Target IPO Dinilai Skeptis Bisa Tercapai

Diprediksi Terealisasi 30 Emiten

Senin, 29/12/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun target emiten baru tahun 2015 sudah dipangkas dari 35 emiten menjadi 32 emiten, diyakini target tersebut sulit tercapai lantaran tahun depan menjadi tahun terberat seiring dengan sentiment global rencana The Fed yang menaikkan suku bunga dan masih berlanjutnya depresiasi nilai tukar rupiah.

Analis MNC Securities Reza Nugraha pesimistis bahwa target emiten baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2015 sebanyak 32 emiten bisa tercapai. Dia memperkirakan, jumlah emiten baru yang akan mampu merealiasikan hajatan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada tahun depan kurang dari target tersebut, atau hanya sekitar 30 emiten baru.

Proyeksi tersebut lantaran target tersebut dinilai terlalu tinggi, mengingat tahun ini yang hanya mencatat 24 emiten baru atau di bawah target revisi 25 emiten,”Seharusnya targetnya ada di 25-30 saja, kalau 32 masih tinggi. Tahun ini saja hanya 24 emiten karena kondisi tidak bagus. Tahun ini, investor lebih banyak wait and see, jadi realistisnya 25-30 sama seperti tahun ini," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, menurut dia, dampak daya beli yang menurun akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan menurunkan margin perusahaan di BEI. Dia mengatakan, beberapa sektor saham yang berpotensi menguat pada tahun depan, yaitu saham sektor konstruksi, perbankan, dan konsumsi. Walaupun diproyeksi menguat, menurut dia, saham konstruksi tidak akan tumbuh pesat seperti tahun ini. "Sektor konstruksi ada penguatan tetapi tidak sekuat tahun ini, yang naik 100%," pungkasnya.

Sekadar informasi, BEI sebelumnya sempat menargetkan jumlah emiten pada tahun depan sebanyak 35. Namun jumlah itu direvisi menjadi 32 emiten, mengigat capaian tahun ini meleset dan adanya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global 2015.

Keputusan BEI memangkas target emiten tahun 2015 menuai kritik dari pelaku pasar dan termasuk dari Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Franciscus Welirang yang menilai, keputusan BEI memangkas target calon emiten adalah bukti BEI tidak confident atau tidak percaya diri.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi pasar yang menjanjikan dan sangat disayangkan bila keputusan untuk pangkas target calon emiten,”Ini gambaran jelas BEI tidak confident, padahal Indonesia tidak kecil dan memiliki wilayah yang luas seluas Eropa,”tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Asosiasi Analis Efek Indonesia Haryajid Ramelan yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap penurunan target perusahaan yang akan me-listing di PT Bursa Efek Indonesia. Kata Haryajid, dibandingkan negara lain di Asia, emiten yang masuk ke lantai bursa Indonesia masih sedikit,”Nah, ini yang jeleknya lagi ketika di negara lain seperti Shanghai sudah punya sekian ribu emiten, dan setiap tahun lebih dari seratus dua ratus emiten baru yang go public. Tapi di Indonesia malah target 35 saja dianggap kebanyakan," ujarnya. (bani)