Garda Tujuh Akuisisi Tambang di Sudan

NERACA

Jakarta - PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) siap menuntaskan akuisisi tambang di Sudan, Afrika Utara, paling lambat pada 30 Juni 2015. Emiten pertambangan ini telah menyerahkan uang muka sebesar US$ 42,5 juta kepada Massicot Trading Ltd, perusahaan yang ditunjuk untuk mengidentifikasi operasi pertambangan di Indonesia, Afrika, dan Amerika Latin.

Komisaris Garda Tujuh, Pardeep Dhir mengatakan, Massicot Trading akan mencarikan satu tambang di Sudan. Tambang yang akan diakuisisi itu bisa merupakan tambang batu bara, emas, atau bauksit. Perseroan juga mengkaji strategi untuk mengelola tambang potensial tersebut di masa mendatang,”Terkait apakah kami akan memiliki 100 persen tambang, itu juga sedang dipelajari. Kami terbuka untuk menggandeng mitra lokal atau mencari korporasi besar untuk mengelola tambang itu nantinya,”ujar Dhir di Jakarta, kemarin.

Menurut Dhir, jika akuisisi tambang itu terealisasi, perseroan menilai tidak ada masalah logistik antara tambang di Sudan dengan pasar terbesar Garda Tujuh di India. Saat ini, hampir seluruh produksi batu bara perseroan diekspor ke India, dan sebagian kecil ke Tiongkok. Di tengah harga pelemahan harga komoditas batu bara, strategi efisiensi terus dilakukan perseroan pada tahun depan.

Sejauh ini, perseroan telah melakukan uji tuntas terhadap tambang hasil rekomendasi Massicot di Sudan. Perusahaan sudah berkonsultasi dengan Kedutaan Besar Sudan di Jakarta, dan merekomendasikan investasi ke pemerintah Sudan. Rencananya, perseroan meminta persetujuan pemegang saham untuk berinvestasi di tambang tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, kerja sama Garda Tujuh dan Massicot terbentuk pada 30 November 2013. Uang muka sebesar US$ 42,5 juta yang telah diserahkan perseroan kepada Massicot memiliki jangka waktu satu tahun mulai 1 Desember 2013 sampai 30 November 2014. Uang muka itu memiliki bunga sebesar 3 persen selama tiga bulan Libor.

Uang muka itu akan digunakan membeli tambang dan peralatan. Jika Massicot gagal menyediakan area tambang atau peralatan dalam waktu yang ditentukan, Gajah Tujuh memiliki pilihan untuk meminta pengembalian kembali uang muka tersebut.

Tahun ini, perseroan menargetkan produksi batu bara mencapai 3 juta sampai 3,5 juta metrik ton. Namun, kata Dhir, kemungkinan target tersebut sulit tercapai, karena tahun ini perseroan menghadapi sejumlah kendala.

Dia menyebutkan, kendala yang dimaksud adalah cuaca dengan intensitas hujan tinggi dan peraturan terkait pemberlakukan aturan ekportir terdaftar yang berlaku pada Agustus 2014. Peraturan eksportir terdaftar (ET) mengharuskan setiap perusahaan tambang batu bara yang ingin mengekspor harus terdaftar sebagai ET dan dilengkapi dengan dokumen ET. Untuk mendapatkan dokumen itu, setiap perusahaan tambang harus mengajukan izin kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Tanpa izin itu, perusahaan tidak bisa melakukan ekspor.

Sekretaris Perusahaan Garda Tujuh Rinaldi mengatakan, akibat peraturan itu, perseroan tidak melakukan penjualan batu bara ke luar negeri selama dua bulan. “Saat ini, kami memang sepenuhnya ekspor ke India, terakhir kami melakukan penjualan untuk pasar domestik adalah pada 2011,” terang dia. (bs/bani)

Related posts