Fluktuasi Harga, HPE Produk Tambang Turun Januari

Rabu, 31/12/2014

NERACA

Jakarta - Harga Patokan Ekspor (HPE) produk Pertambangan Hasil Pengolahan yang dikenakan Bea Keluar (BK) periode Januari 2015 mengalami penurunan. “Penurunan HPE Produk Pertambangan Hasil Pengolahan disebabkan adanya fluktuasi harga internasional pada komoditas pertambangan tersebut,” jelas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Partogi Pangaribuan, dalam keterangan pers, Selasa (30/12).

Dokumen HPE ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 94/M-DAG/PER/12/2014, tertanggal 24 Desember 2014. Produk Pertambangan Hasil Pengolahan yang dikenakan BK adalah konsentrat tembaga, konsentrat seng, konsentrat timbal, konsentrat besi, konsentrat mangan, konsentrat ilmenite, serta konsentrat titanium lainnya. Harga dasar perhitungan HPE bersumber dari Asian Metal untuk konsentrat besi dan konsentrat mangan, sedangkan konsentrat tembaga, konsentrat timbal, serta konsentrat seng berdasarkan London Metal Exchange (LME).

Dibandingkan dengan penetapan HPE periode Desember 2014 sebagian besar mengalami penurunan. Konsentrat tembaga (Cu ≥ 15%) dengan harga rata-rata 1.750,98 USD/WMT turun 2,11%; konsentrat bijih besi (hematit, magnetit, pirit) dengan kadar (Fe ≥ 62%) dengan harga rata-rata 50,43 USD/WMT turun 29,26%; konsentrat mangan (Mn ≥ 49%) dengan harga rata-rata 173,22 USD/WMT turun 0,70%; konsentrat timbal (Pb ≥ 57%) dengan harga rata-rata 827,12 USD/WMT turun 0,72%; dan konsentrat seng (Zn ≥ 52%) dengan harga rata-rata 555,34 USD/WMT turun 2,14%.

Sementara itu konsentrat bijih besi (gutit/laterit), konsentrat ilmenite, dan konsentrat titanium lainnya tidak mengalami perubahan dibandingkan HPE periode sebelumnya. Penetapan HPE periode Januari ini ditetapkan setelah memperhatikan berbagai masukan tertulis. “Penetapan HPE periode Januari 2015 dilakukan setelah memperhatikan usulan tertulis dan hasil rapat koordinasi dengan instansi-instansi teknis terkait, khususnya dalam menyikapi perkembangan harga komoditas, baik nasional maupun internasional," jelas Partogi Pangaribuan.

Sementara itu, pada periode Desember 2014, HPE produk tambang juga mengalami penurunan. Dibandingkan dengan penetapan HPE periode November 2014 sebagian besar mengalami penurunan. Konsentrat tembaga Cu lebih besar sama dengan 15% dengan harga rata-rata US$1.789,31/WMT atau turun 0,69%, konsentrat bijih besi (hematit, magnetit, pirit) dengan kadar Fe lebih besar sama dengan 62% dengan harga rata-rata US$71,29/WMT turun 3,40%.

Konsentrat bijih besi (gutit/laterit) dengan kadar Fe lebih besar sama dengan 51% dan (Al2O3 + SiO3) lebih besar sama dengan 10% dengan harga rata-rata US$21,87/WMT atau turun 2,17%. Konsentrat timbal Pb lebih dari sama dengan 57 persen, harga rata-rata 833,13 dolar AS/WMT atau turun 2,37 persen dan konsentrat seng Zn lebih besar sama dengan 52 persen dengan harga rata-rata 567,47 dolar AS/WMT atau turun 0,77 persen. Sementara itu konsentrat mangan Mn lebih besar sama dengan 49 persen, konsentrat ilmenite dan konsentrat titanium lainnya tidak mengalami perubahan dibandingkan HPE periode sebelumnya.

Sementara, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Bob Kamandanu melihat, teridentifikasinya penurunan harga pertambangan batubara sudah terlihat sejak tahun-tahun sebelumnya (2012-2013). Di sisi lain, turunnya harga batubara ini dikarenakan pengusaha tidak mau mempelajari serta memprediksi akan terjadinya kemerosotan yang sangat tajam. “Mungkin sebelum tahun 2008 atau lima tahun yang lalu kita belum pernah belajar tentang harga batubara ini akan turun. Jadi yang dipikirkan cuma kenaikan harga saja,” kata Bob.

Adapun rencana pemerintah yang ingin menaikkan bea ekspor batubara, menurut Bob juga akan berpengaruh kepada bisnis ini. Pasalnya, saat ini harga batubara sedang lesu. Rencana ini menyusul karena dikenakannya bea ekspor bahan mineral mentah sebesar 20%. “Mungkin kondisinya belum tepat. Begini, tadinya harga USD115-120 per ton. Tahun 2013 drop harganya turun sekitar USD 60-70 per ton. Itu kan tergerus sekitar USD30-50 per ton itu kemakan semua. Sekarang berjalan cuma dengan ada USD2-3 saja profit marginnya. Kalau itu ditambahkan lagi untuk IUP dampaknya bukan positif buat pemerintah malah negatif,” jelas Bob.