Mutiara Disuntik J. Trust Hingga Rp1,3 Triliun - Fokus Dua Bisnis

NERACA

Jakarta - PT Bank Mutiara Tbk akan disuntik tambahan modal oleh J. Trust Co selama empat tahun yang totalnya mencapai Rp1,3 triliun. Direktur Utama Bank Mutiara, Ahmad Fajar mengungkapkan, J. Trust telah sepakat menyuntikan tambahan modal pertamanya sebesar Rp300 Miliar pada Desember 2014. Penambahan modal tersebut telah dilakukan melalui mekanisme penerbitan saham baru.

“Bulan ini (Desember) Bank Mutiara disuntik modal pertama Rp300 miliar. Lalu tahun 2015, J. Trust kembali menyuntikan modal sebesar Rp350 miliar. Tepatnya bulan Maret atau triwulan pertama,” kata Fajar, usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Bank Mutiara, di Jakarta, Selasa (30/12).

Dia melanjutkan, penyuntikan modal ketiga dan keempat untuk Bank Mutiara pada 2016 dan 2017 masing-masing Rp200 miliar. Kemudian sisanya pada 2018 J. Trust menyuntikan sebesar Rp250 miliar. “Jadi totalnya Rp1,3 triliun dari tahun 2014 sampai 2018,” jelasnya.

Selain itu, Fajar juga menyatakan bahwa Bank Mutiara saat ini tengah fokus mempersiapkan rencana pengembangan bisnis ke segmen usaha, mikro, kecil dan menengah (UMKM) danconsumer finance.Pasalnya, perseroan telah mempersiapkan berbagai infrastruktur pendukung untuk pengembangan bisnisnya tersebut.

Guna mendukung pengembangan bisnisnya, perseroan bakal menerapkan aplikasisistem teknologi informasi modern, serta melakukan penyempurnaan organisasi dan penguatan kewenangan kantor cabang (branch structure enginering).

“Dan juga melakukan penajaman manajemen risiko dan praktik tata kelola perusahaan (good corporate governance / GCG) dan peningkatan kualitas sumber daya manusia,”tandasnya.

Sebagaimana diketahui, Bank Mutiara telah resmi dibeli oleh perusahaan keuangan asal Jepang, J. Trust Co., sebesar Rp4,5 triliun. Padahal, harga jual Bank Mutiara sebenarnya oleh Lembaga Penjamin Simpanan sebesar Rp8,2 triliun. Rinciannya, pada 2008 dikucuri Rp6,7 triliun dan akhir 2013 sebesar Rp1,5 triliun.

Namun, harga ini diklaim wajar lantaran bank yang sebelumnya bernama Bank Century tersebut dalam situasi “yang tidak ideal”. Apalagi sektor perbankan nasional saat ini dalam tekanan karena adakrisis likuiditas.

Agustinus Prasetyantoko, Kepala Ekonom Universitas Atmajaya Jakarta, mengatakan adanya investor asing yang membeli saham Bank Mutiara sangat positif karena ada injeksi dana dari eksternal untuk kepentingan kinerja perseroan.

Dengan masuknya J Trust tidak ada masalah dengan likuiditas dan kinerja BankMutiara ke depannya juga diproyeksikan bakal sehat. “Ini sulit dilakukan olehpembeli lokal seperti BRI dan Bank Artha Graha karena ada masalah likuiditas. Suntikan ke anak usaha akan memberatkan likuiditas,” katanya, beberapa waktu lalu.

Menurut Pras, penjualan Bank Mutiara ke pihak asing adalah kompromi yang baik. Apalagi harganya juga dinilai masih wajar dan diperkirakan di atas target Lembaga Penjamin Simpanan sebesar 1,5 dari price book to value (PBV). [ardi]

BERITA TERKAIT

NFC Indonesia Buka Peluang Untuk Akuisisi - Kembangkan Ekspansi Bisnis

NERACA Jakarta – Debut perdana di pasar modal, harga saham PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) langsung dibuka menguat 49,73% pada…

BI Sebut Ada Capital Inflow Rp6 Triliun - Bunga Acuan Naik

      NERACA   Jakarta - Modal asing masuk melalui Surat Berharga Negara sebesar Rp6 triliun setelah imbal hasil…

Sinergi Megah Investasikan Rp 1,1 Triliun - Bangun 180 Vila di Batam

NERACA Jakarta –Genjot ekspansi bisnis, emiten properti PT Sinergi Megah Internusa Tbk (NUSA) berencana membangun sekitar 180 vila di wilayah…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pertumbuhan Kredit Juni Double Digit

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada Juni 2018 masih di…

Literasi Keuangan Dinilai Masih Rendah

      NERACA   Jakarta - Asosiasi Teknologi Finansial atau Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengatakan literasi keuangan masyarakat di…

BI Sebut Ada Capital Inflow Rp6 Triliun - Bunga Acuan Naik

      NERACA   Jakarta - Modal asing masuk melalui Surat Berharga Negara sebesar Rp6 triliun setelah imbal hasil…