Cegah Kematian Massal Ikan, KKP Siapkan 7 Langkah Antisipasi

NERACA

Jakarta – Berdasarkan hasil pengamatan kondisi lingkungan di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Jatiluhur terdapat indikasi penurunan kualitas perairan di waduk tersebut. Apabila cuaca seperti ini terus menerus terjadi, maka dapat menyebabkan semakin memburuknya kondisisehingga dapat membawa akibat buruk yaitu kematianmassal ikan. Oleh karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) memberikan peringatan dini (early warning) kepada masyarakat untuk pencegahan terjadinya kematian massal ikan.

“Buruknya cuaca memicu terjadinya kematian massal secara menyeluruh di perairan Waduk Ir. H Juanda Jatiluhur. Oleh karena itu, kita menginformasikan kepada para pembudidaya KJA di Waduk Ir. H. Djuanda agar dapat mengambil langkah-langkah antisipasi untuk pencegahan terjadinya kematian massal ikan dan rencana mitigasinya,” jelas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Achmad Poernomo, di Jakarta, Sabtu pekan lalu.

Achmad menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan 7 langkah antisipatif. Ketujuh langkha itu yakni, pertamamensosialisasikan kepada pembudidaya perihal tanda-tanda akan terjadinya kematian massal ikan seperti, kondisi cuaca mendung, tidak ada cahaya matahari, dan ikan mulai sering muncul kepermukaan untuk mengambil oksigen. Lalu langkah kedua dengan mengurangi jumlah KJA yang beroperasi atau mengurangi kepadatan ikan yang dipelihara. “Sebab jumlah total ikan yang dipelihara harus berada di bawah daya dukung perairan,” sambung Achmad.

Ketiga yakni, segera memanen ikan yang ukurannya mendekati ukuran konsumsi untuk menekan dampak kerugian yang akan timbul. Selanjutnya, memilih jenis ikan yang lebih toleran terhadap kadar oksigen yang rendah, seperti komoditas ikan patin. Kemudian angkah keempat melakukan aerasi di KJA yang dilakukan hanyasementara waktu. Kelima melakukan penebaran ikan pemakan plankton misalnya bandeng untuk mengendalikan blooming alga. Dan terakhir, penyiapan teknologi pemanfaatan Ikan dan Limbah Ikan sebagai upaya mitigasi pasca kematian massal ikan.

Perlu diketahui bahwa BP2KSI terus melakukan monitoring kualitas perairan waduk Ir H Djuanda secara regular. Pemantuan kualitas perairan ini dilaksanakan tiap 15 hari dengan menggunakan metode pengamatan langsung (in situ), dan pemantauan realtime menggunakan BUOY PLUTO. Hasil pemantauan terkini kualitas perairan waduk menunjukan DO yang sangat rendah dan berpotensi terjadi kematian massal ikan. “Melihat kondisi tersebut, hal ini belum berpotensi memicu kematian massal secara menyeluruh di seluruh perairan waduk,” tutup Achmad.

Related posts