Musibah Jatuhnya Air Asia Mengingatkan Tingginya Nilai Kemanusiaan - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Mengetahui informasi berbagai hal terkait musibah jatuhnya pesawat Air Asia dalam perjalanan dari Surabaya ke Singapura beberapa hari yang lalu, saya ikut sedih dan sangat prihatin. Pemberitaan tentang peristiwa itu, selalu saya ikuti. Banyak hal yang saya dapatkan dari mengikuti kejadian itu, mulai dari adanya nilai-nilai kemanusian yang dimiliki oleh bangsa, rasa solidaritas, dan kemampuan menempatkan harkat dan martabat manusia di atas segala-galanya.

Tatkala mendengarkan musibah itu, sebagai sesama manusia, saya terkejut dan sedih. Ketika itu dalam pikiran dan hati saya terbayang, betapa mengerikan keadaan yang dirasakan oleh para penumpang dan juga awak pesawat tatkala mengetahui bahwa pesawat yang ditumpangi sedang terbang tidak normal. Saya membayangkan, mereka pasti mengetahui kejadian itu. Detik-detik sebelum jatuh ke laut, semua penumpang dan awak pesawat akan merasakan suasana yang mencekam. Suasana yang demikian itu, yang saya bayangkan ketika mendengar jatuhnya pesawat dimaksud.

Selain itu, saya juga membayangkan tentang perasaan keluarga yang ditingggalkannya. Mendengarkan kejadian seperti itu, mereka pasti merasa terkejut, panik, sedih, dan bahkan hingga sock berat. Orang yang ditinggalkan oleh anak, orang tua, keluarga, dan sanak pamili secara mendadak akan merasa sedih dan mengalami penderitaan batin yang mendalam. Perasaan yang digambarkan seperti itu dialami oleh ratusan dan bahkan ribuan orang secara bersama-sama.

Namun di balik kesedihan yang mendalam itu, saya masih melihat ada sesuatu yang indah, yaitu adanya tanggung jawab bersama, kepedulian, empati, rasa kemanusiaan dan tolong menolong di antara sesama. Semua pihak, baik pemerintah, tim penanggulangan bencana, polisi, tentara, relawan, dan masyarakat memberikan perhatian dan membantu berupa apa saja yang sekiranya bisa dilakukan secepatnya. Bahkan hingga presiden sendiri turun langsung ke Pangkalan Embun dan ke Surabaya untuk menemui keluarga korban dan memberikan penjelasan yang melegakan semua orang. Besarnya perhatian dan empati semua pihak itu menggambarkan tentang adanya nilai-nilai kemanusian yang disadari bersama dan harus diutamakan melebihi yang lain.

Bahkan Joko Widodo, selaku presiden tatkala meberikan jawaban atas pertanyaan wartawan usai memberikan keterangan pers menegaskan, bahwa prioritas utama dalam menangani musibah itu adalah evakuasi para korban, baik penumpang maupun awak pesawat. Terhadap rupa-rupa pekerjaan lainnya supaya menunggu setelah hal utama, terkait dengan manusianya telah tuntas terselesaikan. Statemen presiden tersebut menggambarkan bahwa harkat dan martabat manusia harus diutamakan melebihi apapun lainnya.

Oleh karena itu, memperhatikan berbagai aktifitas terkait dengan musibah dimaksud sebenarnya ada beberapa hal yang mengesankan dan amat menarik. Pertama, persoalan kemanusiaan telah ditempatkan pada posisi yang amat penting, utama, dan bahkan mulia. Segera setelah mendengar informasi tentang musibah itu, semua pihak yang merasa memiliki kemampuan dan berkompeten segera bergerak, untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan. Dari kenyataan itu ada kesan mendalam bahwa, bangsa ini telah memiliki kesadaran kemanusiaan yang tinggi.

Kedua, bahwa ternyata pemerintah bersama masyarakat, tidak terkecuali polisi dan tentara, secara simultan mampu menyatu dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan. Apa yang disebut dengan budaya transaksional tidak tampak dalam menangani kejadian itu. Ketiga, tatkala menghadapi musibah juga tidak terdengar suara yang mempertanyakan asal usul para korban, baik terkait dengan etnis, asal kelahiran, termasuk juga agamanya. Semua memberikan rasa empati dan ikut berduka tanpa melihat dan meminta kejelasan tentang siapa sebenarnya yang sedang terkena musibah itu.

Akhirnya sesuatu yang saya renungkan adalah, betapa indahnya seumpama kita semua, tanpa terkecuali, selalu berhasil meletakkan harkat dan martabat manusia pada posisi yang amat mulia, penting, dan bahkan utama dalam kehidupan ini, sebagaimana kita menyikapi musibah jatuhnya Air Asia beberapa hari terakhir ini. Dalam peristiwa itu, kita telah berhasil mengejawantahkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Maka umpama saja, nilai-nilai yang mulia itu menjadi kebiasaan, kultur, dan bahkan budaya kita semua, maka bangsa Indonesia sebenarnya telah benar-benar unggul dan berperadaban yang amat tinggi.

Sikap sebagaimana digambarkan tersebut sebenarnya, dari generasi ke generasi, telah lama dimiliki oleh bangsa ini. Bangsa Indonesia tercatat dalam sejarah, sebenarnya telah memiliki solidaritas social yang amat tinggi. Hingga presiden Soekarno pernah mengingatkan kembali semangat gotong royong itu. Manakala nilai-nilai mulia itu dihidupkan kembali, maka sebenarnya untuk mengatasi problem besar seperti kemiskinan, ketertinggalan, kelangkaan lapangan kerja, rendahnya mutu pendidikan dan lain-lain, kiranya bukan perkara sulit. Dan, jika gambaran itu berhasil diwujudkan, maka bangsa ini akan benar-benar menjadi bangsa yang berperadaban tinggi. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

Related posts