Rusia Krisis, RI Ikut Terimbas - Gejolak Ekonomi

NERACA

Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan mengkhawatirkan negara-negara emerging market seperti Rusia mengalami gejolak perekonomian yang berdampak pada krisis. Pasalnya, jika hal tersebut terjadi, maka Indonesia yang juga sebagai negara emerging akan terkena imbasnya.

Kepala Eksekutif LPS, Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan, negara emerging market yang mengalami tekanan pada perekonomiannya seperti Rusia yang terpaksa menaikkan suku bunganya menjadi 17% sebagai arah kebijakan mengantisipasi pelemahan mata uang rubel dan harga minyak yang anjlok, serta sanksi ekonomi dari Barat yang mengancam terjadinya resesi ekonomi, akan berdampak pada negara emerging market lainnya.

“Sebenarnya yang lebih dikhawatirkan itu adalah kondisi negara emerging market lain seperti Rusia dan Brazil, jika mereka kolaps maka imbasnya itu ke negara emerging market lainnya seperti Indonesia. Pasti ini berpengaruh,” ujar Kartika di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut dia menilai, jika negara emerging market mengalami gejolak ekonomi, dikhawatirkan investor asing yang menaruh dananya di negara tersebut akan kabur dan memindahkan dananya ke negara yang lebih aman. “Seperti Rusia yang mengalami tekanan capital outflow. Ini yang ditakutkan investor enggan untuk menaruh dananya di negara-negara emerging market lainnya kaya Indonesia,” tukasnya.

Namun, meski defisit transaksi berjalan dan inflasi masih menghantui Indonesia, Tiko menegaskan, bahwa yang terpenting kondisi sistem keuangan nasional sampai saat ini masih cukup sehat. Sehingga para investor asing yang menaruh dananya di Indonesia hingga kini masih percaya dengan pasar Indonesia.

“Yang ditakutkan itu investor jadi berpikir ulang untuk menaruh dananya di negara emerging market dan ini dampaknya ke Indonesia. Akan tetapi investor sampai sekarang ini masih melihat lebih dulu situasi ekonomi Indonesia seperti apa,” ucapnya.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, menegaskan bahwa dalam merespon kenaikan suku bunga Bank Sentral Rusia, Bank Indonesia tidak selalu menggunakan instrumen menaikkan BI Rate. Meski hal tersebut sejalan dengan kondisi nilai tukar rupiah yang ikut anjlok terhadap dolar AS.

Dia menilai, kondisi ekonomi Rusia dengan Indonesia jauh berbeda, saat ini Indonesia hanya bermasalah pada pelemahan nilai tukar dan transaksi berjalan yang masih defisit.

“Perekonomian Rusia itu tertekan cukup dalam, makanya mereka menaikkan suku bungan. Secara spresifik masalah Rusia dengan Indonesia jauh berbeda. Pemerintahkan sudah berupaya untuk menekan defisit ini dengan pengetatan fiskal, dan terlihat bahwa defisit transaksi berjalan sudah turun, tahun ini bisa sampai 3% dari PDB,” tandasnya. [ardi]

BERITA TERKAIT

Kahmi Ikut Mengatasi Ketimpangan

  NERACA   Jakarta - Korps Alumni HMI (KAHMI) menegaskan untuk berjuang bagi ketimpangan kehidupan manusia di muka bumi. Tidak…

Pengusaha Optimistis Ekonomi Bakal Menggeliat - Pasca Teror Bom Surabaya

    NERACA   Surabaya - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Surabaya optimistis perekonomian Kota Pahlawan akan membaik pascateror…

Bekraf Gaet Tujuh Asosiasi Kembangkan Ekonomi Kreatif

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) nampaknya semakin serius untuk mengembangkan dan mendorong pelaku-pelaku ekonomi kreatif (Ekraf) yang ada di Indonesia. Kali…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pengembangan Industri Asuransi Perlu Modal Kuat

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan upaya pengembangan industri asuransi di Indonesia agar sehat…

OCBC NISP : Kenaikan Bunga Acuan Sudah Cukup

      NERACA   Jakarta - Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja menilai dosis kenaikan suku bunga acuan…

Defisit Transaksi Berjalan 2018 Diprediksi 2,3% dari PDB

  NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengungkapkan defisit transaksi berjalan sepanjang 2018 akan mencapai 23 miliar…