Waspadai Kemerosotan Nilai Rupiah

Oleh: Jenni Sara, S. Pendidik, pemerhati ekonomi, sosial dan politik di Kota Medan

Senin, 22/12/2014

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus terperosok ke level Rp 12.400-an per dolar AS. Mata uang mata uang rupiah bahkan turun 1,1 persen menjadi 12.596 per dollar AS di pasar spot, dan sempat menembus 13.000. Nilai itu merupakan level terendah sejak November 2008. Selalu ada dua sudut pandang untuk membicarakan pelemahan rupiah, sikap pembenaran yang menganggapnya wajar dan sikap yang mengkhawatirkan keterpurukan rupiah. Bank Indonesia masih menganggap wajar penurunan rupiah yang melemah di kisaran Rp 12.300 per dolar AS.

Bank Indonesia juga memastikan akan tetap berada di pasar dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar agar sesuai dengan fundamental ekonomi domestik. Yen melemah 16%, ringgit Malaysia melemah 6% sampai 7%. Jadi, hal yang wajar kalau rupiah melemah sekitar 2%, demikian penjelasan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara.

Sebaliknya, sebagian kalangan lain menilai penurunan rupiah mencerminkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Disebutkan, rupiah saat ini adalah mata uang dengan nilai terendah nomor empat dari 180 negara. Kemerosotan nilai tukar rupiah disinyalir sebagai bukti ketiadaan kemampuan mempertahankan stabilitas mata uang. Artinya, kepercayaan terhadap manajemen makroekonomi pemerintahan menurun.

Dua sudut pandang itu memiliki kebenaran masingmasing. Memang ada banyak faktor yang mendorong penurunan mata uang rupiah. Salah satunya adalah penghentian stimulus keuangan Bank Sentral Amerika yang sudah berlangsung enam tahun. Saat stimulus 85 miliar dolar AS ke pasar keuangan Amerika itu dihentikan, sudah diprediksi dampak penguatan dolar AS.

Efek stimulus itu sampai ke seluruh dunia termasuk Indonesia, karena itu ketika stimulus dicabut pada Oktober lalu, peringatan bagi pemerintah sudah disuarakan. Tidak terlepas pula faktor spekulasi. Faktor inilah yang tampaknya sangat terkait dengan situasi politik dan dinamika ekonomi-politik. Penurunan rupiah pun dikaitkan dengan kekecewaan pasar terhadap kinerja kabinet pemerintah yang belum terlihat merealisasikan janji-janjinya.

Pasar memang menaruh harapan tinggi pada pemerintah. Padahal, ekspetasi yang tinggi atau terlalu tinggi sangat mudah berbalik menjadi kekecewaan ketika faktor riil berbicara. Apapun itu, stabilitas nilai tukar rupiah harus menjadi perhatian utamapemerintah. Pelemahan rupiah terjadi sejak 2013 hingga 2014 dan diprediksi akan berlanjut pada 2015. Tidaklah bijak menghibur diri dengan angka persentase bahwa rupiah ”hanya” merosot 2 persen sementara yen anjlok 16 persen karena kekuatan masing-masing berbeda. Pemerintah harus segera merumuskan strategi struktural untuk mencegah rupiah makin loyo.

Masa Lalu

Berkaca pada masa lalu, mata uang RI itu mencapai titik nadir sejak sejak November 2008 saat menyentuh tingkat 12.400-an. Dibandingkan dengan Mei 2013, sebelum pengumuman pengurangan stimulus di AS, rupiah telah terdepresiasi lebih dari 26 persen. Rupiah mengalami posisi terkuat pada 2011, yaitu 8.400-an. Saat itu, pertumbuhan ekonomi mencapai puncak, yakni 6,5 persen. Neraca perdagangan konsisten surplus dalam jumlah cukup besar, tertinggi pada Agustus 2011 senilai 3,5 miliar dollar AS. Itulah masa kejayaan ekonomi kita selama 10 tahun terakhir. Selanjutnya, memasuki triwulan II-2012, neraca perdagangan mulai defisit dan berlanjut hingga hari ini.

