Pasar Modal Belum Berikan Nilai Tambah - Masih Ada Keuntungan Yang Keluar

NERACA

Jakarta –Industri pasar modal dalam negeri boleh berbaga diri lantaran pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) menjadi yang tinggi sepanjang tahun ini, atau kedua tertinggi di ASEAN setelah Filipina. Namun prestasi tersebut dinilai belum menambah nilai tambah secara maksimal untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, dari keuntungan yang diperoleh investor dari pasar modal Indonesia, masih ada yang mengalir ke luar negeri,”Keuntungan yang diperoleh dari pasar alangkah baiknya jika diinvestasikan kembali ke dalam negeri, nyatanya masih ada yang keluar ke Hong Kong, Singapura, padahal bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan keadilan (pertumbuhan yang merata)," katanya di Jakarta, kemarin.

Jusuf Kalla menambahkan, emiten di Indonesia perlu bekerja lebih keras dalam rangka pemerataan pertumbuhan. Jika tidak, maka akan merugikan mereka,”Ingat insiden di Mesir, atau insiden 98 saat terjadi keributan di Jakarta, IHSG langsung drop ke level 2.000, jadi yang terpenting bagaimana pertumbuhan IHSG ini dinikmati secara merata, tidak sekedar capital gain lalu dialirkan ke luar negeri," katanya.

JK juga mengingatkan, jika emiten atau investor memindahkan keuntungannya ke luar negeri, maka pertumbuhan ekonomi nasional mudah drop dan kian memburuk,”Tahun ini pertumbuhan ekonomi kita sudah tumbuh 5,2%, salah satu yang tertinggi di Asia, untuk mencapai target 7%, kita secara bersama harus meningkatkan produktivitas dalam negeri, sebelum kita bicara mau melawan indeks Wall Streets dan sebagainya," paparnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida pernah bilang, pertumbuhan IHSG tercatat menempati posisi kelima dibanding bursa-bursa kawasan regional dan dunia lainnya,”Pertumbuhan indeks secara year to date (ytd) masih tercatat sebagai yang tertinggi hingga penutupan perdagangan di 29 Desember 2014, jika dibandingkan dengan bursa-bursa utama di kawasan regional dan dunia," katanya.

Lebih lanjut Nurhaida menerangkan, bahwa raihan indeks naik 904,196 poin atau 21,15% menjadi 5.178 poin hingga 29 september 2014 secara year to date, jika dibadingkan pada periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 4.274 poin.

Peringkat pertama masih diraih oleh bursa Shanghai China yang naik 49,72% menjadi 3.168 poin, peringkat kedua diraih oleh bursa Shenzhen China yang naik 34,12%, peringkat ketiga diraih oleh bursa Sensex India yang naik 29,52% menjadi 27.420,37 poin.

Kemudian peringkat keempat diraih oleh bursa PSEi Philipina yang naik 22,76 persen menjadi 7.230,57, peringkat kelima diraih oleh IHSG Indonesia naik 21,15% menjadi 5.178,37 poin, peringkat keenam diraih oleh bursa SET Thailand yang naik 15,45% menjadi 1.499,41 poin, peringkat ketujuh bursa Nikkei 225 Jepang yang naik 8,83% menjadi 17.729,84 poin. (bani)

Related posts