Bea Cukai Upayakan Optimalisasi Penerimaan

Tahun Depan

Senin, 29/12/2014

NERACA

Jakarta - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mengaku akan mengupayakan optimalisasi penerimaan pada 2015. Meskipun target pendapatan dari sektor kepabeanan cukai masih dalam proses penyusunan di RAPBN-Perubahan 2014.

"Apa yang ditargetkan pemerintah, kami sanggup. Asalkan targetnya realistis dan terukur," kata Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Susiwijono, di Jakarta, pekan lalu.

Dia juga mengatakan, Ditjen Bea dan Cukai masih menargetkan penerimaan sesuai yang tercantum dalam dokumen APBN 2015. Namun, kata dia, andaikata terdapat penambahan jumlah target maka segala upaya intensifikasi maupun ekstensifikasi akan dilakukan.

"Contohnya, penerimaan cukai berdasarkan target APBN 2015 adalah sebesar Rp126 triliun. Kalau dinaikkan menjadi Rp140 triliun, maka ada beberapa instrumen yang perlu dipenuhi dan didiskusikan dengan para pelaku usaha. Karena kalau hanya 'baseline' kami cukup yakin tercapai," aku Susiwijono.

Dia menjelaskan salah satu target penerimaan yang bisa tercapai atau melampaui perkiraan adalah dari sektor cukai, karena tarif cukai rokok mengalami kenaikan pada 2015 dan produksinya cenderung meningkat setiap tahunnya.

Tarif cukai hasil tembakau naik sebesar 8,72% untuk sigaret kretek mesin, sigaret kretek tangan dan sigaret putih mesin, serta 10% secara proporsional untuk jenis hasil tembakau lainnya. Namun tarif cukai etil alkohol dan minuman mengandung etil alkohol tidak dinaikkan.

"Untuk tahun 2015, kalau kami perhitungkan dengan kenaikan cukai sebesar 1,2%, maka produksi rokok bisa mencapai 350 - 351 miliar batang. Kalau kenaikannya seperti tahun-tahun sebelumnya, kami berani menghitung produksi rokok mencapai 360 miliar batang," jelasnya.

Selain itu, Susiwijono menambahkan terdapat beberapa upaya baru yang dapat dilakukan, yaitu dengan menambah barang-barang yang berpotensi kena cukai atau pun bea keluar. Salah satunya komoditas tambang seperti batu bara.

"Dari wacana bea keluar batu bara, menurut kami potensinya bisa mencapai sekitar Rp21 triliun - Rp22 triliun. Tapi bukan berarti segera kita kenakan (bea keluar) karena prosesnya panjang. Kita harus membuat kajian dengan BKF (Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu) dan bertanya ke sektor pembinanya, yaitu Kementerian ESDM," ujar Susiwijono.

Bergantung eksternal

Namun, untuk penerimaan bea masuk dan bea keluar, Susiwijono memperkirakan pada 2015 masih belum terlalu menggembirakan. Hal itu karena sangat tergantung pada perekonomian global yang saat ini belum menunjukkan adanya pemulihan.

"Kami berharap tahun depan beberapa negara tujuan utama ekspor mulai 'recovery'. Karena kalau pertumbuhan global terkoreksi, pasti agak sulit kalau mengharapkan 'revenue' tinggi, terutama bea masuk dan bea keluar yang kondisinya berbeda dengan cukai," ujarnya.

Perlambatan ekonomi global menjadi salah satu penyebab tidak tercapainya realisasi penerimaan bea dan cukai 2014 yang diperkirakan pada akhir tahun hanya mencapai Rp161,3 triliun atau sekitar 92,8% dari target APBN-Perubahan 2014 yang sebesar Rp173,7 triliun.

Perkiraan pencapaian pada akhir tahun tersebut sangat kontras dengan kinerja pegawai bea dan cukai yang selama ini selalu memenuhi bahkan melampaui target, meskipun penerimaan cukai diprediksi masih bisa memenuhi ekspektasi.

Pendapatan cukai diperkirakan mampu memenuhi target dengan realisasi mencapai 100,6% pada akhir tahun 2014, namun penerimaan bea masuk diprediksi hanya mencapai 89,7% dan penerimaan bea keluar 54,4%. [ardi]