Inflasi Ancam Pertumbuhan 2015

DAMPAK KENAIKAN HARGA BARANG-BARANG

Rabu, 31/12/2014

Jakarta – Kalangan pengamat dan akademisi menilai lonjakan inflasi Desember lebih disebabkan oleh kenaikan harga barang-barang dan biaya transportasi (cost push inflation), yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sementara tren penurunan harga minyak dunia seharusnya menjadi momen bagus untuk memacu pertumbuhan ekonomi domestik.

NERACA

Guru besar ekonomi Universitas Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika mengatakan, hal-hal lain di luar harga BBM yang mendorong inflasi lebih tinggi sebenarnya banyak sekali.

"Pengurangan subsidi BBM sudah dibahas sejak beberapa tahun lalu, dengan harapan akan segera dapat direalisir agar dana subsidi bisa dialihkan ke sektor lain yang tak kalah penting.

Namun tarik-menarik isu politik, kepentingan usaha dan tekanan publik, membuat ide ini sangat sulit diwujudkan," ujarnya saat dihubungi Neraca, Selasa (30/12).

Erani mengingatkan, salah satu masalah terbesar yang muncul dari kenaikan harga BBM, adalah kekhawatiran akan terhambatnya pertumbuhan ekonomi karena dampak kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi akibat komponen biaya yang naik.

Inflasi tidak mungkin dihindari karena BBM adalah unsur vital dalam proses produksi dan distribusi barang, Tetapi dengan menaikkan harga BBM juga tak bisa dihindari, karena beban subsidi membuat negara sulit melakukan investasi bidang lain untuk mendorong tumbuhnya ekonomi.

Tahun lalu inflasi diklaim pemerintah hanya di kisaran 4%-an, tetapi itu kan hasil dari subsidi yang sangat besar, inflasi semu. Kalau sekarang subsidi dikurangi terjadi inflasi, ya sama saja kan inflasi lebih tinggi

Erani juga berpendapat yang jadi faktor pemberat itu adalah proses pengambilan keputusan yang bertele-tele sehingga ekspektasi inflasi malah jauh lebih tinggi dari yang sesungguhnya.Sejumlah komponen penyumbang utama kenaikan inflasi, di luar naiknya harga BBM, adalah harga makanan-minuman serta tarif transportasi.

Namun anehnya, kondisi ekonomi Indonesia bersifat paradoks terhadap tren penurunan harga minyak dunia, yang seharusnya berimplikasi pada penurunan harga keekonomian BBM di dalam negeri. Seperti yang terjadi di Eropa, penurunan harga minyak dunia merupakan momen baik untuk memperkuat ekonomi Jerman.

Pemerintah Jerman memperkirakan rendahnya harga minyak dunia saat ini di bawah US$60 per barel, diharapkan mampu mendorong pertumbuhan antara 0,2%-0,3% pada tahun depan.

Daya Beli Menurun

Guru besar ekonomi Unpad Prof Dr Ina Primiana mengatakan, akhir tahun memang inflasi memang trendnya tinggi karena ada natal dan tahun baru, ditambah lagi pasca kenaikan BBM subsidi bulan November lalu yang mengakibatkan inflasi bisa terdongkrak naik sekitar 2% - 3% di Desember 2014 ini. "Inflasi Desember memang biasanya tinggi, apalagi ditambah adanya kenaikan harga BBM kemarin, mengakibatkan daya beli masyarakat menurun," katanya.

Namun begitu, Ina memproyeksikan inflasi tinggi hanya sementara, bisa kembali normal di bulan Maret atau paling lambat April. "Biasanya masuk bulan Februari inflasi sudah menurun, ini karena ada kenaikan BBM subsidi, bisa jadi Maret atau April baru kembali turun," imbuhnya.

Disinggung soal apakah penurunan harga minyak dunia bisa memperkecil inflasi, bahkan mendongkrak pertumbuhan ekonomi? Menurut Ina, sebenarnya harga minyak dunia turun merupakan peluang bagi pemerintah untuk dapat mengurangi pos anggaran subsidi untuk dialihkan ke sektor produktif. Jika memang pemerintah mampu mengalihkan anggaran itu secara efektif tentu ada implikasinya bagi ekonomi nasional.

