Pemerintah Kembangkan Pusat Studi Mangrove

NERACA

Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus meningkatkan pembangunan kelautan dan perikanan sebagai salah satu penopang pembangunan ekonomi nasional. Menempatkan sektor ini sebagai mainstream pembangunan ekonomi nasional, maka pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015–2019, peran Sumber Daya Manusia (SDM) kompeten menjadi target dan sasaran prioritasnya. Karena itu penyiapan SDM kompeten sangat penting dan dibutuhkan guna mensukseskan keberhasilan pembangunan.

Dalam melaksanakan pembangunan ini, pengelolaan kelautan dan perikanan perlu memperhatikan habitat atau ekosistem tempat hidup ikan serta interaksinya dengan organisme akuatik lainnya. Untuk itu, Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP) menyelenggarakan Gerakan Konservasi Melalui Pengembangan Pusat Studi Mangrove, Rabu (31/12/2015), di Pasuruan, Jawa Timur, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi di Jakarta, Kamis (1/1).

Kepala BPSDM KP Suseno Sukoyono, pada sambutannya mengatakan, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam rangka mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara terpadu dan berkelanjutan, BPSDM KP menyelenggarakan kegiatan pendidikan, pelatihan dan penyuluhan. Menurut Suseno, pengembangan SDM ini dirasa sangat penting karena mengelola sumberdaya alam kelautan dan perikanan pada hakekatnya adalah mengelola SDM-nya, terlebih dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Di bidang pendidikan, tengah dibangun Sekolah Konservasi Kelautan di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Selain itu terdapat Pusat Studi Mangrove Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) Sidoarjo dan Pusat Studi Terumbu Karang di Poltek KP Bitung. Ada pula Pusat Studi Konservasi Perairan di Poltek KP Sorong yang akan diresmikan.

Pusat Studi Mangrove yang merupakan tempat penyelenggaraan acara ini berlokasi di Stasiun Lapangan Praktek, di Desa Pulokerto, Kec. Kraton, Pasuruan, dengan luas kawasan kurang lebih 22,5 ha. Jaraknya dari kota Surabaya 66 km dan dari kota Pasuruan hanya 8 km. Meskipun diresmikan pada Juli lalu oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, namun penanaman mangrove sudah dilakukan sejak 2006 dan telah tertanam kurang lebih sebanyak 100.000 batang mangrove dengan 8 jenis dominan dan lebih dari 10 jenis mangrove minor yang tumbuh secara alami.

Mangrove tersebut telah mencapai umur 3–7 tahun dengan ketinggian berkisar 2 - 6 meter. Vegetasi mangrove tumbuh dengan baik dan tersebar di kawasan penyangga (di luar petakan tambak) seluas 8 ha dan di tambak berupa tambak mangrove seluas 4 ha. Disamping itu mangrove tumbuh di pematang tambak seluas 4 ha dan sungai/saluran air sepanjang 1.100 meter.

Di bidang pelatihan, BPSDM KP telah menyelenggarakan berbagai pelatihan konservasi perairan, salah satunya International Training Workshop Marine Protected Area Governance, September lalu, di Bali. Karena itulah, Kepala BPSDM KP menjadi salah satu diantara tujuh panelis pada Worlds Leaders Dialogue, 16 November lalu, di acara International Union for Conservation of Nature (IUCN) World Park Congress (WPC), Sydney, Australia.

Delegasi berbagi kepada dunia mengenai upaya-upaya konservasi perairan yang telah dilakukan serta menyampaikan rekomendasi pengelolaan kawasan konservasi perairan, hasil pelaksanaan workshop pelatihan internasional tersebut sebagai kontribusi Indonesia bagi implementasi good ocean governance di forum internasional.

Berdasarkan data Sistem Informasi Manajamen Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Simluh KP), saat ini terdapat 1.927 penyuluh perikanan di kawasan 64 kawasan konservasi se-Indonesia, yang terdiri dari 541 penyuluh PNS, 222 Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK), dan 1.164 penyuluh swadaya. Angka tersebut merupakan bagian dari 13.154 penyuluh perikanan di seluruh Indonesia (data Simluh KP per 30 Desember 2014).

Sebagai rangkaian acara dilakukan penebaran nener bandeng, penebaran bibit rumput laut jenis Gracilaria sp, penebaran benur udang windu, penanaman bibit mangrove, peninjauan budidaya kepiting soka, penyelenggaraan Temu Wicara bersama Penyuluh Perikanan Kab. Pasuruan, Kab. Sidoarjo, dan Kota Probolinggo, serta pemutaran film dokumenter tambak ramah lingkungan, dll.

Pada kesempatan ini, Suseno berharap penyuluh perikanan mampu menjadi ujung tombak/garda pembangunan kelautan dan perikanan demi pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang lestari dan bertanggungjawab bagi kesejahteraan masyarakat.

“Jadilah penyuluh perikanan yang kompeten dan profesional dengan selalu meningkatkan kemampuan sesuai dengan perkembangan teknologi perikanan. Bekali diri saudara dengan kemampuan untuk mengakses informasi sesuai dengan perkembangan teknologi informasi. Kembangkan metodologi penyuluhan yang sesuai dengan kondisi sosial budaya dan perekonomian para pelaku utama dan pelaku usaha diwilayah kerja saudara. Laksanakan penyelenggaraan penyuluhan secara partisipatif dengan memposisikan para pelaku utama dan pelaku usaha sebagai mitra kerja saudara sehingga keberadaan dan kehadiran saudara akan selalu ditunggu dan diharapkan oleh mereka. Laksanakan penyuluhan perikanan dalam rangka industrialisasi kelautan dan perikanan,” ujarnya.

Related posts