Investasi Saham Aviasi - Oleh: Dwi Kartikasari, MBA, Ketua Galeri Investasi Politeknik Negeri Batam

Dengan tanpa mengurangi rasa kehilangan terhadap korban pesawat Air Asia dan rasa simpati kepada keluarga korban, muncul pertanyaan tentang apakah berinvestasi di saham aviasi, khususnya membeli saham Air Asia merupakan keputusan keuangan yang tepat mengingat harga saham Air Asia sedang berada di titik nadir terendah dalam tiga tahun terakhir.

Memang saham Air Asia tidak dapat dibeli di Indonesia melalui Bursa Efek Indonesia. Namun, kita tetap dapat membeli sahamnya melalui bursa efek Thailand ataupun Malaysia. Transaksinya cukup mudah, dapat dilakukan melalui perantara tanpa kita perlu mendatangi bursa secara fisik.Akan tetapi sebagai investor asing di Kuala Lumpur dan Bangkok, kita akan dikenakan besaran pajak yang lebih besar daripada investor lokal.

Umumnya saham maskapai penerbangan kurang disukai para analis saham, karena perusahaan aviasi membutuhkan modal yang sangat tinggi namun memiliki laba yang tipis apalagi untuk perusahaan yang berorientasi biaya rendah seperti Air Asia dan Lion Air. Dibandingkan sektor industri lain, industri transportasi udara ini mencatatkan ROI yang paling kecil. Laba yang tipis artinya kecil kemungkinan untuk memperoleh dividen. Bahkan perusahaan penerbangan sekelas Garuda Indonesia saja tidak membagi dividen hingga tahun 2016 karena perusahaan memilih untuk melunasi kewajibannya terhadap kreditur.

Bukan rahasia umum bahwa perusahaan penerbangan memiliki hutang segunung untuk modal usahanya. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, maskapai penerbangan di Amerika Serikat ternyata mencatatkan tingkat imbal hasil investasi terendah dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

Penyebab utama tipisnya laba maskapai penerbangan adalah rantai pasokan berbiaya tinggi. Pemasok bahan bakar biasa memperoleh untung yang tidak sedikit. Bagi Pertamina, avtur adalah produk sapi perahnya yang jauh lebih menguntungkan daripada mengelola premium bersubsidi. Faktanya, rata-rata harga avtur di Indonesia lebih tinggi daripada di Singapura, meskipun Singapura tidak memiliki sumber minyak bumi. Masalahnya adalah biaya distribusi dari tempat-tempat kilang yang dibebankan kepada bahan bakar pesawat. Padahal biaya bahan bakar ini dapat memakan 50 hingga 75 persen biaya operasi.

Agen jasa tenaga kerja, seperti pilot, pramugari, dan mekanik juga membebankan biaya tenaga kerja yang tinggi kepada maskapai. Maklum, tenaga kerja di bidang penerbangan masih tergolong langka. Berbeda dengan profesi lain, mekanik pesawat udara adalah profesi yang lebih besar kebutuhannya daripada penawarannya. Sehingga, nilai tawar tenaga kerja di bidang penerbangan tergolong tinggi dan menciptakan tekanan yang cukup besar kepada maskapai. Tekanan ini tidak hanya berakibat pada kesehatan keuangan perusahaan, namun juga berakibat pada munculnya fenomena saling bajak sumber daya manusia antar maskapai sering terjadi. Fakta pembajakan ini mengarah pada tekanan yang lain, yaitu tekanan kompetisi.

Kompetisi antarmaskapai penerbangan dinilai telah sampai pada tahap peperangan. Baik perang harga, perang prestise, perang promosi, dan perang sosial media. Dalam industri manapun, perang sangat tidak baik untuk masa depan industri tersebut dalam jangka panjang, karena perusahaan akan kehilangan kesempatan untuk bersinergi dalam pengurangan biaya dan kehilangan potensi pendapatan yang lebih besar. Tidak heran jika sejumlah maskapai di Indonesia akhirnya berguguran, sebut saja Mandala, Bouraq, Batavia, Adam, dan sebagainya.

Otoritas bandara umumnya juga mengenakan sewa yang cukup tinggi kepada maskapai. Masalahnya adalah bandara merupakan komoditas yang dimonopoli pemerintah. Tidak ada bandara yang dikelola oleh swasta dan boleh menjadi lokasi lepas landas atau mendaratnya maskapai. Akibatnya, meskipun otoritas bandara mengenakan tarif tinggi kepada maskapai, maskapai tidak punya pilihan lain selain membayarnya, berapapun harganya. Hal ini tentu berbeda dengan beberapa negara di Eropa, Jerman misalnya, yang bandaranya dikelola oleh swasta. Paling tidak, meskipun bandara besarnya dikelola pemerintah, sejumlah pihak swasta mempunyai bandara sendiri yang dapat dijadikan alternatif oleh maskapai untuk menekan tarif bandara.

Khusus untuk saham Air Asia yang jatuh, analis berpendapat bahwa Air Asia akan dapat segera pulih. Pasalnya Air Asia dilindungi asuransi yang berlapis, baik untuk badan pesawat maupun penumpangnya. Lain dengan kerugian fisik yang dapat direstorasi oleh sistem keuangan yang baik, kerugian tak kasat mata lebih sulit pemulihannya. Yang termasuk dalam kategori ini adalah potensi penurunan penjualan tiket pesawat karena hilangnya kepercayaan calon penumpang terhadap Air Asia serta penurunan nilai merk dan gengsi Air Asia di mata pelanggan, pemasok, kompetitor, dan pemerintah. Meskipun aset tak berwujud ini tidak tampak di atas kertas, namun efeknya bagi kesehatan keuangan perusahaan dalam jangka pendek maupun jangka panjang akan segera terlihat.

Setelah kejatuhan pesawat yang pertama, Malaysia Airlines sebenarnya masih dipercayai oleh investor. Namun, setelah kali kedua dirundung malang, pemerintah Malaysia akhirnya mengeluarkan Malaysia Airlines dari perdagangan bursa saham. Pada tahun 2007, Garuda Indonesia juga sempat mengalami kecelakaan yang mengambil nyawa mantan rektor UGM, Prof. Dr. Kusnadi. Namun karena secara fundamental sistem Garuda Indonesia dianggap baik, gejolak penurunan harga saham Garuda segera pulih sehingga masih bertahan hingga saat ini.

Banyak analis berpendapat bahwa penurunan harga saham Air Asia saat ini hanya sementara. Air Asia akan segera pulih, jika Tuhan menghendaki kepulihan tersebut dengan tidak memberi Air Asia cobaan kedua dalam waktu dekat seperti yang dialami oleh Malaysia Airlines. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk membeli saham Air Asia. Mumpung harganya sedang turun. Mumpung sebentar lagi liburan, karena banyak studi menyebutkan kesempatan memperoleh imbal hasil yang besarnya anomali pada saat akhir minggu, liburan, pergantian bulan, dan pada musim-musim tertentu. Membeli pada saat harga rendah dan menjual saham Air Asia ketika harganya sudah kembali membumbung adalah strategi investasi terbaik, atau harga sahamnya sudah telanjur mengudara saat ini? (haluankepri.com)

Related posts