Problem Daya Saing Hingga Pasar Bebas ASEAN - CATATAN SEKTOR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN

NERACA

Jakarta – Sektor industri dan perdagangan sama-sama menghadapi masalah berat pada 2015 mendatang. Dikatakan demikian karena beberapa problem mendasar di kedua bidang tersebut belum juga rampung diselesaikan. Industri, sebagai penopang utama kinerja perekonomian nasional, bakal masih terbebani oleh beragam masalah, seperti halnya yang terjadi pada 2014 ini atau tahun0tahun sebelumnya. Contoh masalah yang terus menghantui industri nasional adalah lemahnya daya saing produk industri dalam negeri.

Setali tiga uang dengan industri, bidang perdagangan juga mengalami tantangan tak kalah berat. Perdagangan dalam negeri menghadapi pelemahan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dan lokomotif harga lainnya seperti kenaikan tarif listrik, harga gas dan kenaikan upah minimum karyawan. Kenaikan harga-harga di pasar domestik sebagai akibat dari tingginya angka impor di tengah melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika merupakan problem berat lainnya. Belum lagi nilai ekspor yang terpengaruh fluktuasi harga komoditas di pasar internasional.

Menteri Perindustrian Saleh Husin dan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel barangkali memang sama-sama bekerja keras untuk menyelesaikan seluruh masalah yang membelit bidang mereka masing-masing. Saleh terlihat serius meningkatkan daya saing industri nasional lewat beragam program, salah satunya dengan rencana membangun 10 kawasan industri di luar Jawa. Rachmat ingin meningkatkan perdagangan domestik, antara lain dengan cara revitalisasi pasar tradisional, dan mendongkrak kinerja ekspor melalui diversifikasi pasar luar negeri sekaligus memanfaatkan momentum pelemahan rupiah.

Akan tetapi, upaya dua menteri ini, tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan penuh dari kementerian atau institusi lainnya. Misalnya, kinerja sektor industri terkait erat dengan pasokan beraneka ragam bahan baku yang regulasi dan otoritasnya berada di beberapa lembaga. Selain itu, sektor riil di tanah air membutuhkan dukungan dari kebijakan fiskal, institusi finansial, dan sistem logistik yang memadai. Yang tak kalah penting, industri juga butuh pasokan energi yang mencukupi, syukur-syukur dengan harga murah.

Sementara perdagangan, khususnya perdagangan internasional, sangat membutuhkan dukungan dari infrastruktur dasar yang baik seperti pelabuhan dan bandar udara, berikut sistem logistik yang handal dan modern. Upaya menekan angka impor menjadi bagian penting dalam menyelesaikan persoalan defisit negara perdagangan luar negeri yang cukup besar. Sementara perdagangan dalam negeri membutuhkan pasokan barang dan jasa yang berkualitas dan memenuhi standarisasi nasional.

Pada dasarnya, sektor industri dan perdagangan saling terkait satu sama lain. Apabila produk yang dihasilkan oleh industri nasional berdaya saing, tentu pasar domestik akan menyerapnya dengan optimal. Sebaliknya, industri akan terstimulasi jika sektor perdagangan menahan laju impor yang tengah berlari begitu kencang. Penurunan impor, pemberian insentif, diskon pajak, kemudahan perizinan, pemberantasan pungutan liar, pasokan energi dan kebijakan pro bisnis lainnya bakal menjadi magnet bagi penanaman modal, baik domestik maupun asing. Investasi begitu penting digenjot untuk mendongkrak kinerja ekonomi nasional secara menyeluruh.

Industri nasional menurut data Kementerian Perindustrian terus tumbuh. Kemenperin mencatat, pertumbuhan industri pengolahan non-migas periode Januari-September 2014 mencapai 5,30% atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi (PDB) sebesar 5,11%. Bahkan, industri pengolahan non-migas mampu memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 20,65%, merupakan yang tertinggi dibandingkan sektor-sektor lainnya. Di lain pihak, sektor perdagangan, baik domestik maupun luar negeri, terus meningkat seiring perbaikan ekonomi dunia. Namun, baik sektor perdagangan maupun industri masih terus menunggu solusi atas beragam problem yang belum diselesaikan, terutama dalam menyambut Pasar Bebas ASEAN yang berlaku efektif pada akhir 2015 mendatang.

BERITA TERKAIT

Kadin: Tak Mungkin Terulang Krisis 1998-2008 - PROSPEK PERTUMBUHAN INDUSTRI DAN SEKTOR PERKEBUNAN

Jakarta-Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani menyatakan sikap optimistis krisis ekonomi 1998 dan 2008 atau…

Realisasi Ekspor Kabupaten Sukabumi Hingga Oktober Capai 8,57 Persen

Realisasi Ekspor Kabupaten Sukabumi Hingga Oktober Capai 8,57 Persen NERACA Sukabumi – Seksi Perdagangan Luar Negeri (PLN) pada Bidang Perdagangan…

BEI Bakal Tambah Tiga Sektor Saham Baru - Perbanyak Perusahaan Go Public

NERACA Jakarta – Dalam rangka meningkatkan likuiditas dan transaksi harian di pasar, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menambah tiga…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

RISIKO MATA UANG DIGITAL JANGAN DIANGGAP RINGAN - OJK: Investasi Bitcoin Ilegal di Indonesia

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa investasi mata uang digital seperti bitcoin, altcoin, belum berizin secara resmi di Indonesia. OJK…

Ekonomi Jangan Terganggu Politik

NERACA Jakarta - Presiden Joko Widodo wanti-wanti dengan dimulainya tahun politik yaitu Pilkada di 2018 dan Pilpres di 2019. Jokowi…

YLKI Ingatkan Masyarakat Modus Diskon Palsu

NERACA Jakarta – Momentum pergantian malam pergantian tahun, umumnya pusat-pusat perbelanjaan menawarkan pesta diskon yang cukup menggiurkan dan tidak terkecuali…