Tapi sebaliknya, jika pos anggaran itu tidak dimanfaatkan dengan baik, maka ekonomi sulit tumbuh, mengingat tingginya harga BBM mengakibatkan biaya produksi kian meroket, harga produk mahal, sementara daya beli masyarakat menurun sulit ekonomi bisa tumbuh. "Harga BBM subsidi memang tidak harus turun, tapi dengan catatan penghematan anggaran subsdi BBM bisa dialihkan ke sektor yang lebih produktif, yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di tahun 2015," paparnya.

Selain itu, adanya pengurangan subsidi BBM tentu memberikan ruang fiskal bagi pemerintah. Jadi tidak ada lagi alasan pemerintah tidak punya anggaran untuk pembangunan nasional. "Kita tunggu saja pemerintah Jokowi, apakah bekerja dengan benar atau sebaliknya. Dapat dilihat dari ekonomi di akhir 2015 nanti. Jika memang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dengan target pemerintah 5,8%. Tapi kalau memang masih di bawah itu berarti selama ini pengetatan anggaran yang dilakukan pemerintah guna mendorong pembangunan nasional tidak berjalan," ujarnya.

Guru besar ekonomi UGM Sri Adiningsih PhD menilai, turunnya harga minyak dunia bisa membuat ekonomi Indonesia semakin tumbuh. Terlebih, kata dia, rencana pemerintah yang igin menetapkan anggaran subsidi tetap dalam APBN. Dengan begitu, ruang fiskal pemerintah akan lebih lapang untuk keperluan lain yang lebih produktif seperti pembangunan infrastruktur. “Jika harga minyak dunia turun, maka pos anggaran untuk subsidi bisa dimanfaatkan untuk anggaran lainnya. Membangun infrastruktur sangat dibutuhkan karena sejauh ini masalah infrastruktur menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Di saat harga minyak dunia turun dan pemerintah mengantisipasinya dengan menetapkan kebijakan subsidi tetap, menurut dia, akan membuat APBN semakin sehat dan tidak terbebani lagi oleh harga minyak dunia. Disamping itu, membaiknya ekonomi Amerika Serikat (AS) juga akan membuat perdagangan Indonesia – AS semakin bergairah mengingat sebelumnya perdagangan RI-AS sempat melesu karena pertumbuhan ekonomi AS juga melemah.

“Sekarang ini ekonomi AS sedang membaik maka ekspor kita ke AS juga akan membaik pula. Apalagi AS merupakan salah satu pasar ekspor terbesar Indonesia,” ucapnya.

Lebih jauh lagi, Sri menyatakan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi di 2015 maka perlu peningkatan investasi di berbagai sektor. “Tren kepercayaan kalangan pengusaha serta investor yang cukup menguat terhadap pemerintahan baru jangan disia-siakan. Peluang itu bisa menjadi kunci pertumbuhan ekonomi 2015,” katanya.

Meski demikian, dia mengatakan, tingginya investasi juga bergantung kebijakan pemerintah yang pro investor yang antara lain berkaitan dengan kemudahan perizinan usaha melalui penataan birokrasi yang lebih efisien. “Sejak 2011 pertumbuan ekonomi Indonesia terus merosot, keadaan itu harus dibalik mulai saat ini dengan kebijakan pemerintah yang mendukung,” ujarnya.

Menurut ekonom LIPI Latief Adam, realisasi anggaran Kementerian atau Lembaga pada kuartal terakhir November dan Desember menyebabkan uang berputar lebih banyak, bisa mendorong inflasi. Kementeria atau Lembaga harus buru-buru menghabiskan pagu sebelum akhir tahun anggaran yakni 31 Desember 2014.

"Dengan kucuran APBN yang signifikan pada kuartal terakhir, ancaman inflasi tidak hanya dari sisi moneter tetapi juga fiskal," kata dia.

Menurut dia, angka inflasi bulan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh harga BBM yang dinaikkan oleh Pemerintah pada tahun ini. Hal ini banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM yang terjadi pada tahun ini.

"Angka inflasi tersebut hanya bersifat jangka pendek karena merupakan dampak sesaat dari kenaikan harga BBM. Saya kira angka inflasi tersebut hanya bersifat jangka pendek. Tahun depan saya rasa akan normal lagi," ujarnya. iwan/agus/bari/mohar