Menyongsong Perekonomian 2015

Selasa, 30/12/2014

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – Bond Research Institute

Target realistis pertumbuhan ekonomi 2015 ada di kisaran 5,50-6,5% jika Pemerintah kini bertekad mencapai 7% di tahun 2017. Perlu diingat bahwa sejak 1997-98, ada beberapa periode pengukuran pertumbuhan ekonomi tahunan dimana Indonesia mengalami perlambatan signifikan, seperti tahun 2002 (1,56%), 2004 (4,1%), 2009 (4,08%). Hitungan inferensial statistik BondRI berdasar data historis, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 masih berpeluang besar melambat ke arah 4% jika Pemerintah kini tak segera berinisiatif alias berani tampil beda. Harus ada inisiatif breakthrough, atau bahkan penerapan kebijakan disruptif yang positif.

Hal yang sedikit berbeda kini adalah indikator yield obligasi pemerintah acuan (denominasi IDR) bertenor 10 tahun yang masih tetap di bawah 8% dan stabil. Indikator ini market-driven, berbeda dengan indikator BI Rate yang government-made, walau hampir selalu inline dalam pergerakannya. Secara historis, yield obligasi acuan tahun 2004 dan 2009 ada di double digit, pertanda sikon ekonomi saat itu berisiko tinggi dengan konsekuensi logis investor menuntut yield tinggi. Apakah perbedaan ini suatu kewajaran pasar yang acceptable atau calm before calamity? Apapun yang terjadi, investor harus selalu waspada dan pemerintah harus selalu prudent.

Ada 3(tiga) indikator perekonomian yang perlu dicermati, yaitu laju inflasi, nilai tukar, dan kondisi defisit. Ketiga hal ini sangat menentukan kesehatan fundamental perekonomian. Figur Rupiah yang melemah masih berpotensi menekan laju inflasi di 2015, memperlebar jurang fiskal serta mengurangi capital inflow speed. Depresiasi IDR terhadap major currencies masih menjadi determinan bagi investor kini.

Pemerintahan Jokowi sedang menghadapi tantangan ekonomi yang tak ringan. Pasar menuntut certainty dan stability. Apapun kebijakannya, bakal sangat mempengaruhi arah pasar. Negara yang berlaju inflasi tinggi dan cenderung meningkat umumnya mengalami depresiasi nilai tukar relatif terhadap negara mitra dagang. Tren indikator laju inflasi, suku bunga, nilai tukar memiliki tingkat korelasi tinggi. Dari ketiga indikator ini , laju inflasi adalah indikator yang paling relevan dengan hajat hidup orang banyak. Inflasi adalah biang kerok penggerusan daya beli uang yang beredar. Jika harga BBM naik, maka laju inflasi terkerek. Kenaikan harga BBM berpotensi menyebabkan perekonomian domestik mengalami cost-push inflation.

Tekanan laju inflasi yang naik memiliki plus dan minus tersendiri. Aspek plusnya adalah memungkinkan “price adjustment mechanism”, mengarahkan perekonomian ke posisi ekuilibrium baru. Selain itu, kenaikan harga boleh juga ditanggapi positif dalam bentuk optimisme pasar jika dan hanya jika pertumbuhan ekonomi dapat terdongkrak sebagaimana diharapkan. Namun jika yang terjadi sebaliknya, risiko capital outflow menanti di 2015. Skenario ini yang harus segera dicegah secara proaktif oleh Pemerintahan Jokowi.

Apa langkah praktis realistis Pemerintah untuk menghadapi sikon ini? Pertama, cegah perlambatan ekonomi lanjut di tahun 2015 dengan menggenjot sisi supply melalui percepatan pembangunan infrastruktur nasional (khususnya di daerah); Kedua, ekstra mitigasi risiko tekanan laju inflasi 2015 (konsekuensi logis niat Pemerintahan Jokowi yang bertekad mencapai pertumbuhan ekonomi 7% dalam tiga tahun pertama) dalam konteks pasar yang tidak over-regulated. Let us prudently grow in 2015.