"Mengembangkan Industri Pariwisata Indonesia"

Sapta Nirwandar, Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Sabtu, 27/12/2014

Revolusi Mental yang diusung oleh Presiden Joko Widodo bersama jajaran Kabinet Kerja akan banyak menyentuh hal hal yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

NERACA

Jargon di atas tadi diharapkan tidak hanya mengusung sebuah perubahan secara normatif belaka, namun lebih kepada perubahan paradigma sumber daya manusia Indonesia seutuhnya. Dengan demikian industry pariwisata Indonesia akan dapat diperhitungkan.

Seperti sektor pariwisata misalnya, juga harus melakukan revolusi mental. Baik dalam berfikir, berbicara dan bertindak untuk menghasilkan karya terbaik, bermanfaat dan terasa dampaknya secara langsung oleh orang lain. Dan salah satu akar dari keberhasilan Revolusi Mental tersebut adalah majunya industri pariwisata Indonesia.

Menurut Sapta, semasa dirinya masih menjabat Wamenparekraf, hal itu selaras dengan makna logo Sapta Pesona dengan lambang Matahari yang bersinar sebanyak tujuh buah yang terdiri atas unsur Keamanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramahan, dan Kenangan.

“Tujuan terselenggaranya Program Sapta Pesona adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari,” kata dia.

Makanya, ketika dia masih mewakili pemerintah, di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, tidak henti-hentinya dia mensosialisasi dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya Sapta Pesona sebagai bagian dari program Sadar Wisata.

“Sebagai salah satu unsur Sapta Pesona, kebersihan adalah keharusan atau mutlak. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Di mana hal itu meliputi kebersihan diri dan kebersihan lingkungan,” papar Sapta, mempertegas.

Salah satu faktor yang mampu menarik minat wisatawan adalah salah satunya masalah kenyamanan. Dimana kebersihan juga ada di dalamnya. Bagi Sapta, kebersihan merupakan unsur terpenting dalam menarik wisatawan.

Lingkungan yang bersih tentu akan mempengaruhi kehidupan orang-orang di lingkungan tersebut. Sebagai sebagian dari iman, kebersihan membuat tubuh lebih sehat dan segar. Lingkungan yang bersih, kata dia, tentu harus diterapkan di lingkungan publik serta tempat wisata.

“Bersih itu cermin dari kenyamanan berwisata. Contoh seperti bandar udara dan hotel yang merupakan bagian dari wisata harus mempunyai lingkungan yang bersih. Mereka harus mempunyai standard operational procedure (SOP) dalam menjaga kebersihan lingkungannya. Teknis kebersihan sudah berstandard internasional seperti dalam membersihkan hotel. Hanya saja yang menjadi persoalan adalah hal ini dipraktikkan atau tidak,” ujar Sapta.

Dia juga menuturkan tempat wisata bakal dikenal dan dikenang oleh wisatawan soal fasilitas toiletnya dikarenakan identik dengan kebersihan. Toilet bersih di tempat wisata, harus memenuhi syarat-syarat yang berstandard internasional.

“Syarat yang paling penting dan utama adalah tersedianya air bersih. Toilet yang bersih juga harus dalam keadaan kering agar tidak banyak jamur dan bakteri yang berkembang. Berikutnya, toilet yang bersih di tempat wisata harus memiliki perlengkapan yang komplit,” jelas dia.

Belajar dari Korsel

Untuk mengembangkan pariwisata Indonesia, diperlukan gerakan bersama dari masyarakat dan pihak lain untuk gerakan bersih. Kemudian diperlukan adanya kerja sama oleh stakeholder yang terkait dalam pelayanan publik untuk kebersihan.

“Masyarakat, pemerintah, akademisi, bahkan ibu rumah tangga bisa melakukan gerakan bersih ini dengan sebaik-baiknya dan bisa meluas kepada lapisan dan elemen masyarakat,” kata dia.

Dia lalu mencontohkan pagelaran Asian Games di Korea Selatan beberapa waktu lalu, di mana sebelum dilaksanakan ajang olahraga terbesar se-Asia tersebut kebersihan tempat penyelenggaraan sangatlah kotor dan tidak layak.

Lalu, pemerintah dan masyarakat Korea Selatan melakukan gerakan bersih bersama sehingga mendapatkan hasil yang maksimal dalam upaya kebersihan di negara penyelengara Asian Games tersebut.

“Hal ini membuktikan bahwa apabila ada gerakan yang menyeluruh maka gerakan bersih akan bisa diikuti oleh pemerintahan, baik pusat maupun daerah. Kemudian adanya contoh yang baik dalam gerakan budaya bersih maka akan berdampak besar dalam upaya budaya bersih,” tandas dia.

Dia melanjutkan gerakan bersih bisa dimulai dari tempat-tempat strategis seperti tempat wisata dan layanan publik. Kesadaran masyarakat itu penting dan merubah budaya Inonesia untuk bersih.

Dirinya berharap agar Presiden Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla menerapkan clean government (pemerintahan yang bersih dan berwibawa). Tidak hanya sekadar bersih dalam konteks sehat saja. Dengan menjalankan pemerintahan yang bersih, tentu hal tersebut menjadi contoh yang baik bagi rakyat.

“Dengan pemerintahan bersih (clean government) dan bersih untuk kesehatan (clean for health) akan menjadikan pemerintahan mendatang dapat menjalankan pemerintahan dengan baik dan benar,” ujar dia.