Direksi PLN Jangan Jual Aset

Tiga Tugas Penting Menunggu

Senin, 29/12/2014

NERACA

Jakarta - Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Perseo), Sofyan Basir, diingatkan agar tidak mengeluarkan kebijakan yang merugikan BUMN kelistrikan, salah satunya menjual aset. "Putusan pemerintah untuk memilih orang nomor satu PLN dari kalangan eksternal harus kita hargai. Namun, kami mengingatkan agar tidak mengeluarkan kebijakan yang menyebabkan aset PLN terjual," kata Pengamat Kelistrikan, Okky Setiawan di Jakarta, pekan lalu.

Dia juga memberikan apresiasi atas keputusan pemerintah memilih direksi dan komisaris PLN yang baru. Menurut Okky, pemerintah sudah mengakomodasi apa yang pernah menjadi masukannnya bahwa pemerintah harus melibatkan unsur Komisi Pemberantasan Korupsi dalam tubuh PLN. "Ini terbukti dengan masuknya Chandra Hamzah yang merupakan mantan pimpinan KPK sebagai Komisaris Utama," jelas Okky.

Selain itu, kata Okky, usulannya kepada pemerintah memberikan perhatian pada anak perusahaan PLN, PT Indonesia Power, juga diakomodasi dengan masuknya mantan Direktur Utama Indonesia Power, Supangkat Iwan Santoso sebagai Direktur PLN.

"Dengan masuknya Supangkat Iwan Santoso dalam jajaran direksi PLN, akan bisa lebih membantu membesarkan IP," katanya. Okky juga mengungkapkan sedikitnya tiga pekerjaan rumah yang penting yang harus dilakukan direktur utama baru.

Pertama, harus bisa mengusahakan lebih banyak gas dalam negeri untuk pembangkit listrik milik PLN. Jika ini bisa dilakukan, maka PLN akan mendapatkan nilai efisiensi yang sangat tinggi dari penurunan biaya bahan bakar.

"Selama ini gas di dalam negeri, seperti Natuna, justru diekspor untuk memenuhi kebutuhan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Ini tantangan PLN untuk bisa melobi pemerintah agar mendapatkan lebih banyak gas untuk pembangkit listrik," kata Okky.

Kedua, kata Okky, dirut harus berani mengubah mekanisme pembelian batu bara untuk pembangkit yang selama ini menggunakan mata uang dolar AS ke mata uang rupiah. "PLN selama ini membeli batu bara dengan dolar AS. Sementara harga jual listriknya dengan rupiah. Ini sangat memberatkan, terutama jika kurs rupiah melemah," terangnya.

Ketiga, kata dia, direktur utama PLN harus mendukung terealisasinya rencana "go public" PT Indonesia Power. Dengan demikian, kata Okky, Indonesia Power bisa lebih mandiri dan lebih mudah mendapatkan sumber pendanaan untuk membangun sejumlah pembangkit listrik.

Okky juga mengingatkan agar direksi PLN mewaspadai pinjaman dari luar. "Walaupun tenornya panjang dan bunga murah, itu bahaya karena pendapatan PLN dalam rupiah," tegasnya. Seperti diketahui, utang PLN sampai saat ini tercatat Rp470 triliun. [ardi]