JDM 2014 Kampanyekan Tatalaksana Penderita Diabetes

Informasi Diabetes Terbatas

Sabtu, 27/12/2014

Jakarta Diabetes Meeting (JDM) yang tahun ini merupakan yang ke-23 kalinya diselenggarakan. Kali ini JDM 2014 untuk memberikan informasi pada masyarakat pentingnya penyederhanaan pada tatalaksana diabetes.

NERACA

JDM 2014 kali ini bertujuan, baik dokter umum maupun dokter spesialis dapat menatalaksana diabetes secara menyeluruh, namun tidak merasa rumit dengan pilihan pengobatan yang ada. Di sisi lain, ditekankan juga akan pentingnya individualisasi dalam diabetes serta kupasan mengenai problematika pengobatan diabetes setelah era Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS).

Dr.Dante S.Herbuwono, SpPD-KEMD, PhD, Ketua JDM 2014 mengatakan,JDM kali ini akan diikuti oleh sekitar ± 1000 peserta yang terdiri dari dokter umum, spesialis, konsultan endokrin, edukator diabetes, para pakar serta pemerhati diabetes. Beberapa topik yang diangkat adalah mitos dan kontroversi dalam tatalaksana diabetes, pertimbangan pemberian insulin yang mencakup biaya dan keefektifitas insulin, pemberian pada pasien rawat jalan, rawat inap dan pada pasien kritis serta hambatan dalam pemberian insulin.

“Hambatan dalam pemberian insulin dapat disebabkan faktor pasien, dokter, perawat atau sistem jaminan dan biaya harga. Kekhawatiran pasien terhadap efek samping insulin seperti hipoglikemia, pertambahan berat badan dan takut disuntik. Selain itu dimasyarakat banyak beredar rumor yang menakutkan tentang insulin seperti ketergantungan obat, menyebabkan kebutaan, dan rumor gangguan fungsi ginjal,” cetus Dr.Dante.

Sedangkan dilihat dari sisi dokter, keterbatasannya antara lain ketidak tahuan mengenai bagaimana menatalaksana diabetes, apalagi dengan komplikasi. banyak pasien yang tidak mendapatkan informasi yang cukup terhadap pengobatan yang dilakukan serta tingkat kepatuhan pasien yang tidak baik seringkali membuat diabetes tidak diobati secara optimal.

“Simposium dalam penatalaksanaan diabetes harus sering dilakukan untuk meningkatkan kemampuan profesional dibidang kedokteran termasuk inovasi dalam penatalaksanaan diabetes yang selalu diupdate tiap tahunnya. Kali ini JDM 2014 akan membahas tentang peran beberapa organ penting dalam pengendalian gula darah yaitu ginjal, usus, otot, lemakdan peranan penambahan insulin dari luar tubuh,”pungkasnya.

Diabetes merupakan penyakit kronis yang sebenarnya dapat dicegah munculnya. Penyakit ini timbul terkait perubahan hidup akibat modernisasi. Dengan melakukan modifikasi gaya hidup, dengan pengaturan makanan dan aktifitas fisik, diabetes dapat diperlambat atau ditunda kemunculannya. Bagi pasien yang sudah terkena diabetes perlu dilakukan upaya pencegahan komplikasi kronis dengan cara mengendalikan kadar gula darah semaksimal mungkin, mengendalikan tekanan darah, kolesterol, dan berat badan. Baik dengan edukasi pengendalian berat badan, perubahan gaya hidup, obat obatan sampai pemberian insulin diharapkan dapat mengendalikan gula darah.

Berdasarkan data dari International Diabetes Federation Edisi keenam tahun 2013, dikatakan bahwa penderita diabetes didunia sebanyak 382 juta orang dengan 46% diantaranya tidak terdiagnosa. Penderita di Asia Pacific terdapat 72 juta jiwa, dengan kemungkinan pada tahun 2035 terjadi peningkatan penderita diabetes sebesar 70.6%.

Sedangkan dr.Em Yunir, SpPD-KEMD, Kepala Divisi Endokrinologi Dept. Penyakit Dalam FKUI-RSCM mengatakan, saat ini diperlukan pendekatan individualisasi dalam tata laksana diabetes, dimana pasien harus dilihat secara perorangan dan semua tata laksana yang dilakukan harus disesuaikan dengan latar belakang kondisi masing-masing pasien, antara lain lamanya menderita diabetes, angka harapan hidup pasien, penyakit penyerta, komplikasi yang sudah muncul, kemampuan pasien untuk melakukan pengobatan, serta sistem jaminan kesehatan yang berlaku, sehingga tidak secara umum semua pasien diberikan obat yang sama.