2015, Target Penerimaan Negara Menurun

Sektor Migas

Rabu, 31/12/2014

NERACA

Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan pendapatan negara darisektor hulu migasditargetkan mencapai US$ 19,4 miliar pada 2015. Target tersebut turun dari target APBN-P 2013 sebesar US$ 29,67 miliar.

Kepala Humas SKK Migas, Rudianto Rimbono mengatakan, penerimaan negara ditargetkan mencapai US$ 19,4 miliar dengan perkiraan harga rata-rata minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) US$ 65- US$ 85 per barel. "Kembali harganya tergantung harga minyak tahun depan, apakah masih turun tidak jelas," kata Rudi, di Jakarta, Selasa (30/12).

Rudi menambahkan,pendapatan negaratersebut sangat tergantung dengan harga minyak dunia, jika rata-rata produksi minyak 849 ribu dengan harga US$ 65 per barel maka pendapatan negara US$ 12 miliar. Lalu bila harga minyak US$ 85 per barel maka menyumbang pendapatan sebesar US$ 19 milar, dan jika US$ 105 per barel menjadi US$ 28 miliar.

Ia mengungkapkan, produksi minyak ditargetkan mencapai 840 - 850 ribu barel per hari (bph) meningkat pada tahun depan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014 sebesar 818 bph. Sedangkan target lifting gas 2015 mencapai 1,170 MBOED. "Tahun depan produksinya meningkat," tegas Rudi.

Sementara pendapatan dari sektor hulu migas tahun ini hanya mencapai US$ 28,332 miliar, sedangkan target APBN-P sebesar US$ 29,67 miliar. Artinya pendapatan negara dari sektor tersebut tidak mencapai target. "Pendapatan sudah temasuk harga minyak turun akhir tahun," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan penurunan harga minyak mentah global sebenarnya merupakan pedang bermata dua bagi Indonesia.Di satu sisi memang dengan penurunan harga minyak mentah global pemerintah memiliki ruang fiskal lebih besar dengan subsidi yang makin kecil. Akan tetapi penurunan harga minyak tidak semerta-merta membuat beban pemerintah berkurang. Pasalnya, produksi minyak dalam negeri sudah sangat berkurang. Di samping itu Ketika harga minyak menurun, penerimaan juga menurun. Khususnya PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) migas dan PPh (Pajak Penghasilan) migas, pastiturun. ‘Pasti ada dampak terhadap pendapatan negara,” katanya.

Namun begitu, Menkeu memproyeksikan pen urunan harga minyak dunia yang sedang mengalami penurunan dalam enam bulan terakhir merupakan fenomena sementara dan tidak akan berlangsung lama.

"Ini bukan permanen, turunnya harga minyak terjadi karena produsen minyak seperti Arab Saudi terancam dengan kesuksesan minyak dan gas serpih (shale oil and gas) di Amerika Serikat," katanya

Seperti diketahui gengan turunnya, harga minyak mentah berpotensi untuk menghambat tercapainya target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok oleh Presiden Jokowi di level 7 persen untuk tahun 2015 mendatang. Dimana anjloknya harga minyak mentah akan menurunkan pengeluaran di sektor energi sebesar 20 persen. Kondisi ini terjadi karena beberapa proyek energi akan kurang ekonomis dengan harga minyak yang mencapai di bawah level 70 dollar per barel.

Adapun Indonesia menerima penghasilan sekitar 200 hingga 300 triliun rupiah dari sektor migas, tergantung harga minyak mentah di tingkat global. Akan tetapi dipastikan pada tahun 2015 penghasilan yang akan diterima oleh pemerintah akan mengalami penurunan sebab sebelumnya asumsi APBN 2015 harga minyak berada di level 105 dollar per barel.Dalam artikel ini juga dinyatakan bahwa kemelut harga minyak global akan terjadi dalam waktu yang tidak sebentar. [agus]