Pemerintah Suntik BUMN Rp30 Triliun - Percepat Pembangunan Infrastruktur

NERACA

Jakarta - Perusahaan Badan Usaha Milik Negara, khususnya yang bergerak di sektor konstruksi, mendapat angin segar. PresidenJoko Widodoberencana menyuntikkan dana segar untuk modal perusahaan BUMN membangun proyek-proyek infrastruktur pada tahun ini sebesar Rp 30 trilliun.

"Kita sedang bangun kepercayaan. Kita punya ruang fiskal yang longgar dari kebijakan BBM subsidi, kita alihkan ruang fiskal itu untuk proyek infrastruktur, sehingga kita akan suntik modal ke perusahaan-perusahaan BUMN dalam mempercepat infrastruktur," ujar Presiden Joko Widodo, di Jakarta, Jumat (2/1), pekan lalu.

Adapun perusahaan pelat merah yang bergerak di bisnis tersebut antara lain, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT Hutama Karya (Persero). "Pokoknya yang karya-karya kita suntik agar mempercepat proses pembangunan infrastruktur," jelas dia.

Dengan terciptanya infrastruktur yang lebih matang, Presiden yakin setiap daerah akan terkoneksi dengan baik. Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih positif di tahun ini.

"Semua terkoneksi, pulau, daerah dan provinsi. Efeknya ke arah ekonomi kita yang lebih baik," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil menambahkan dana hasil penghematan subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan dialokasi ke perusahaan BUMN karya yang mendukung pembangunan infrastruktur.

"Sudah dialokasikan sejumlah angka, tapi tentu ini masih exercise akhir dalam penyusunan APBN-Perubahan. Namun, yang sudah direncanakan sebelumnya di atas Rp30 triliun (penghematan subsidi BBM yang dialihkan untuk BUMN," tambah dia.

Sofyan mengakui, nilai tersebut bisa saja berubah. "Angka sebelumnya di atas Rp 30 triliun tapi realisasinya kita akan lihat," ungkapnya.

Selain suntikan modal, pemerintah juga akan mengurangi setoran dividen BUMN yang membangun infrastruktur. "Jadi ada kombinasi antara mengurangi dividen dengan penambahan (modal) BUMN)," ujarnya.

Namun demikian, pada kesempatan berbeda, Pengamat pasar modal Andrew Argado menilai pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla akan menghadapi tantangan cukup berat dalam mendorong pembangunan infrastruktur pada tahun 2015 mendatang terutama jika mengandalkan investor swasta, mengingat di tengah potensi keluarnya dana asing karena kenaikan suku bunga AS (Fed rate). "Pemerintah harus mencari pendanaan yang cukup besar untuk membangun infrastruktur, sementara sentimen kenaikan suku bunga AS berpotensi mendorong 'capital outflow'," ujar Andrew Argado.

Naikya suku bunga AS itu, menurut dia, akan membuat pasar berspekulasi bahwa imbal hasil Amerika Serikat akan mengalami peningkatan sehingga investor akan mengalihkan dananya dari pasar berisiko.

Di sisi lain, lanjut dia, pemerintah juga harus dapat mengantisipasi perlambatan ekonomi global yang bisa membuat investor enggan masuk ke pasar negara-negara berkembang yang memiliki risiko tinggi. [agus]

Related posts