Pemerintah Masih Kaji, Pertamina Tunggu Perintah - Premium Dihapus

NERACA

Jakarta - PT Pertamina (Persero) siap menjalankan rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas apabila pemerintah sudah menyetujui usulan tim yang diketuai Faisal Basri yang merekomendasikan penghapusan bahan bakar Premium pada 2015.

Manajer Media Pertamina, Adiatma Sardjito mengatakan, saat ini perseroan sedang melakukan kajian secara komprehensif atas usulan Tim Reformasi Tata Kelola Migas. "Pada prinsipnya, kami akan mengikuti kebijakan pemerintah, itu lebih baik," ujarnya di Jakarta, Senin (22/12).

Lebih lanjut Adiatma mengemukakan, penerapan rekomendasi tersebut tentu ada konsekuensi yang harus diantisipasi, seperti kelebihan produksi Naptha yang menjadi material pokok yang akan diblending dengan Ron 92 sehingga menjadi Premium Ron 88. "Kalau mau diterapakan ada konsekuensi kelebihan Naptha," ungkap Aditama.

Selain itu, lanjut Adiatma, konsekuensi lain yang harus diantisapasi adalah pemenuhan High Octan Mogas Component (HOMC) untuk menaikan kadar oktan pada BBM. Karena itu, rekomendasi tersebut masih dalam kajian Pertamina.

"Apakah mencukupi HOMC untuk menaikan oktan, ini masih dikaji. Kita belum pernah lihat produk keteknikan, di mana blending kita beli dalam jumlah banyak, HOMC MTBE di pasar ada apa ngga? Lalu bagaimana aturannya?," ungkap dia, seraya mempertanyakan.

Sementara Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui sudah mendengar masukan dari Tim Reformasi Tata Kelola Migas. Menurut dia saat ini usul tersebut masih dikaji. “Saya kira itu usul baik," ujarnya di Kantor Wakil Presiden, di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, setidaknya ada dua alasan premium bisa dihapus dari peredaran. Pertama, saat ini tidak ada produsen yang memproduksi bahan bakar minyak dengan RON 88. Akibatnya, Pertamina harus mengimpor BBM RON 92 lalu mencampurnya dengan Naptha agar turun menjadi RON 88. "Ini yang menjadi susah," terangnya.

Kedua, lanjut Jusuf Kalla, adalah kualitas BBM dengan angka oktan yang lebih tinggi sudah sesuai dengan spesifikasi kebutuhan kendaraan bermotor. Saat ini, sebenarnya semua mobil memang mensyaratkan penggunaan BBM dengan RON 92 atau sekelas Pertamax agar pembakaran mesinnya lebih sempurna.

Sedangkan Presiden Konfederasi Serikat Pekerta Migas Indonesia (KSPMI), Faisal Yusra mengatakan, penghapusan Premium RON 88 jika dilakukan tanpa bertahap, sangat berpontensi "menghancurkan" bisnis BBM Pertamina. "Penghapusan RON 88 tanpa dilakukan secara bertahap , sama pula dengan Pemerintah memberi angin dan memberi peluang bisnis ke pihak asing. Karena itu rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas harus dikaji lebih dalam dan secara bijak oleh Pemerintah," ujarnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Masuk Musim Hujan, Harga Komoditas Sayuran Merangkak Naik - Kabid Diskopdagrin Kota Sukabumi: Kenaikan Masih Dalam Batas Kewajaran

Masuk Musim Hujan, Harga Komoditas Sayuran Merangkak Naik Kabid Diskopdagrin Kota Sukabumi: Kenaikan Masih Dalam Batas Kewajaran NERACA Sukabumi -…

Pemerintah Dukung IoT Untuk Kemajuan Industri - Laboratorium IoT XL Terlengkap

NERACA Jakarta - Pemerintah mendukung operator telekomunikasi membentuk Internet of Things (IoT) sebagai salah satu solusi untuk mendukung kemajuan sektor…

SDM Jadi Perhatian Pemerintah - Alokasi Anggaran untuk Pendidikan dan Kesehatan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah akan memperhatikan secara serius kualitas sumber…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pertamina EP dan Chemindo Inti Usaha Jalin Kerjasama - Pemanfaatan CO2

        NERACA   Jakarta - PT Pertamina EP dan PT Chemindo Inti Usaha bersepakat menjalin kerja sama…

Pemerintah Siapkan Rekayasa Urai Kepadatan Tol Cikampek

    NERACA   Bekasi - Pemerintah menyiapkan manajemen rekayasa untuk mengurai kepadatan Tol Jakarta-Cikampek. Hal itu seperti dikatakan Direktur…

Bangun 5 Tower, Arandra Residence Sukses Jual 1 Tower

    NERACA   Jakarta – Gama Land sukses menjual tower 1 dari 5 tower Arandra Residence yang direncanakan. Senior…