Berau Sibuk Cari Pendanaan US$ 340 Juta - Rencanakan Lunasi Utang

NERACA

Jakarta – Perusahaan tambang PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) tengah mencari pendanaan sekitar US$ 340 juta untuk membayar utang (refinancing) obligasi senilai US$ 450 juta yang jatuh tempo pada Juli 2015. Disebutkan, dari total dana yang dibutuhkan sebesar US$ 450 juta, sebesar US$ 100 juta akan dipenuhi dari penerbitan saham baru (right issue) senilai US$ 100 juta oleh Asia Resources Mineral (ARM) Plc, pemegang 85% saham Berau Coal Energy Tbk yang tercatat di bursa saham London.

Sementara US$ 10 juta berasal dari pengalihan dana penawaran umum saham perdana (Initial public offering/IPO) Berau Coal Energy Tbk,”Salah satu agenda rapat umum pemegang saham tadi adalah persetujuan perubahan dana IPO itu," kata Direktur Utama Berau Coal Energy, Amir Sambodo di Jakarta, Senin (22/12).

Awalnya, Berau Coal akan menerbitkan obligasi valas senilai maksimal US$ 450 juta pada Agustus 2014 lalu untuk refinancing surat utang senior bernilai US$ 450 juta diterbitkan oleh Berau Capital Resources Pte Ltd akan jatuh tempo 8 Juli 2015. Namun aksi korporasi yang telah disetujui pemegang saham tersebut batal karena kondisi pasar yang kurang mendukung. Pembatalan surat utang tersebut membuat Berau harus mencari strategi lain untuk melunasi utang obligas yang jatuh tempo tahun depan.

Amir mengatakan, Nathaniel Rotschild pemegang saham terbesar kedua di ARM dengan kepemilikan 17,5% telah mengusulkan kepada jajaran direksi ARM Plc untuk menerbitkan saham baru senilai US$ 100 juta. Nantinya, dana tersebut akan digunakan untuk membayar utang obligasi Berau Coal Energy Tbk.

Namun Amir belum mau menyebutkan waktu right issue di level induk usaha tersebut. Dia juga tidak menjelaskan lebih lanjut mekanisme transfer dana dari induk usaha ke perseroan jika right issue direalisasikan. "Mekanismenya apakah cash (tunai), atau dalam bentuk saham, itu yang belum dibicarakan. Yang jelas right issue sebelum Juli 2015," kata Amir.

Amir juga mengungkapkan, perseroan tengah mencari sumber pendanaan lain untuk menutupi sisa kekurangan sekitar US$ 340 juta. Opsinya bisa menerbitkan obligasi dan pinjaman perbankan. Sementara hingga Septeber 2014, kas dan setara kas perseroan tercatat sekitar US$ 200 juta. "Di tengah kondisi harga batu bara yang tengah melemah, kami tidak akan menyia-nyiakan dengan membakar uang kas untuk membayar utang," kata Amir.

Target Produksi

Direktur Berau Coal Energy, Arief Wiedhartono mengatakan, Berau adalah produsen batu bara terbesar kelima di Indonesia dengan produksi 24 juta metrik ton tahun ini. "Pada 2015, perseroan menargetkan produksi 27 juta ton," kata Arief.

Dia mengatakan, kontribusi tahun depan berasal dari tambang Binungan dan Sambarata di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur karena kandungan kalori kedua tambang itu tinggi dengan sulfur rendah. "Kami akan mencari pembeli dengan margin tinggi," kata dia.

Perseroan kata dia, akan membangun jalan dan jembatan di tambang Binungan dan Sambarata. Langkah ekspansi ini untuk mengkompensasi stagnannya tambang Lati,”Binungan akan ditambah dari saat ini 9 juta ton menjadi 15 juta ton, sementara Sambarata akan dijaga pada kisraan 5,5 juta ton. Sementara Lati bukannya ditutup, tapi cadangan yang ada didiamkan dulu, dan peralatannya dipindahkan sementara ke Sambarata dan Binungan," kata dia.

Tahun depan, perseroan menargetkan bisa melakukan penghematan sebesar 10 juta atau Rp125 miliar (kurs Rp12.500). Karena itu, perusahaan tambang batu bara ini akan menerapkan strategi penghematan energi dalam mengantisipasi penurunan harga batu bara.

Kata Amir Sambodo mengatakan, ada tiga strategi yang akan dilakukan perusahaan untuk program penghematan tersebut,”Penghematan biaya untuk biaya penambangan adalah strategi utama kami. Optimisasi biaya dan optimisasi penambangan, fokus maksimalisasi nilai tiap pit dengan optimisasi urutan penambangan. Sebelumnya fokus ke volume karena harga baik, sekarang per pit,”ungkapnya. (bani)

Related posts