Tower Bersama Siapkan Capex Rp 2 Triliun

Selasa, 23/12/2014

NERACA

Jakarta - Perusahaan menara telekomunikasi, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), menganggarkan Rp 2 triliun untuk belanja modal (capital expenditure/ capex) tahun 2015,”Dana belanja modal tersebut akan digunakan perseroan untuk membangun 1.500 hingga 2.000 unit tower untuk mendukung penambahan tennancy jumlah sewa perusahaan,”kata Direktur Keuangan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, Helmi Yusman Santoso di Jakarta, Senin (22/12).

Tercatat hingga sebelas bulan pertama tahun 2014, perusahaan memiliki 11.686 site komunikasi dan 18.800 tenant. Diperkirakan, untuk menambah satu tower diperlukan investasi sebesar Rp 1 miliar sampai Rp 1,1 miliar, sehingga jika dikalikan dengan rencana perseroan menambah 1.500-2.000 tower maka total investasi sebesar Rp 2 triliun.

Perusahaan juga masih mengkaji kemungkinan akuisisi menara telekomunikasi miliki salah satu operator Indonesia, PT XL Axiata (EXCL). Menurutnya, sekitar 10% capex tahun depan akan digunakan untuk menunjang pertumbuhan non organik perusahaan melalui akuisisi, untuk meningkatkan market share dari posisi saat ini sebesar Rp 44,8 triliun. Perusahaan telah mengakuisisi menara telekomunikasi PT Indosat Tbk pada 2011 lalu,”Kami tertarik untuk menawar menara PT XL Axiata kalau mereka mau jual, kebetulan kan mereka baru saja menjual 3.500 menara dan belum ada pengumuman baru," katanya.

Pendanaan capex menurut Helmi, masih bersumber dari dana internal perseroan dan peminjaman dari pihak luar masih dalam pengkajian perseroan,”Untuk PUB (obligasi) dari total Rp 4 triliun baru dirilis Rp 870 miliar, sisanya Rp 3,1 triliun masih bisa di gunakan satu tahun ke depan. Kami akan memilih opsi yang bunganya menarik,”ungkapnya.

Asal tahu saja, perusahaan masih memiliki pinjaman senilai Rp 1,3 triliun, ‎dan berencana menerbitkan obligasi global senilai maksimal US$ 5 juta. Selain itu, dalam rapat pemegang saham luar biasa menyetujui aksi korporasi perseroan untuk melakukan penukaran saham (share swap) ke PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk (TLKM).

Kata Helmy, pada tahap pertama, TBIG akan mengambil 49% saham PT Dayamitra Telekomunikasi atau Mitratel, dan TLKM akan menyerap 5,7% saham TBIG. Penyerapan saham TBIG oleh TLKM dilakukan dengan skema Penawaran Umum Terbatas (PUT) tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (non-HMETD) atau private placement,”Harga private placement sekitar Rp8.253 perlembar saham, saham yang diterbitkan 479 juta saham baru atau setara 10% modal ditempatkan atau disetor,”ujarnya.

Dengan demikian, private placement TBIG bernilai Rp3,95 triliun. Sebelumnya target proses tukar saham tahap satu ini dapat rampung sebelum 2014 berakhir. Namun aksi ini ternyata baru bisa terlaksana di kuartal I/2014,”Untuk penerbitan saham baru harus memenuhi persyaratan. Penerbitan setelah TBIG, TLKM, dan Mitratel telah menyelesaikan persyaratan tersebut. Ini juga termasuk (izin) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," jelasnya. (bani)