Peluang Pasar Tekstil Dunia Masih Terbuka Lebar

Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung Wisuda 288 Lulusan

Senin, 22/12/2014

NERACA

Bandung – Pembangunan industri nasional memerlukan dukungan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten khususnya tenaga kerja sektor industri. Hal ini diamanatkan dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian dan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pembangunan Sumber Daya Industri yang menyebutkan perlunya pembangunan tenaga kerja industri yang kompeten, salah satunya melalui Pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi.

Demikian disampaikan Menteri Perindustrian dalam sambutannya yang dibacakan Sekjen Kemenperin Ansari Bukhari pada acara Wisuda Lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung, Sabtu (20/12), dikutip dari keterangan resmi, pekan lalu.

Pada kesempatan tersebut, sebanyak 288 lulusan STTT Bandung diwisuda, yang terdiri dari 206 lulusan program Diploma IV, 52 lulusan program Diploma I, dan 30 lulusan program Diploma III Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) IKM. “Saya mengucapkan selamat dan apresiasi kepada lulusan STTT Bandung yang saat wisuda ini telah mencapai 75% bekerja pada perusahaan industri. Saya percaya lulusan STTT Bandung memiliki serapan yang tinggi dan diharapkan dalam waktu tiga bulan ke depan seluruh lulusan telah terserap bekerja di perusahaan industri,” tegas Sekjen Kemenperin.

Dapat disampaikan, unit pendidikan di lingkungan Kementerian Perindustrian telah dipersiapkan untuk menyelenggarakan pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi, termasuk STTT Bandung, yang memiliki kompetensi dan spesialisasi di bidang teknologi tekstil dan produk tekstil, dilengkapi dengan teaching factory, serta telah memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan Tempat Uji Kompetensi (TUK) untuk melakukan sertifikasi kompetensi terhadap lulusannya

Saat ini, STTT Bandung merupakan satu-satunya Perguruan Tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan vokasi di bidang teknologi tekstil dan produk tekstil dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri tekstil di Indonesia. “Sebagaimana kita ketahui, Industri TPT merupakan salah satu komoditi andalan industri dikarenakan kontribusinya yang sangat signifikan, tidak saja dalam perolehan devisa ekspor dan penyerapan tenaga kerja, tetapi juga dalam pemenuhan kebutuhan sandang dalam negeri,” tegas Sekjen Kemenperin.

Prospek pertumbuhan Industri TPT ke depan juga semakin baik dikarenakan permintaan pasar di dalam negeri yang terus meningkat serta meningkatnya konsumsi dunia. Pangsa pasar industri tekstil Indonesia saat ini sekitar 2% dari pasar tekstil dunia, sehingga peluang untuk memperluas pasar industri tekstil di pasar dunia masih sangat besar. Oleh karena itu, peningkatan daya saing merupakan kata kunci yang harus diperhatikan agar industri tekstil nasional dapat terus meningkatkan eksistensi baik di pasar domestik maupun internasional.

Di samping itu, seiring dengan meningkatnya kinerja industri TPT, terjadi pula peningkatan kebutuhan tenaga kerjanya, tidak hanya pada tingkat operator tetapi juga untuk tingkat ahli D1, D2, D3, dan D4. Hal ini tercermin dari data permintaan tenaga kerja tingkat ahli ke Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) di lingkungan Kementerian Perindustrian, yang setiap tahunnya mencapai 500 orang sementara STTT Bandung hanya mampu meluluskan sekitar 300 orang per tahun.

Untuk itu, Pusdiklat Industri Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan perusahaan tekstil dan asosiasi pertekstilan Indonesia telah menyelenggarakan beberapa program pendidikan Diploma 1 dan Diploma 2 bidang tekstil serta diklat tekstil dan garmen dengan sistem three in one (pelatihan-sertifikasi-penempatan) yang seluruh lulusannya ditempatkan bekerja pada perusahaan industri TPT.

Dengan mengacu pada UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, saat ini seluruh Sekolah Tinggi dan Akademi di lingkungan Kementerian Perindustrian akan dikembangkan menjadi politeknik, termasuk STTT Bandung sehingga ke depan STTT Bandung tidak hanya menyelenggarakan program Diploma IV, tetapi juga dapat terus mengembangkan program pendidikannya sampai dengan program magister terapan dan doktor terapan.

Mengenai proses perubahan menjadi politeknik tersebut, Sekjen Kemenperin berharap agar STTT Bandung dapat mempersiapkan diri dengan baik, diantaranya terkait dengan tenaga pengajar (dosen), kurikulum, sarana prasarana, aspek organisasi dan kelembagaan, serta menyusun Grand Design Pengembangan Politeknik STTT Bandung untuk 5 – 10 tahun ke depan.

Selanjutnya Sekjen Kemenperin juga berharap kepada para lulusan yang telah diwisuda dapat terus mengaplikasikan dan mengembangkan pengetahuan, kemampuan dan kompetensinya di dunia kerja serta selalu membina kerjasama (teamwork) dan jejaring (networking) baik antar sesama alumni maupun dengan insan-insan industri.