Kinerja Bursa Saham Kalah Dari India - Menjadi Tantangan BEI

NERACA

Jakarta – Menutup tahun 2014, performance kinerja bursa saham di Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan bursa saham Shanghai dan India dalam kapitalisasi saham dan indeks. Namun demikian, bursa saham Indonesia masih berkejaran dengan bursa lain di ASEAN.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito menuturkan, saat ini bursa saham dalam negeri dinilai masih kalah dibandingkan dengan bursa Shanghai dan India,”Tahun ini kita kalah sama Shanghai dan India, sama bursa lain kita masih kejar-kejaran, bedanya enggak banyak, kadang-kadang kita kalah, kadang kita unggul,”ujarnya di Jakarta, Selasa (23/12).

Meskipun demikian, Ito meyakini jika tahun depan bursa saham di Indonesia akan lebih unggul jika dibandingkan Shanghai dan India, serta negara-negara anggota ASEAN. Sekadar informasi, pada 2014 ini gerak IHSG diwarnai gejolak politik yakni dengan adanya pemilihan presiden (pilpres) serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kendati sedikit terguncang, kinerja IHSG masih dalam jalur yang aman.

Beberapa waktu belakangan ini, laju IHSG sempat terguncang dengan pelemahan rupiah, pernyataan yang dilontarkan oleh The Fed, sampai kondisi harga minyak mentah dunia yang terus bergerak menurun.

Tahun ini, target jumlah emiten baru juga meleset dari target sebesar 30 emiten baru dan hanya terealisasi baru 25 emiten. Kata Ito, kegagalan tersebut karena dinamika politik di dalam negeri pada tahun ini kurang kondusif.

Seperti diketahui, sebelumnya BEI menargetkan 30 perusahaan akan listing di papan bursa pada tahun ini, namun otoritas pasar modal mengoreksi target tersebut menjadi 25 perusahaan. Dia menjelaskan, di tahun ini terdapat 10 calon emiten yang menunda listing karena situasi politik yang kurang kondusif di semester II/2014,”Ini dimulai dengan pemilihan presiden (pilpres) yang sampai ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan situasi gaduh di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),”ujarnya.

Untuk diketahui terdapat dua perusahaan yang menunda untuk melantai di bursa pada tahun ini, yakni PT Archi Indonesia dan PT Karisma Aksara Mediatama, meski keduanya sudah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sementara pada tahun depan, BEI menargetkan pertumbuhan emiten baru sebanyak 32 perusahaan. Jumlah itu diturunkan dari target semula sebanyak 35 emiten.

Keputusan BEI memangkas target emiten tahun 2015 menuai kritik dari pelaku pasar dan termasuk dari Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Franciscus Welirang yang menilai, keputusan BEI memangkas target calon emiten adalah bukti BEI tidak confident atau tidak percaya diri.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi pasar yang menjanjikan dan sangat disayangkan bila keputusan untuk pangkas target calon emiten,”Ini gambaran jelas BEI tidak confident, padahal Indonesia tidak kecil dan memiliki wilayah yang luas seluas Eropa,”tandasnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Jaga Kondisi Pasar - OJK Hentikan Reksadana Investor Tunggal

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan sementara penerbitan produk baru reksa dana investor tunggal seiring cukup banyaknya jumlah…

Sikapi Kasus Pemalsuan Deposito - BTN Yakinkan Nasabah Kondisi Kinerja Masih Solid

NERACA Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyatakan perseroan dalam kondisi kinerja yang solid dengan performa perusahaan…

ADHI Catatkan Kontrak Baru Rp 6,8 Triliun

NERACA Jakarta – Sampai dengan Agustus 2019, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatatkan perolehan kontrak baru senilai Rp6,8 triliun.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Presiden Bakal Membuka Munas HIPMI Ke-XVI

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan akan membuka musyawarah nasional (Munas) Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda (BPP HIPMI)…

CEO Asia Aero Technology - Mengusung Hipmi 4.0 Agar Lebih Familiar

Jiwa muda dengan sederet perstasi adalah harapan pimpinan di masa mendatang, hal inilah yang menggambarkan Bagas Adhadirgha seorang Founder sekaligus CEO…

Jaga Kondisi Pasar - OJK Hentikan Reksadana Investor Tunggal

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan sementara penerbitan produk baru reksa dana investor tunggal seiring cukup banyaknya jumlah…