Tekanan Inflasi Masih Besar

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia menilai risiko tekanan inflasi ke depan masih cukup besar meskipun harga beberapa komoditas terutama energi cenderung menurun.

"Dalam jangka pendek, tekanan inflasi dari kelompok pangan diperkirakan masih cukup tinggi, terutama terkait dengan faktor cuaca yang kurang mendukung," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Jumat (2/1) pekan lalu.

Selain itu, lanjut Tirta, risiko inflasi diperkirakan juga bersumber dari kelompok 'administered prices' (ketetapan harga dari pemerintah) seiring dengan kebijakan reformasi subsidi energi yang tengah berlangsung Menghadapi hal tersebut, Bank Indonesia akan memperkuat bauran kebijakan dan meningkatkan koordinasi pengendalian inflasi dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk meminimalkan dampak lanjutan yang ditimbulkan serta mengelola ekspektasi inflasi masyarakat.

"Dengan bauran kebijakan tersebut dan berbagai langkah kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya, Bank Indonesia meyakini bahwa inflasi akan terkendali dan dapat segera kembali pada lintasan sasarannya yaitu 3%-5% pada 2015," ujar Tirta.

Tirta mengatakan, inflasi Desember 2014 meningkat tinggi dan sedikit melebihi perkiraan Bank Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Desember mencapai 2,46% (mtm) atau secara tahunan sebesar 8,36% (yoy). Realisasi inflasi tersebut sedikit lebih tinggi dari perkiraan Bank Indonesia, terutama karena lebih tingginya inflasi kelompok volatile food akibat gejolak harga komoditas beras dan aneka cabai yang masih terjadi hingga penghujung tahun.

Namun demikian, inflasi sepanjang 2014 tetap terkendali pada single digit ditengah tingginya tekanan inflasi kelompok administered prices yang bersumber dari kenaikan harga BBM bersubsidi, penyesuaian tarif tenaga listrik untuk kelompok rumah tangga dan industri, kenaikan harga LPG 12 kg, dan penyesuaian tarif angkutan udara.

Terjaganya inflasi inti menyebabkan terjaganya perkembangan inflasi 2014, yang sedikit lebih baik dibandingkan dengan inflasi 2013 (8,38% yoy). Inflasi inti terkendali pada 4,93% (yoy) ditengah meningkatnya inflasi dari sisi biaya (cost push) akibat kenaikan harga komoditas yang diatur pemerintah dan gejolak harga pangan.

"Capaian ini tidak terlepas dari peran kebijakan Bank Indonesia dalam mengelola permintaan domestik, menjaga stabilitas nilai tukar, dan mengarahkan ekspektasi inflasi, serta semakin baiknya koordinasi kebijakan pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah," kata Tirta. [ardi]

BERITA TERKAIT

BI: Banten Triwulan II/2018 Inflasi 3 Persen

BI: Banten Triwulan II/2018 Inflasi 3 Persen NERACA Serang - Bank Indonesia (BI) mencatat Provinsi Banten pada triwulan II/2018 inflasi…

ICDX Berambisi Masuk 10 Besar Bursa di Dunia - Agresif Luncurkan Kontrak Baru

NERACA Jakarta – Seiring dengan pulihnya harga komoditas dunia, mendorong Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) menargetkan transaksi lebih besar…

Pengamat: Kebijakan HAM di Indonesia Masih Normatif

Pengamat: Kebijakan HAM di Indonesia Masih Normatif NERACA Jakarta - Pengamat hukum pidana Universitas Bung Karno Azmi Syahputra menilai kebijakan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BNI Fasilitasi Kredit Berdominasi Yen

  NERACA Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk. menyalurkan kredit modal kerja senilai 700 juta Yen kepada PT perusahaan…

BI Tampik Suku Bunga Bikin Rupiah Melemah

  NERACA Jakarta -  Bank Indonesia (BI) menampik bahwa dipertahankannya suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" sebesar 5,25 persen…

Bank Mandiri Incar Pendanaan Untuk Tambah Valas

  NERACA Jakarta – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sedang mengincar pendanaan untuk menambah pasokan valas senilai 500 juta dolar…