Karakter Ekonomi Indonesia

Sejumlah petinggi pemerintah umumnya menggunakan alasan perlambatan ekonomi global sebagai salah satu faktor pembentukan karakter ekonomi Indonesia, terutama krisis ekonomi yang menimpa Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa yang amat berpengaruh pada ekspor dan impor Indonesia serta pemulihan ekonomi umumnya.

Belum lama pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla mengendalikan negeri ini, sejumlah indikator ekonomi yang sebagian memberikan indikasi yang cukup memprihatinkan. Lembaga keuangan internasional Bank Dunia dan IMF juga memprediksi pertumbuhan ekonomi tidak lebih 5,2% pada tahun depan.

Beberapa indikator pelemahan ekonomi Indonesia mulai terlihat seperti defisit transaksi berjalan yang masih tercatat US$6,8 miliar hingga triwulan III-2014 dan defisit perdagangan Indonesia Januari-Oktober 2014 masih tercatat US$1,64 miliar, depresiasi nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 12.500 per US$ (lebih tinggi dari asumsi APBN-P 2014) serta pertumbuhan ekonomi nasional yang masih ditopang 70% konsumsi domestikkebangkitan sektor riil pun mulai tampak, seperti meningkatnya konsumsi rumah tangga, mulai menghadapi dilema terkait pelemahan ekonomi di sejumlah negara mitra Indonesia seperti Tiongkok, Jepang dan Eropa.

Meskpun begitu, karena investasi—yang ditandai dengan pembentukan modal tetap bruto atau PMTB—masih kecil dan komponen impor masih besar, dengan adanya peningkatan konsumsi di atas, tetap saja belum bisa dikatakan telah terjadi pemulihan sektor riil yang berkualitas.

Kondisi ekonomi Indonesia memang belum menggembirakan. Ketika periode 2010-2012 ekonomi Indonesia rata-rata tumbuh sekitar 6% per tahun saja, itu belum mampu menyerap pertambahan angkatan kerja 2 juta per tahun. Kenapa? Kontributor utama pertumbuhan ekonomi 2010-2012 hingga sekarang masih didominasi sektor konsumsi (70%).

Kinerja ekspor yang sebenarnya belum menggembirakan karena tekanan impor minyak juga cukup besar (20,4%) pada akhirnya memunculkan defisit perdagangan maupun defisit transaksi berjalan, yang terasa masih sulit diatasi dalam 2-3 tahun mendatang. Kondisi demikian umumnya disebut sebagai pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas karena indikator ekonomi makro tidak membawa implikasi yang besar bagi ekonomi mikro dan bisnis sebagai salah satu sinyal menggeliatnya sektor riil.

Pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh Indonesia saat ini mengindikasikan tidak adanya peningkatan kualitas terutama dari aspek manusianya. Hal ini ditunjukan dari besarnya pekerja sektor informal. Berdasarkan data laporan statistik ketenagakerjaan BPS menunjukan bahwa 60% tenaga kerja yang saat ini terserap bekerja di sektor informal.

Rendahnya penyerapan tenaga kerja di sektor formal secara umum tentunya cukup menghawatirkan. Sebab itu berarti bahwa penambahan lapangan kerja yang tersedia saat ini masih Mencermati hubungan pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran, selama ini persoalan pengangguran lebih banyak dilihat dari kurangnya lapangan kerja yang tersedia. Karenanya, dengan cara pandang seperti ini adalah tidak salah apabila kemudian peningkatan investasi dilihat sebagai salah satu solusi yang harus dilakukan. Melihat berbagai kebijakannya, nampaknya hal seperti inilah yang juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini.

Tapi, apabila kemudian hal ini dikaitkan dengan persoalan akses, maka argumentasi bahwa pengangguran bisa diselesaikan dengan hanya meningkatkan investasi rasanya menjadi perlu untuk dipertanyakan lagi. Pada kenyataanya, salah satu pertimbangan investasi terutama di bidang industri adalah soal peningkatan produktivitas.

Dalam hal ini salah satunya tentu adalah produktivitas atas tenaga kerja yang digunakan. Krisis ekonomi Asia sejak dekade 1990 sebenarnya telah menunjukan kepada kita bagaimana produktivitas begitu penting dalam kaitannya dengan daya saing. Sebab pada dasarnya produktivitas adalah dasar dari daya saing itu sendiri.

Bagaimanapun, soal produktivitas ini, kita melihat melihat apa yang menjadi argumentasi Michael E Porter, pakar manajemen, bahwa saat ini keunggulan kompetitif menjadi hal yang sangat penting ketimbang keunggulan komparatif. Jika hal ini diterapkan pada industri, maka masalahnya sekarang adalah bagaimana unit-unit usaha dapat bekerja secara lebih produktif serta efisien. Sehingga diharapkan produk yang dihasilkannya mampu berkompetisi di pasar global. Semoga!

Related posts