Investor Akan Manfaatkan January Effect

Selasa, 30/12/2014

NERACA

Semarang - Investor bersiap menghadapi "January Effect" atau fenomena anomali pasar modal di mana harga-harga saham cenderung mengalami kenaikan pada dua pekan pertama di bulan Januari,”Jadi pada awal tahun 2015 itu investor asing akan melihat sektor mana yang bagus di tahun tersebut dan mulai melakukan aksi beli sehingga harga saham diperkirakan mengalami kenaikan,”kata Branch Manager PT Danareksa Sekuritas Semarang Melcy Rulandy S Makarawung di Semarang, Senin (29/12).

Menurutnya, sejumlah sektor akan memiliki pergerakan positif untuk selanjutnya bisa memberikan keuntungan yang baik bagi investor. Sektor-sektor tersebut terutama yang berhubungan dengan infrastruktur,”Sektor infrastruktur akan tumbuh positif dan pasti diminati oleh investor asing mengingat Indonesia baru saja ganti pemerintahan sehingga sektor infrastruktur masih menjadi fokus utama,”paparnya.

Beberapa sektor yang berkaitan dengan infrastruktur dan diprediksikan akan mengalami pertumbuhan positif di antaranya semen, jasa konstruksi, dan jalan tol. Selain itu, sektor yang berhubungan dengan konsumer juga diprediksikan tumbuh positif salah satunya perusahaan telekomunikasi.

Dengan pertumbuhan di sejumlah sektor saham tersebut pihaknya juga memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) akan mencapai level 6.000,”Oleh karena itu, kami menyarankan investor agar lebih banyak melakukan aksi beli," katanya.

Menurutnya, dengan bursa saham yang semakin menguat maka rupiah juga akan menguat menyusul fenomena investor asing melakukan aksi jual dolar dan selanjutnya ditukarkan ke rupiah untuk membeli saham IHSG.

Sementara itu, pada akhir tahun ini momentum positif untuk sektor infrastruktur mulai terlihat. Bahkan, dengan adanya pelemahan harga minyak mentah secara berkesinambungan maka semen dan maskapai penerbangan akan menikmati katalis positif.

Sebelumnya, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, John Rachmat pernah bilang, ada beberapa alasan bila IHSG tahun depan akan tembus 6.350 poin. Pertama didukung indikator pendorong perbaikan ekonomi Indonesia yang sudah ada seperti penghematan anggaran dari pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi sentimen positif di pasar saham,”Tahun depan kita prediksikan IHSG di angka 6.350, ada kenaikan sekitar 24-25%," ujarnya.

John menjelaskan, pemangkasan subsidi BBM ini membuat negara punya ruang fiskal yang lebih lebar untuk pembangunan infrastrktur yang lebih baik. Ini jadi sentimen positif di pasar. Selain itu, kondisi politik dalam negeri tahun depan diperkirakan sudah mulai kondusif. Tahun depan, hal yang jadi perhatian adalah soal persetujuan APBNP 2015. Selama tidak ada tarik-menarik yang alot di DPR, pasar akan kondusif.

Lebih jauh John menjelaskan, partai oposisi di tahun depan juga diperkirakan tidak akan menghambat kinerja pemerintahan saat ini. Bahkan, beberapa di antaranya justru akan merapat ke pemerintah. Hal lain yang juga mendorong sentimen positif di pasar adalah soal peringkat S&P terhadap investasi Indonesia yang diperkirakan akan naik,”Menurut S&P, kebijakan fiskal kita konservatif, infrastruktur sangat under, sekarang presiden baru sudah fokus ke situ, sehingga ada respect dari S&P di bulan April, saat ini peringkat kita stabil dan akan naik," ungkapnya. (ant/bani)