Prospek Rupiah 2015

Senin, 22/12/2014

Oleh: Prof. Firmanzah., PhD

Guru Besar Fakultas Ekonomi UI

Jelang berakhirnya tahun 2014, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu sempat mengalami guncangan. Menjelang rapat The Fed yang dilakukan pada 16-17 Desember 2014, kurs rupiah terhadap dollar AS terdepresiasi dan mendekati Rp12.900. Kekhawatiran bahwa The Fed segera menaikkan suku bunga acuan membuat capital-outflow terjadi tidak hanya di Indonesia tetapi di sejumlah negara berkembang dan emerging lainnya. Misalnya, menurut Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kemenkeu tercatat per 17/12/14, dana asing di SUN tersisa sebesar Rp. 463,05 triliun. Jumlah ini turun dari posisi 08/12/14 yang mencapai angka Rp. 475,86 triliun.

Meski nilai tukar rupiah kembali menguat di kisaran Rp. 12.500-an pada posisi 18-19 Desember 2014 pasca ditundanya pengumuman kenaikan suku bunga acuan The Fed, situasi ini memunculkan kekhawatiran baru terkait prospek nilai tukar Rupiah sepanjang tahun 2015. Kekhawatiran ini sangat beralasan mengingat The Fed cepat atau lambat dipastikan akan menyesuiakan suku bunga acuan pasca dihentikannya kebijakan non-konvensional pembelian aset dan surat berharga untuk menambah likuiditas di pasar keuangan. Selain itu juga sejumlah indikator seperti inflasi, penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi di AS semakin menguatkan penyesuaian suku bunga akan dilakukan pada 2015.

Sebenarnya saat ini merupakan saat yang tepat untuk menguatkan nilai tukar rupiah mendekati posisi ideal menurut Bank Indonesia yaitu posisi Rp11.900-Rp12.300/US$. Sehingga kita memiliki ruang penyesuaian apabila The Fed, misalkan, menyesuaikan suku bunga acuan pada kuartal I-2015. Namun apabila nilai tukar rupiah sampai jelang disesuaikannya suku bunga acuan The Fed tidak mengalami apresiasi maka kekhawtiran banyak kalangan rupiah melampui Rp. 13.000/US$ akan dapat terjadi. Meski dipastikan BI akan menyesuaikan kembali BI Rate apabila The Fed menyesuaikan suku bunga acuan, namun risiko terdepresiasinya rupiah dalam kisaran Rp 13.000 sangat mungkin terjadi. Skenario ini juga tidak hanya berlaku bagi Indonesia, tetapi hampir setiap negara berkembang dan emerging sedang merumuskan setiap kemungkinan yang dapat terjadi ketika The Fed memutuskan disesuaikan suku bunga acuan mereka.

Mengingat efek multiplier yang tidak kecil dan sederhana terhadap skenario ini baik dari sisi moneter maupun sektor riil, maka otoritas moneter-fiskal dan sektor riil perlu menguatkan koordinasi dan komunikasi kebijakan. Kita tentunya berharap dan optimis bahwa pengalaman Indonesia menghadapi guncangan eksternal seperti yang terjadi pada 2008 merupakan modal berharga untuk menghadapi kondisi saat ini. Fundamental ekonomi perlu terus kita jaga dan perkuat agar setiap guncangan eksternal yang terjadi dapat kita mitigasi. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah segera merumuskan dan menentukan policy-responses yang tepat dan terukur agar kebijakan yang ditempuh tidak menciptkan masalah baru bagi perekonomian nasional.