DJPB Akan Bikin Kelompok Pakan Mandiri

Perikanan Budidaya

Senin, 22/12/2014

NERACA

Aceh - Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mendorong terciptanya kelompok pakan mandiri. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi pakan perikanan budidaya yang lebih banyak diimpor, terlebih dengan nilai tukar rupiah yang cenderung melemah sehingga membuat harga pakan ikan semakin melonjak.

"Keinginan kita bukan hanya membuat kelompok-kelompok budidaya saja, namun juga kedepannya kita akan bikin kelompok pakan mandiri," ungkap Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto saat mengunjungi Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee, Aceh Besar, akhir pekan kemarin.

Pihaknya, lanjut Slamet, terus mencari solusi untuk mengurangi ketergantungan pakan ikan terhadap bahan baku impor salah satunya tepung ikan. "Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee telah melakukan inovasi dengan menggunakan rumput laut Caulerpa sebagai pengganti tepung ikan. Hasilnya, penggunaan caulerpa mampu mengurangi penggunaan tepung ikan hingga mencapai 20 % dengan hasil pertumbuhan ikan yang sama," ucapnya.

Ke depan, kata dia, pihaknya akan terus dorong Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup DJPB untuk terus melakukan terobosan dalam mencari bahan baku subtitusi tepung ikan sehingga mampu mendukung Gerakan Kemandirian Pakan Ikan ini.

Slamet mengatakan pakan merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam proses produksi perikanan budidaya, baik dari segi kualitas maupun harga. Untuk pakan, komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ikan adalah 70 – 80 % dari total biaya produksi. “Salah satu cara untuk menurunkan biaya produksi yang berasal dari pakan adalah menurunkan harga pakan tersebut. Dan sesuai arahan Menteri Kelautan dan Perikanan, saat ini adalah waktunya kita untuk melaksanakan Gerakan Kemandirian Pakan Ikan," jelasnya.

Slamet menambahkan bahwa melalui Gerakan Kemandirian Pakan Ikan ini, artinya kita harus mulai memproduksi pakan dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari bahan baku local atau menggunakan subtitusi bahan baku pakan yang dapat di produksi secara massal oleh masyarakat lokal.

"Sebagai contoh adalah penggunaan Azolla sp, salah satu tanaman air yang mudah tumbuh dan dibudidayakan. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa Azolla memiliki kandungan protein 21 – 23 %, sehingga memiliki peluang untuk digunakan sebagai subtitusi pakan ikan," ucapnya.

Sebagai contoh, kata dia, usaha budidaya ikan yang dilakukan oleh Kelompok Usaha Maju Bersama di Desa Lambong, Banda Aceh, yang di pimpin oleh Bpk. Mahdi A. Samma. Budidaya ikan disini, baik itu Nila, Lele maupun Gurame, menggunakan Azolla sebagai pakan pengganti dan mampu mengurangi penggunaan pakan buatan," tambah Slamet.

Slamet juga menuturkan bahwa dengan menggunakan Azolla, biaya produksi yang berasal dari pakan yang semula mengambil porsi hampir 70 % berhasil ditekan menjadi hanya 30 %. “Apabila di hitung, maka dengan menggunakan Azolla biaya produksinya hanya Rp4.500 dan ini memberikan selisih dengan harga jual yang cukup tinggi sehingga memberikan keuntungan yang relative besar. Disamping itu Azolla juga mudah dan murah untuk dibudidayakan, bahkan bisa mencapai 30 kali lipat per hari, sehingga sangat cocok untuk mendukung usaha budidaya ikan yang mendukung ketahanan pangan seperti budidaya nila, lele, dan gurame," tutur Slamet.

Dalam pemanfaatan lahan, budidaya lele di lahan rawa dengan sistem tumpangsari lele dan Azolla juga memberikan hasil yang cukup menggembirakan. "Pemanfaatan lahan rawa untuk budidaya lele dengan didukung penggunakan Azolla sebagai pakan tambahan, mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat, khususnya di Desa Lambong Banda Aceh ini," ungkap Slamet.