Momentum Kalibrasi Moneter

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – Bond Research Institute

Sejak Juli 2013 kurs Rupiah (IDR) terdepresiasi terhadap US$ dan secara paralel nilai cadev RI meningkat signifikan di periode tersebut mencapai US$92,67 miliar; dan lebih dari US$ 111 miliar (Nov. 2014). Pada Juli 2013, Rupiah masih di kisaran Rp 9.950 per US$, sementara kini menyentuh Rp12.390. Dalam US$, cadev RI telah meningkat sebesar 19% di periode pelemahan IDR tersebut. Jika nilai cadev di-Rupiah-kan sesuai periodenya, maka nominalnya telah meningkat sebesar 49% sementara IDR terdepresiasi 24% terhadap US$.

Suatu ketidakwajaran sedang berlangsung dalam perspektif moneter. Sebagai informasi, konten cadev terdiri atas komponen surat berharga dalam valas, uang kertas asing dan simpanan dalam valas, reserve position in the fund, special drawing rights, emas moneter. Dari semua komponen cadev, porsi surat berharga dalam valas yang paling dominan (lebih dari 2/3). Demikian gambaran besar perkembangan cadev dan kurs IDR tercinta. Lalu bagaimana dengan nasib laju inflasi dan indikator terkait?

Kondisi ekonomi lainnya yang kurang mendukung dan masih relevan dengan ranah moneter adalah tekanan laju inflasi. Laju inflasi per Desember 2014 meningkat ke 8,36%. Di pasar uang, suku bunga acuan BI saat ini adalah 7,75%. Sementara di pasar modal, nilai yield acuan obligasi pemerintah bertenor 10-thn adalah 7,81%. Kedua figur (suku bunga pasar uang dan yield acuan pasar modal) berada di bawah figur laju inflasi. Secara investasi, ini merugikan deposan/investor. Jangan biarkan kondisi seperti ini berlanjut, kecuali Pemerintah sengaja memilih opsi bleeding dari pasar uang dan pasar modal, alias capital flight. Itu nasib suku bunga dan yield acuan. Bagaimana dengan nasib ekspor dan impor kita yang masih relevan dengan daya beli IDR tercinta?

Masih terngiang perihal kebijakan moneter yang cenderung menyimpulkan bahwa IDR yang terdepresiasi terhadap US$ adalah suatu prekondisi yang memungkinkan terjadinya genjotan nilai ekspor. Ada asumsi besar di mindset otoritas moneter yang mendasari kebijakan tersebut, yaitu “ekspor otomatis akan meningkat jika harga barang produksi RI dibiarkan relatif lebih murah di mata dunia (terutama negara tujuan ekspor) melalui kebijakan depresiasi kurs”.

Asumsi ini keliru, karena ada tiga hal yang prominen saat kondisi ini berlangsung, yaitu (1) import content RI masih tinggi; (2)RI bukan pilihan tunggal di mata negara tujuan ekspor utama dalam hal preferensi dan kualitas barang yang diperdagangkan; (3)tidak semua negara tujuan ekspor RI bisa dipukul rata sebagai price-sensitive market. Secafa de facto, figur nilai ekspor per Juli 2013 adalah US$15 miliar lebih. Sementara figur nilai ekspor per November 2014 adalah US$13,6 miliar. Nilai ekspor malah berkurang saat IDR justru terdepresiasi. Ada yang tak wajar dengan asumsi moneter. Demikian nasib Rupiah tercinta terkait international trade. Bagaimana nasib defisit RI yang masih relevan dengan kondisi itu dalam konteks perekonomian secara makro (agregat)?

Indonesia tidak jarang mengalami twin deficits, dimana ini masih terkait dengan tingkat keyakinan para deposan/investor/pedagang terhadap Rupiah. Data terkini government budget deficit RI minus 2,3% dari PDB, sementara figur current account RI (Aug 2014) adalah negatif US$ 6,8 miliar.

Ada kekeliruan dalam asumsi yang mendasari kebijakan otoritas moneter. Suatu tren yang tak sehat dan kurang kondusif sedang berlangsung. Pemerintah harus lebih pruden dan proaktif.

Related posts