tinggi. Dia menyebutkan, peningkatan ini tidak terlepas dari sejumlah kebijakan Presiden Joko Widodo yang mengarah pada pengembangan infrastruktur. (bani)

Related posts