Kembali Terkoreksi, IHSG Bakal Balik Arah

NERACA

Jakarta – Dua hari berturut-turut, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di zona merah seiring dengan aksi ambil untung investor. Menutup perdagangan Selasa, IHSG ditutup melemah 38,051 poin (0,73%) ke level 5.181,944. Sementara Indeks LQ45 mundur 6,833 poin (0,76%) ke level 891,437.

Menurut analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya, koreksi IHSG BEI masih dinilai cukup wajar setelah 'rally' kenaikan pada akhir tahun 2014 lalu hingga awal pembukaan bursa di 2015. Dirinya memproyeksikan, tekanan indeks BEI bersifat jangka pendek dikarenakan prospek industri pasar modal Indonesia masih positif ke depannya seiring dengan masih cukup kuatnya sentimen kebijakan pemerintah dalam mengembangkan infrastruktur.

Di sisi lain, lanjut dia, arus dana asing keluar (capital outflow) di pasar modal juga tidak terlalu besar, itu menunjukan bahwa investor masih percaya terhadap kinerja pasar saham domestik,”Di tengah mayoritas saham-saham di BEI yang terkoreksi, pelaku pasar saham dapat memanfaatkan peluang untuk melakukan akumulasi saham," ujarnya di Jakarta, Selasa (6/1).

Hal senada juga disampaikan analis HD Capital Yuganur Wijanarko, pelemahan indeks BEI diperkirakan berjangka pendek. Secara teknikal IHSG masih berpotensi untuk menuju level batas atas ke 5.251 poin. Saat ini, lanjut dia, sentimen dari penurunan minyak dunia hingga di kisaran US$ 50 per barel, akan berdampak positif bagi sektor konstruksi BUMN karena dapat membuka ruang lebih untuk anggaran dana infrastruktur,”Kondisi itu dapat mendorong indeks BEI kembali terangkat ke depannya," katanya.

Seharian, indeks BEI terus tertekan aksi jual yang dilakukan investor asing. Tekanan jual gencar dilakukan investor menyusul koreksi di yang terjadi atas 234 saham di lantai bursa. Transaksi investor asing sore hari tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 439,993 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 267.596 kali dengan volume 5,922 miliar lembar saham senilai Rp 4,701 triliun. Sebanyak 64 saham naik, 234 turun, dan 77 saham stagnan. Bursa saham Tiongkok menjadi satu-satunya yang berhasil ditutup menguat sore hari. Bursa-bursa Asia lainnya jatuh ke zona merah akibat koreksi tajam Wall Street.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Mayora (MYOR) naik Rp 700 ke Rp 23.800, Goodyear (GDYR) naik Rp 250 ke Rp 16.250, Eratex (ERTX) naik Rp 115 ke Rp 760, dan Multi Bintang (MLBI) naik Rp 100 ke Rp 11.800. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.250 ke Rp 62.450, Indo Kordsa (BRAM) turun Rp 1.000 ke Rp 4.100, Indo Tambangraya (IMTG) turun Rp 925 ke Rp 14.575, dan Indocement (INTP) turun Rp 550 ke Rp 24.225.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup terkoreksi 40,943 poin (0,78%) ke level 5.179,052. Sementara Indeks LQ45 jatuh 7,653 poin (0,85%) ke level 890,617. Seluruh indeks sektoral di lantai bursa pun kompak melemah sejak pagi tadi. Posisi terendah yang sempat disinggahi indeks siang ada di level 5.176,339.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 146.800 kali dengan volume 3,019 miliar lembar saham senilai Rp 2,341 triliun. Sebanyak 73 saham naik, 205 turun, dan 66 saham stagnan. Bursa-bursa regional pun akhirnya menyerah dan jatuh secara kompak ke zona merah. Diawal bursa saham Tiongkok masih bisa menguat.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Mayora (MYOR) naik Rp 825 ke Rp 23.925, Eratex (ERTX) naik Rp 125 ke Rp 770, Ultra Jaya (ULTJ) naik Rp 95 ke Rp 3.800, dan United Tractor (UNTR) naik Rp 75 ke Rp 16.950. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.025 ke Rp 62.675, Indo Tambangraya (IMTG) turun Rp 825 ke Rp 14.675, Astra Agro (AALI) turun Rp 475 ke Rp 24.200, dan Golden Energy (GEMS) turun Rp 440 ke Rp 1.500.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG dibuka melemah 33,79 poin atau 0,65% ke posisi 5.186,20 mengikuti pergerakan bursa saham di kawasan Asia, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) turun 8,55 poin atau 0,95% ke posisi 889,72,”Sentimen negatif dari bursa Amerika Serikat menyebabkan pelemahan di bursa Asia termasuk IHSG BEI," kata Analis Samuel Sekuritas, Tiesha Narandha Putri.

Dia juga mengatakan bahwa kembali melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar AS menambah sentimen negatif bagi pasar saham di dalam negeri. Terus melemahnya nilai tukar domestik dapat mengurangi kepercayaan investor terhadap perekonomian.

Kendati demikian, dia mengharapkan bahwa pemerintah yang menyatakan akan melipatgandakan anggaran infrastruktur salah satunya untuk sektor transportasi, setelah berhasil menghemat anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) berpotensi memberikan sentimen positif bagi saham-saham konstruksi dan transportasi sehingga dapat menahan tekanan IHSG BEI.

Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah menambahkan, anggaran subsidi BBM yang dialihkan untuk kegiatan pembangunan infrastruktur bisa menyebabkan investor mempercayai bahwa pemerintah berkomitmen untuk mereformasi,”Diharapkan langkah pemerintah tersebut dapat mendorong arus modal masuk dan mendukung penguatan rupiah," katanya.

Namun, lanjut dia, apabila pemerintah tidak mampu merealisasikan pembangunan infrastruktur maka akan berdampak pada hilangnya kepercayaan investor terhadap pemerintah, kondisi itu akan mengancam pelarian aliran dana asing yang masuk ke Indonesia dan berpotensi mendorong pelemahan atas nilai tukar rupiah.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 152,42 poin (0,64%) ke 23.568,90, indeks Bursa Nikkei turun 405,40 poin (2,33%) ke 17.003,92, dan Straits Times melemah 49,78 poin (1,50%) ke posisi 3.278,93. (bani)

Related posts