Serbuan Bisnis Sido Muncul Untuk Go Global

Agresif Membuka Pasar Ekspor

Senin, 22/12/2014

NERACA

Jakarta – Tidak mau dicap sebagai pemain yang jago kandang, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) sebagai produsen jamu dan obat herbal berencana memperkokoh pasar pemasaran di kawasan Asia dengan terus membuka pasar ekspor. Hal ini juga bagian dari strategi perseroan menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat mengatakan, meraih potensi pasar di Asia pada pasar bebas MEA, perseroan terus menggenjot ekspansi bisnis yang ada setelah sukses mengakuisisi perusahaan farmasi,”Saat ini kami terus meningkatkan penjajakan pemasaran berorientasi ekspor ke berbagai negara, terutama di Asia Tenggara,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dirinya mengungkapkan, akhir tahun ini perseroan fokus jajaki Thailand, Vietnam dan Myanmar. Saat ini, perseroan telah mengekspor sejumlah produknya ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Australia, Korea, Nigeria, Algeria, Hong Kong, Amerika Serikat, Saudi Arabia, Rusia hingga Mongolia,”Kami juga sedang menjajaki Jepang, agar semakin meluaskan pasar,”kata Irwan.

Disebutkannya, dari 250 jenis hasil produksi SIDO, pihaknya terus mengupayakan perluasan pasar yang dimotori brand product Tolak Angin. Adapun produk ini memiliki potensi bisnis yang besar dan bisa diterima oleh seluruh negara. "Karena, umumnya penyakit itu pasti dibarengi dengan sakit karena masuk angin," papar Irwan.

Dia pun optimis, produk pengobatan yang memiliki kandungan jamu bisa diterima berbagai kalangan, ketimbang obat-obatan berbahan kimiawi. Menuturkan, Indonesia memiliki kekhasan tersendiri untuk produk jamu, sementara potensi pasarnya ada di setiap negara.

Selain itu, perseroan akan menerapkan strategi bisnis terkait peningkatan daya saing di tataran global melalui peningkatan alokasi anggaran di bidang riset dan edukasi konsumen,”Memperbesar anggaran riset menjadi jurus kami untuk dapat bersaing dengan produsen di luar (negeri) yang memiliki produk sejensi," jelas Irwan.

Kata Irwan, dirinya menyakini perseroan bisa bersaing dengan competitor pada pasar bebas MEA 2015, sejalan dengan eksistensi perseroan yang mampu bertahan hingga 63 tahun. Pada tahun 2014, Sido Muncul menargetkan pendapatan sebanyak Rp 2,8 triliun. Pada paruh pertama tahun 2014, perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp325,36 miliar. Dengan kata lain, SIDO sudah berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih lebih tinggi 86,75% dibanding periode serupa tahun lalu sebesar Rp 174,22 miliar.

Komitmen Sido Muncul berbisnis jamu tidak hanya sekedar mencari keuntungan, namun misi untuk mengenalkan jamu sebagai minuman sehat dari Indonesia. Hal ini sangat beralasan karena Malaysia sudah mengklaim jamu sebagai minuman kesehatan dari negeri jiran tersebut.

Meski tidak menjiplak jamu tradisional Indonesia baik bahan baku dan ramuan, namun Malaysia memakai kata jamu untuk mewakili jenis minuman kesehatan mereka,”Yang dipermasalahkan itu kata jamunya. Jamu kan dari kata Jampi Usodo, dari bahasa Jawa yang artinya ramuan kesehatan," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Berbasis Budaya, Putri Kusumawardhani.

Putri memaparkan, Malaysia punya minuman tradisional untuk kesehatan yang biasa disebut obat kampung. Namun ramuan yang digunakan obat kampung milik Malaysia sama seperti ramuan herbal dari Tiongkok. (bani)