Krisis Rusia, Indonesia Harus Manfaatkan Situasi

Perdagangan Internasional

Selasa, 23/12/2014

NERACA

Jakarta – Krisis yang melanda Rusia sehingga menyebabkan melemahnya mata uang Rusia yaitu Rubel, harusnya bisa dimanfaatkan oleh Indonesia salah satunya dengan meningkatkan ekspor ke negeri beruang putih. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil di Jakarta, kemarin.

Memang, berdasarkan catatan dari Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia dengan Rusia tahun 2013 senilai US$ 3,52 miliar dengan nilai ekspor sebesar US$ 903 juta dan impor US$ 2,59 miliar. Sehingga mencatatkan neraca perdagangan Indonesia dengan kedua negara besar tersebut masih bernilai defisit bagi Indonesia.

Namun Sofyan menyatakan kondisi ini harus dimanfaatkan dengan mengekspor produk buatan lokal ke pasar Rusia, terutama produk-produk pertanian dan perkebunan semisal minyak kelapa sawit. “Oleh karena itu, kita harus dorong perusahaan Indonesia itu supaya lebih banyak masuk ke Rusia, kan kita harus berpikir jangka menengah dan panjang. Industri kita itu makin berkembang nanti dan tentu harus memperluas pasar,” kata dia.

Soal neraca perdagangan yang masih defisit dengan Rusia, hal itu juga menjadi tantangan karena dengan melemahnya Rubel maka impor dari Rusia menjadi mahal. “Saya pikir itu lebih masalah internal Rusia, memang dengan melemahnya Rubel ini menyebabkan impor mereka menjadi lebih mahal, itu tantangan bagi Indonesia, karena Rubel melemah cukup signifikan,” ujar Sofyan.

Sofyan menambahkan pemerintah Rusia berjanji memberikan kemudahan jika perusahaan Indonesia ingin menanamkan modalnya di negara yang dulu bernama Uni Soviet. “Mereka mengatakan kalau investor Indonesia mau investasi, tentu saja mereka welcome,” ucapnya.

Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi dan Presiden Vladimir Putin melakukan pertemuan di Beijing, China. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin sepakat mematok target angka perdagangan RI-Rusia menjadi US$ 5 miliar atau sekitar Rp 60 triliun di 2015.

Presiden Jokowi meminta agar Rusia berinvestasi di bidang transportasi dan energi. “Dalam hubungan Indonesia-Rusia yang sudah baik ini saya mengajak untuk lebih ditingkatkan lagi dan saling mengisi dan saling percaya. Kita juga mengajak Rusia untuk investasi di Indonesia untuk bidang-bidang energi, power plant, railway, irigasi, pangan dan manufaktur,” kata Jokowi.

Presiden Putin di awal pembicaraan menegaskan komitmennya. “Rusia dan Indonesia memiliki hubungan kemitraan. Ikatan kerjasama kita didasarkan pada persahabatan yang sudah berlangsung lama dan memiliki sejarah yang kaya. Kita memiliki dialog politik yang baik dan ekonomi kita berkembang,” ujar Putin.

Ia pun menyatakan dukungan atas tawaran Jokowi. “Ada sedikit kekurangan dalam perkembangan kita dari segi ekonomi. Tapi saya berpikir bahwa kekurangan ini dalam banyak hal disebabkan karena perkembangan ekonomi dunia secara menyeluruh dan saya harapkan dalam pertemuan ini, kita bisa membahas bagaimana kita bisa memperbaiki kekurangan tersebut,” kata Putin.

Pemerintah Indonesia dan Federasi Rusia telah menjadi mitra strategis sejak 21 April 2003 dengan ditandatanganinya sebuah dokumen di Moskow. Sejak itu, kedua negara menjalin kerja sama di bidang ekonomi, perdagangan dan investasi. Termasuk di bidang alat-alat berat dan pabrikasi peralatan komunikasi berbasis satelit serta kerjasama pengembangan sistem keamanan dan teknologi informasi, serta perhubungan.

Data terakhir menunjukkan, nilai perdagangan antara RI dan Rusia terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Jika pada 2010 nilainya US$ 1,68 miliar, maka di tahun 2011 naik menjadi US$ 2,54 miliar. Kemudian 2012 naik menjadi US$ 3,37 miliar, dan 2013 menjadi US$ 3,52 miliar. Kesepakatan yang diambil Jokowi dan Putin, angka tersebut bakal digenjot menjadi US$ 5 miliar di tahun 2015. Salah satu investasi dari Rusia adalah pembangunan di bidang smelter aluminium senilai sekitar US$ 1 miliar.

Kerjasama Strategis

Sementara itu, Ketua DPD Irman Gusman yang juga menerima kunjungan dari Dewan Federasi Majelis Federal Rusia yang dipimpin Valentina Ivanovna Matvienko, mengatakan bahwa menyatakan elemen penting dalam kemajuan Indonesia adalah menguatnya hubungan dengan negara lain, “Khususnya dengan Rusia,” kata Irman.

Irman mengajak Rusia terlibat dalam pembangunan kawasan. Menurutnya, kebijakan "melihat ke timur" yang dijalankan Rusia sejalan dengan perkembangan strategis di kawasan Asia Pasifik. “Apalagi saat ini Asia Pasifik menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi dunia,” kata Irman.

Sedangkan Valentina Matvienko mengatakan, kedatangannya ke Indonesia merupakan balasan atas kunjungan Ketua DPD ke Rusia. Dia berharap, kerja sama antara Rusia dan Indonesia semakin kokoh. "Pertemuan dua pemimpin di ajang APEC akan meningkatkan kerja sama dua negara," kata Valentina.

Dalam bidang infrastruktur, Indonesia dan Rusia berencana membangun jalur rel kereta api di Kalimantan. Valentina mengatakan Pemerintah Rusia berencana untuk menyediakan beasiswa untuk para mahasiswa Indonesia yang akan bekerja pada proyek ini. Salah satu perusahaan besar Rusia, Rusal, juga berniat membangun pabrik alumunium di Indonesia. "Semoga kerja sama ini dapat terus ditingkatkan," kata Valentina.