Orang China Dalam Melihat Lapangan Kerja - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Sekalipun taraf ekonomi masyarakat sudah disebut meningkat atau menjadi semakin baik, tetapi pengangguran, tidak terkecuali penganguran terdidik, masih dianggap sebagai masalah yang tidak mudah dipecahkan. Mencari pekerjaan masih dianggap sesuatu yang sulit. Apalagi, jenis pekerjaan yang menjadi pilihan idealnya.

Kedaan yang demikian itu menjadikan para mahasiswa yang akan mengakhirinya studinya merasa gelisah, khawatir setelah lulus, beban psikologisnya semakin bertambah. Mereka tahu bahwa sekedar mendapatkan pekerjaan bukan perkara mudah. Sementara itu, sebagai seorang yang sudah dianggap dewasa dan apalagi setelah lulus perguruan tinggi harus mampu mandiri, dan setidaknya bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Di tengah kebanyakan orang yang mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan, terdapat kelompok atau tegasnya etnis tertentu yang tidak terlalu mendijadikannya sebagai beban. Etnis yang dimaksud adalah etnis China. Penyebutan etnis tersebut bukan bermaksud melakukan diskriminasi dan atau membanding-bandingkan, tetapi memang tamnpak bahwa di kalangan mereka tidak terlalu banyak yang menganggur.

Etnis China di Indonesia jumlahnya sudah cukup banyak, apalagi di kota-kota besar. Tetapi tampak bahwa, dibanding etnis pribumi, mereka tidak terlalu tampak memiliki problem pekerjaan. Orang China di Indonesia biasanya sangat gigih di dalam bekerja. Data secara kongkrit tentang jumlah pengangguran, khusus etnis China, selama ini belum saya dapatkan. Akan tetapi yang tampak sehari-hari, mereka memiliki kelebihan di bidang ekonomi. Kemiskinan di kalangan etnis China tidak terlalu tampak, bahkan yang kelihatan adalah justru sebaliknya.

Melihat kenyataan itu, saya pernah berbincang-bincang dengan anak-anak etnis China yang kebetulan saya temui. Dari perbincangan itu, saya memperoleh pemahaman bahwa, rupanya sejak usia dini, mereka selalu didoktrin di dalam menghadapi kehidupan masa depannya. Doktrin itu misalnya, bahwa bekerja adalah hidup dan tanpa bekerja mereka tidak akan bisa bertahan. Rupanya budaya kerja sudah ditanamkan di kalangan anak-anak etnis China sejak usia dini. Pengungkapan ini bukanlah sebagai sesuatu yang mengada-ada, tetapi pada kenyataannya, anak-anak pribumi memang tidak terlalu banyak diberi perhatian tentang budaya kerja ini.

Bahkan, disadari atau tidak, orang pribumi memiliki semboyan yang kurang mendorong budaya kerja. Semboyan itu misalnya berbunyi bahwa,: 'ada hari pasti ada nasi, ada ombak ada ikan. Sepanjang kaki bisa digerakkan dan tangan masih diayunkan, maka di sana terdapat rizki'. Demikian pula para sopir angkutan kota menambahkan bahwa : 'sepanjang roda bisa berputar maka api di dapur tidak akan padam'. Dan, masih banyak lagi kalimat-kalimat sejenis itu yang sebenarnya dapat melemahkan semangat untuk mendapatkan rizki lebih. Perasaan optimisme yang tidak terlalu menguntungkan ini sering terdengar di kalangan etnis anak-anak pribumi.

Suatu ketika, saya berbincang-bincang tentang persoalan pekerjaan dengan anak-anak muda etnis China. Lewat perbincangan itu, saya memperoleh kesan bahwa, mereka memang memiliki etos dan bahkan juga wawasan tentang kerja. Tatkala memilih jenis sekolah saja, mereka sudah mengkaitkan dengan pekerjaan di masa depan. Selain itu, mereka juga memiliki optimisme dan wawasan yang lebih jelas tentang berbagai jenis lapangan pekerjaan.

Mereka juga tahu tentang peta ekonomi yang bisa dikembangkan. Misalnya, agar sukses maka, mereka tidak mau menjadi pekerja atau buruh, kecuali hanya dimaksudkan sebatas untuk belajar. Mereka tidak bercita-cita menjadi b uruh, sebab mereka tahu bahwa tidak pernah ada buruh yang ekonominya berlebih, keculai buruh dalam pengertian tertentu yang menghasilkan upah besar. Mereka bisa menjelaskan dengan gamblang, bahwa lapangan pekerjaan itu sedemikian luas. Dikatakan bahwa, di semua jenis kebutuhan manusia pasti melahirkan lapangan pekerjaan.

Mereka memberikan contoh sederhana, misalnya bahwa kebutuhan gigi sehat saja akan membuka lapangan pekerjaan sedemikian banyak. Bahwa untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan dokter gigi, obat gigi, pasta gigi, kawat gigi, sikat gigi, hingga tusuk gigi, dan masih banyak lagi lainnya. Kebutuhan itu bisa dipenuhi dengan membuka pabrik, toko penjualan, mobil pengangkut bahan-bahan, dan sebagainya. Semua itu membuka lapangan pekerjaan baru. Secara lebih sederhana lagi, ia memberikan contoh lain, bahwa manusia dengan memiliki kuku saja akan mendatangkan rizki. Dengan kuku itu, manusia memerlukan gunting pemotong kuku, cat cuku, pelayanan perawatan kuku, dan lain-lain. Semua itu adalah lapangan pekerjaan.

Hal penting yang juga ditambahkan bahwa, pelayanan di mana dan kapan pun, menuntut kualitas yang semakin tinggi dan cara yang semakin mudah. Tanpa ada kemampuan menyesuaikan tuntutan kualitas itu, maka usahanya akan kalah bersaing. Selain itu, penguasaha harus jujur, kompetitif, dan mampu menyesuaikan dengan tuntutan masyarakat yang diayani. Oleh karena itu, siapapun yang mampu menangkap kebutuhan dan berhasil melayaninya, maka rezki akan datang dengan sendirinya. Dalam perbincangan itu, saya juga menjelaskan bahwa, Islam sebenarnya sangat relevan dengan konsep itu. Dalam kitab suci diajarkan bahwa, manusia harus memiliki ketajaman dalam membaca, sekaligus juga mencipta. Dua hal itu ternyata merupakan pintu sukses dalam hidup. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

Related posts