Perdana Karya Rambah Bisnis Properti

Selain Bisnis Sektor Migas

Selasa, 30/12/2014

NERACA

Jakarta – Kembangkan bisnis di luar konstruksi jasa minyak dan gas bumi (Migas), PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK) berencana merambah bisnis properti,”Perseroan bakal mengubah linis bisnis utama dari sebelumnya pertambangan batu bara menjadi konstruksi jasa migas. Namun bisnis kontruksi jasa migas lebih bersifat jangka pendek, maka perseroan membutuhkan kontrak proyek yang cukup panjang, seperti properti,”kata Direktur Adminstrasi & Keuangan PKPK, Untung Haryono di Jakarta, Senin (29/12).

Dirinya menuturkan, pengembangan bisnis di sektor properti akan diawali berupa pemanfaatan aset

salah satu pemegang saham perseroan di wilayah Kalimantan Timur. "Sektor properti juga ada rencana kita masuki, namun setelah proses ubah haluan bisnis ini selesai. Pemegang saham kami ada yang punya lahan, dan sepertinya lahan itu cocok buat bisnis properti,”ujar Untung.

Lebih lanjut Untung menegaskan, untuk memperbaiki kinerja, pihaknya akan terus mencari peluang bisnis yang nantinya bisa menghasilkan keuntungan bagi PKPK. Gerbong bisnis yang pasti akan dijalankan perseroan saat ini adalah konstruksi jasa migas. Namun tidak menapik, perusahaan juga tertarik dengan bisnis properti. Namun rencana tersebut masih dalam kajian.

Di tahun 2015, perseroan mengincar beberapa kontrak baru. Setidaknya, ada 8 kontrak konstruksi jasa migas yang tengah diincar oleh perseroan. Ada dua kontrak yang sudah jelas akan diikuti tendernya oleh perseroan pada tahun 2015,”Dua kontrak jasa konstruksi migas tersebut adalah proyek dari PT Technip Indonesia senilai Rp42 miliar dan Cevron Indonesia dengan nilai kontrak sebesar Rp 48 miliar," kata Untung,

Selain dua kontrak tersebut, perusahaan juga sedang mengincar beberapa kontrak lainnya. Seperti kontrak dari Vico Indonesia, Eni Muara Bakau. "Kalau dihitung-hitung, nilai kontrak baru yang kami incar di tahun 2015 itu mencapai Rp450 miliaran,”paparnya.

Sebagai informasi, di tahun 2014 perseroan mengaku telah memperoleh kontrak konstruksi dan land clearing total sebesar Rp70,93 miliar. Dari total nilai tersebut, paling besar didapat dari proyek Vico Indonesia mencapai Rp67,09 miliar dan sisanya yang Rp3,84 miliar dari kontrak lain.

Kemudian di tahun 2015, perseroan juga memproyeksikan dapat mencatat laba bersih sebesar Rp 17,15 miliar dengan pendapatan usaha sebesar Rp 210 miliar pada tahun 2015,”Kalau tahun ini kami masih rugi. Namun tahun depan, kami targetkan perusahaan bisa mencatat laba bersih mencapai Rp 17,15 miliar," kata Untung Haryono.

Sementara sampai akhir tahun ini, menurut Untung, perusahaam memproyeksikan pendapatan akan mencapai Rp63,96 miliar. Angka proyeksi itu keluar karena pada tahun 2013 lalu perseroan sudah berhasil mendapatkan kontrak jasa migas dari Total E&P senilai Rp 290 miliar.

Sedangkan di tahun 2015 mendatang, lanjut Untung, PKPK mengincar angka perolehan kontrak baru dari sektor migas sebesar Rp450 miliar. Untuk belanja modal tahun depan, perseroan akan lebih memanfaatkan sumber daya yang ada, dalam hal ini kas internal perseroan. Hal ini dilakukan dikarenakan beban keuangan perseroan sudah lumayan berat."Jika belum mencukupi, kami akan menggunakan skema Joint Operation (JO) dengan kontraktor lain untuk menggarap proyek yang sudah didapatkan,”ungkap Untung. (bani)