Sawit Sumbermas Tambah Kapasitas Produksi - Akuisisi Dua Perusahaan Rp 1,54 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) melalui anak usahanya, PT Citra Borneo Indah, mengakuisisi dua perusahaan perkebunan yaitu PT Tanjung Sawit Abadi (TSA) dan PT Sawit Multi Utama (SMU). Aksi korporasi tersebut menelan investasi hingga Rp1,54 triliun. Disebutkan, aksi korporasi ini telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).

Direktur Utama SSMS, Rimbun Situmorang mengatakan, langkah akuisisi tersebut dalam rangka ekpansi (pertumbuhan anorganik) perusahaan. Dengan akuisisi ini, lahan perseroan naik 75% menjadi 59.387 hektare (ha), dari 34.064 ha saat ini,”Kami juga masih memiliki landbank seluas 47.000 ha. Akuisisi ini juga ini juga sebagai langkah antisipatif dalam memenuhi tingginya permintaan produk-produk CPO ke depan,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Pada tahap awal, perusahaan berkomitmen menambah areal tanaman kelapa sawit (crude palm oil/CPO) hingga mencapai 5.500 ha setiap tahunnya. Diketahui, pendanaan akuisisi ini bersumber dari kombinasi kas internal sisa penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) sebesar Rp 440 miliar dan separuhnya atau sekitar Rp770 miliar dari pinjaman perbankan berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS)."Kami berencana menyelesaikan utang tersebut. Dalam waktu tiga tahun dari jatuh tempo yang diberikan selama lima tahun," katanya.

Kata Rimbun, akuisisi ini juga menjadi salah satu strategi perusahaan sawit tersebut untuk memenuhi tingginya permintaan produk minyak sawit mentah di masa mendatang. Dia menerangkan bahwa dana untuk mengakuisisi dari pinjaman bank sudah difinalisasi oleh tiga bank untuk mendukung transaksi tersebut.

Tercatat hingga September 2014, kinerja perusahaan membaik dan diperkirakan laba bersih selama 2014 mencapai Rp735 miliar, naik 16,2% dibanding perolehan laba 2013. Kinerja keuangan yang sehat akan tetap menjadi salah satu kunggulan SSMS sebagai perusahaan perkebunan yang sebagian sahamnya dimiliki publik, dengan laba bersih selama sembilan bulan pertama 2014 naik 39,9% menjadi Rp477,6 miliar.

Pada periode sama penjualan perseroan juga naik 23,6% dibanding periode sama tahun lalu menjadi Rp1,56 triliun. Keunggulan perusahaan dalam mencapai laba, katanya, dengan lahan seluas 78.070 hekatre dan berada di daerah strategis merupakan keuntungan tersendiri bagi perusahaan.

Kinerja operasional perkebunan sawit perusahaan pun terbilang unggul, karena usia rata-rata pohon adalah 7,7 tahun yang merupakan usia produktif dengan menggunakan bibit unggul generasi kedua dari Lonsum, Socfin, Damimas, dan ASD Kostarika.

Rimbun memprediksi gejolak harga CPO yang cenderung meningkat hanya akan bersifat jangka pendek dan selanjutnya membaik lagi. Mengenai prospek ke depan, Rimbun mengatakan antara lain berkomitmen melanjutkan terus pengembangan 39.081 hektare lahan yang siap ditanam dengan mentargetkan penambangan 5.000 sampai 5.500 hektare lahan tertanam baru setiap tahun.

Asal tahu saja, perseroan berencana membangun tiga pabrik kelapa sawit (PKS) dalam waktu tiga tahun mendatang. Langkah ini sejalan dengan target produksi crued palm oil (CPO) yang dalam setahun bisa naik 20%. Nantinya perusahaan ini akan membangun pabrik masing-masing dengan kapasitas 30 ton sampai 45 ton per jam. Pabrik akan berlokasi di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. (bani)

Related posts