Fundamental Ekonomi Diklaim Tetap Baik

Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 23/12/2014

NERACA

Jakarta - Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat beberapa pekan ini dinilai tidak sesuai dengan fundamental ekonomi domestik. Maka dari itu, Bank Indonesia perlu mengintensifkan intervensi untuk mengawal stabilitas fluktuasi nilai tukar rupiah.

“Secara fundamental, tidak ada alasan rupiah tertekan begitu besar,” terang Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Juda Agung di Jakarta, Jumat (19/12), pekan lalu. Dia juga mengungkapkan, depresiasi nilai tukar rupiah tersebut lebih disebabkan oleh penguatan dolar AS terhadap seluruh mata uang.

“Sekali lagi. Secara fundamental ekonomi kita baik. Inflasi memang tinggi bulan Desember ini tetapi akan kembali membaik pada tahun depan,” klaimnya. Menurut Juda, intervensi yang dilakukan BI tidak mengarahkan rupiah untuk menuju level tertentu, namun lebih kepada menjaga nilai tukar agar sejalan dengan fundamental yang ada.

“Tidak ada mengarahkan ke level berapa. Kami men-smoothing out supaya tidak gonjang-ganjing rupiahnya dan kita (Bank Indonesia) selalu ada di pasar,” ucapnya. Lebih lanjut Juda mengaku bahwa sejauh ini sebagian besar kalangan pengamat maupun pelaku industri merasa optimis kalau perekonomian Indonesia tahun depan akan lebih baik bila dibandingkan dengan tahun ini. Terlebih, program pengembangan infrastruktur akan direalisasikan di tahun yang sama.

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia mengaku khawatir lantaran pelemahan rupiah kali ini dinilai berlangsung cepat. "Pelemahan ini cukup cepat. Jadi memang kami (pengusaha) cukup khawatir kalau Bank Indonesia tidak secara intensif mengelola pelemahan rupiah ini dengan baik," kata Hariyadi B Sukamdani, Ketua Umum Apindo, baru-baru ini.

Meski mengakui bahwa naik turunnya nilai rupiah merupakan sebuah siklus yang selalu terjadi setiap Desember dan akhir Juni. Namun bila nilai rupiah menembus di angka Rp13 ribu per dolar AS, maka pemerintah diminta sigap melakukan operasi moneter guna menstabilkan nilai rupiah.

"Pasalnya saat ini banyak perusahaan yang memiliki jatuh tempo utang valas pada akhir tahun. Walaupun sebagian sudah melakukan hedging untuk melindungi utang valasnya," papar Hariyadi, yang meyakini fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup baik.

Menurut dia nilai rupiah yang tidak stabil ini akan memberatkan perusahaan yang masih melakukan impor bahan baku. Namun, sebaliknya menguntungkan perusahaan yang melakukan eksport, karena pendapatannya dalam mata uang dolar AS.

Upaya kongkret?

Tidak hanya berdampak pada sektor usaha, namun penurunan ini tentunya akan berdampak luas terhadap masyarakat, juga pemerintah, karena saat ini pemerintah sedang menanggung beban utang luar negeri yang harus dibayar dengan dolar AS, bukan rupiah. Apa upaya kongkret pemerintah menggenjot ekspor barang jadi hingga neraca perdagangan positif dan cadangan devisa terus menggelembung.

Jika pemerintah acap menyembunyikan setiap progres kebijakannya, dikhawatirkan ketidakpercayaan masyarakat akan menurun. Kini saatnya pemerintah bergerak menuruti hati nurani rakyat, bukan hati nurani kaum mafia atau spekulan, atau hati nurani tukang suap. Bukan pula berlomba mencari kambing hitam.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tidak berkaitan dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat. "Kita optimis ekonomi kita lebih kuat dari sebelumnya," katanya di Jakarta.

Menurut dia, pelemahan rupiah terjadi bukan karena keadaan ekonomi Indonesia yang memburuk. Pelemahan ini dikarenakan positifnya perekonomian AS yang membuat mata uangnya pun menguat, sehingga dampak pelemahannya terjadi kepada semua mata uang di negara mana pun.

"Tidak ada hubungan (pelemahan ini) dengan ekonomi Indonesia. Berita baiknya adalah rupiah melemah dibandingkan ringgit Malaysia, yen Jepang, rubel Rusia dan dolar Australia. Tapi dengan won Korea kita lebih baik,” klaim Jusuf Kalla. [ardi]