Pertumbuhan ekonomi juga terus terkoreksi. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan 5,1 persen, terburuk dalam lima tahun terakhir. Namun, di tengah suramnya data ekonomi, indikator pasar modal justru terus menanjak menuju rekor demi rekor tertinggi, hingga berada pada level 5.200-an akibat derasnya modal asing masuk. Pada 2008, indeks harga saham gabungan (IHSG) masih pada kisaran 2.500.

Dengan demikian, bisa dikatakan ketika perekonomian domestik merosot, antara lain ditandai dengan defisit neraca perdagangan dan penurunan pertumbuhan ekonomi, justru kebergantungan kita pada likuiditas dan modal asing justru meningkat. Ini tecermin dari melambungnya IHSG hingga lebih dari dua kali lipat posisi pada 2008.

Pada fenomena seperti ini, pelemahan nilai tukar berarti, untuk setiap likuiditas asing yang masuk, kita harus ”membayar” lebih mahal. Nilai dan daya tawar perekonomian domestik kian merosot terhadap negara lain. Bahkan, berdasarkan data The Richest yang menunjukkan 15 mata uang dengan nilai tukar yang paling rendah terhadap dollar AS, mata uang RI termasuk di dalamnya. Menurut The Riches, Indonesia menempati posisi keempat sebagai negara dengan nilai mata uang terendah di dunia atau mata uang sampah. Majalah The Economist menyebutkan masalah Indonesia adalah infrastruktur yang jelek, pemerintahan yang birokratis dan korupsi yang menggurita.

Sangat Rendah

Kondisi inilah yang membuat nilai tukar rupiah sangat rendah terhadap dollar AS yang menjadi mata uang utama dunia. Adapun negara dengan mata uang sampah nomor 1 di dunia adalah Iran dengan mata uang rial, diikuti Vietnam dengan mata uang dong, dan mata uang dobra dari Sao Tome yang menempati posisi kedua dan ketiga.

Mengenai kinerja rupiah, akhir-akhir ini pelemahan mata uang RI itu terjadi secara intensif. Alasannya bukan karena inflasi November tinggi, sebesar 1,5 persen, sehingga mendorong inflasi tahunan menjadi 6,3 persen setelah kenaikan harga premium dansolarsekitar 30 persen. Jika dibandingkan dengan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebelumnya, kali ini relatif ringan. Kenaikan harga BBM pada 2005 telah mendorong inflasi 17 persen. Kenaikan harga BBM sebesar 33 persen pada 2008 mendorong inflasi tahunan menjadi 11 persen. Kenaikan harga BBM 44 persen tahun lalu mendorong inflasi menjadi 8,3 persen.

Nilai tukar merosot lebih disebabkan data neraca perdagangan Oktober yang hanya surplus 23,2 juta dollar AS. Padahal, ekspektasinya, surplus perdagangan bisa jauh lebih besar setelah kenaikan harga BBM. Pasalnya, seperlima dari total impor kita berupa produk minyak. Produk minyak dan gas menguasai hampir 45 persen impor bahan baku. Padahal, impor bahan baku merupakan 75 persen total impor. Akibatnya, kenaikan harga BBM pun tidak serta-merta menurunkan impor minyak.

Pada prinsipnya, rupiah bereaksi negatif karena relaksasi defisit transaksi berjalan belum terjadi. Defisit transaksi berjalan merupakan salah satu pekerjaan rumah paling penting bagi pemerintah dalam enam bulan ke depan. Jika tak ada tanda-tanda perbaikan, bisa dipastikan nilai tukar tak kunjung menguat.

Bahkan, pelemahan bisa berlanjut terkait dengan kenaikan suku bunga Amerika Serikat sekitar triwulan II-2015. Diperkirakan, mata uang RI bisa terus tertekan hingga mencapai level 14.000-15.000 rupiah pada tahun depan, atau kembali menuju level terendah yang terjadi pada krisis 1998.

Sebenarnya, di balik depresiasi rupiah itu ada berkah yang bisa diperoleh. Menteri Keuangan Bambang S Brodjonegoro mengemukakan pelemahan rupiah seharusnya menjadi momentum bagi pelaku industri manufaktur nasional untuk menggenjot ekspor. Namun sayang, saat ini sektor manufaktur Indonesia tidak berada dalam kondisi yang baik. Padahal, melemahnya rupiah akan membuat produk manufaktur Indonesia bisa kompetitif di pasar ekspor.(analisadaily.com)