Inflasi Desember Diprediksi Meroket

Selasa, 30/12/2014

NERACA

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia,Agus DW Martowardojo memperkirakan, inflasi Desember 2014 akan lebih tinggi jika dibandingkan November yang mencapai 1,5%. Tekanan inflasi Desember 2014 juga diprediksi bakal lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 0,55%. "Dipastikan Desember ini inflasi bakal tinggi, tapi tidak sampai tiga persen," katanya di Jakarta, Senin (29/12).

Menurut Agus Marto, kenaikan inflasi ini salah satunya karena kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp2.000 per liter pada November 2014. “Tingginya inflasi karena imbas dari kenaikan harga BBM subsidi kemarin,” jelasnya.

Sebelumnya Kepala Badan Pusat Statistik, Suryamin juga pernah mengatakan, tingginya inflasi di bulan November dan Desember 2014 lebih dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM bersubsidi pada 18 November lalu. Namun dampak kenaikan BBM November 2014 tidak sebesar kenaikan BBM pada Juni 2013 yang mencapai hingga 3,2%.

Sedangkan menurut Direktur Indef Enny Sri Hartati memproyeksikan tingkat inflasi pada bulan Desember diprediksi mencapai dua persen, kenaikan inflasi pada Desembermasih dipengaruhi oleh kenaikan harga tarif angkutan sebagai efek dari naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). "Inflasi Desember di atas November, efek kenaikan transportasi efeknya baru terasa di Desember, November efeknya baru terasa sedikit," ujarnya.

Ini dikarenakan adanya kenaikan BBM subdisi, yang mengakibatkan kenaikan tarif angkutan, selain itu hari raya Natal dan Tahun baru juga masih menjadi faktor musiman yang bisa mendongkraktingkatinflasi. "Faktor musiman seperti Natal dan tahun baru juga menyebabkan faktor inflasi Desember kira-kira sekitar dua persen," tandasnya.

Sementara itu, menurut pengamat ekonomi Aviliani,mengatakan kebutuhan pangan masih jadi perhatian utama guna menjaga tekanan inflasi. Pemerintah diminta menjaga pasokan pangan dengan baik. Dengan stok pangan yang cukup akan terhindar dari lonjakan harga yang tinggi dan menekan inflasi di tingkat yang rendah. “Inflasi akan tinggi jika pemerintah tidak dapat menjaga pasokan pangan. Jadi inflasi itu tergantung dari pasokan pangan,” katanya.

Menurutnya, meski harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi naik sebesar Rp2.000 per liter, hal tersebut tentunya bakal mendorong peningkatan inflasi hingga awal 2015. Adanya kondisi tersebut dikhawatirkan tingkat inflasi akan lebih tinggi pada 2015 atau diluar asumsi pemerintah yang sebesar 4,4%.

Namun, jika pemerintah mampu menjaga pasokan pangan serta mengurangi tingkat impor, maka inflasi pada 2015 mendatang diperkirakan dapat ditekan dikisaran 5%-5,5%. “Itu jika pemerintah bisa menjaga pangan, jika tidak inflasi akan lebih tinggi dari itu. Bukan hanya sekedar jaga pangan tapi impor juga harus diperbaiki,” tutupnya. [agus]