Tingkatkan Daya Saing Melalui Kemandirian Benih dan Pakan

Perikanan Budidaya

Selasa, 30/12/2014

NERACA

Sleman - Untuk menjaga kualitas produksi perikanan budidaya, perlu pemantapan dan pemberlakuan sistem jaminan mutu terhadap semua fungsi, khususnya dalam sistem perbenihan nasional. Oleh karenanya, program Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam kemandirian pembudidaya yang berdaya saing dan berkelanjutan melalui peningkatan produksi benih berkualitas.

“Penyediaan induk unggul dan benih bermutu secara berkelanjutan merupakan hal yang penting dan sangat strategis. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) akan memperbanyak induk unggul oleh daerah-daerah sehingga tidak tergantung dari produk luar atau impor,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di Sleman, Yogyakarta, Senin (29/12).

Slamet pun menjelaskan dengan penyediaan induk unggul untuk mendukung ketersediaan benih bermutu secara berkelanjutan. Kemudian bisa didistribusikan kepada para pembudidaya di Indonesia, termasuk ke Yogyakarta.

“Induk dan benih unggul merupakan kebutuhan utama dalam suatu proses produksi perikanan budidaya. Untuk menunjang dan mendukung keberhasilan industrialisasi perikanan budidaya, diperlukan induk dan benih unggul dalam jumlah yang memadai dan berkesinambungan,” ujar dia.

Begitupula dengan kemandirian pakan yang diharapkan berjalan baik seperti Gerakan Pakan Ikan Mandiri Nasional. Melalui hal tersebut maka suplai bahan baku pakan lokal bisa dilakukan secara kontinyu. “Hal ini sesuai dengan model pembudidaya yang mandiri dalam penyediaan pakan. Kemudian tidak mengurangi produksi pakan nasional tetapi memenuhi kebutuhan pakan dengan bahan baku pakan lokal dan tidak tergantung kepada pakan impor. Sehingga diperlukan penguatan bahan baku pakan yang berasal dari lokal,” ungkap Slamet.

Menurut Slamet, keberhasilan yang dilakukan kelompok pembudidaya ikan Mino Ngremboko Bokesan Sleman dalam membudidayakan pembenihan ikan patut ditiru. Keberhasilan ini menjadi contoh daerah lain yang memiliki potensi serupa, sehingga memberikan dampak yang positif bagi daerah lainnya. “Saya menyambut gembira terhadap kelompok ini dalam meningkatkan budidaya pembenihan ini sehingga bisa meningkatkan produksi pembenihan lokal yang berkesinambungan,” jelas dia.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan keberhasilan yang dilakukan kelompok pembudidaya ikan Mino Ngremboko Bokesan dalam mengembangkan budidaya pembenihan dikarenakan mempunyai manjemen dan struktur yang dikelola dengan baik oleh kelompok tersebut. Oleh karenanya, perlu didukung dan terus dikembangkan lebih lanjut lagi untuk menjadi lebih baik lagi dan menjadi contoh daerah-daerah lain di Yogyakarta. “Saya merasa senang melihat kondisi dari kelompok ini yang dapat mengembangkan budidaya pembenihan sehingga dapat menguntungkan bagi mereka dan pembudidaya ikan lainnya,” kata dia.

Pemerintahan daerah, lanjut dia, senantiasi membantu dalam mengembangkan kelompok pembudidaya pembenihan ini sehingga bisa berkembang lebih maju lagi. Apabila ada koperasi maka akan bisa membantu dalam pengembangan budidaya pembenihan ini, seperti permasalahan permodalan dan sebagainya.

“Dengan adanya koperasi ini bisa melembagakan kelompok budidaya periakanan ini. Seperti contoh koperasi ini bisa memberikan bunga semurah mungkin sehingga pembudidaya pembenihan tidak akan mempunyai masalah dalam permodalan,” imbuh Sri Sultan.

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdatan), Pengelola Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP), Penyuluh Swadaya Mino Ngremboko Bokesan Sleman, Saptono mengatakan sebelumnya daerah sepanjang sungai tdi wilayah Bokesan Sleman merupakan lahan pasir tandus dan termarjinalkan. Tahun 1985-an sudah mulai ada membuat kolam untuk memelihara ikan. Kemudian pada 1987 berdirilah kelompok tani ikan, dengan anggota 17 Orang.

“Tahun 2013 dikukuhkan sebagai Kelompok Pembudidaya Ikan kelas Utama oleh Bupati Sleman, Nomor SK 080/V/XII/2013. Luas lahan budidaya saat ini 25 ha dengan jumlah anggota 48 orang aktif. Kemudian jenis Ikan Nila, Lele, Grasscarp, Gurame, Bawal dan Ikan Hias,” kata dia.

Dia pun menjelaskan Omset Penjualan kelompok ini pada tahun 2013 mencapai Rp11,56 Milyar. Omset tersebut diperoleh dari penjualan benih nila sebesar Rp1,9 miliar, penjualan benih lele sebesar Rp0,107 miliar, penjualan lele konsumsi sebesar Rp7,56 miliar, Benih Gurameh, Bawal, Grasscarp dan Mas sebesar Rp1,4 miliar, kemudian benih ikan hias (koi, koki, cupang) sebesar Rp0,593 miliar.

Belum lama ini, Saptono juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima penghargaan Adikarya Pangan Nusantara Kategori Pemangku Ketahanan Pangan yang diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal ini merupakan kebanggaan bagi sektor perikanan yang bisa membuktikan diri bahwa sektor ini memajukan sektor ketahanan pangan.

“Sektor perikanan ini bisa mensejahterakan masyarakat dan memajukan ketahanan serta kedaulatan pangan sehingga konsumsi ikan pada masa yang akan datang menjadi primadona bagi masyarakat Indonesia,” ungkap dia.