Garuda Masih Diselamatkan Harga Avtur

Dampak Pelemahan Rupiah

Senin, 22/12/2014

NERACA

Jakarta – Anjloknya nilai tukar rupiah hingga nyaris tembus Rp 13.000 per dollar AS menjadi kepanikan bagi pelaku pasar sehingga membawa aura negatif terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Keoknya nilai tukar rupiah juga menjadi ancaman bagi emiten terhadap kinerja keuangan, khususnya yang memiliki utang dalam bentuk dollar AS dan termasuk biaya operasional yang menggunakan dollar AS, seperti yang dialami PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Arif Wibowo mengakui, pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terkahir ini memberikan imbas yang berarti terhadap kinerja keuangan perseroan. Namun kabar positifnya, beban keuangan maskapai plat merah ini terbantu dari turunnya harga avtur,”Ya, jadi memang ada dua hal di penghujung 2014, rupiah melemah sampai nyaris menyentuh Rp13.000 per dollar AS. Tapi, kita masih melihat ada opportunity di avtur," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, harga avtur yang turun drastis mendekati 60 sen per liter sangat menguntungkan bagi perseroan yang tidak berlipat ganda terhadap beban operasional Garuda Indonesia. Kendati demikian, Arif tidak memungkiri pelemahan rupiah turut memukul perseroan. Sebab, 78% dari ongkos operasional Garuda dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Dia menjelaskan, bisnis maskapai penerbangan saat ini menghadapi situasi yang sangat menekan. Namun hal ini menjadi tantangan bagi perseroan, seperti turbulence dalam pesawat. Dirinya berharap, keuntungan dari turunnya harga avtur hilang karena harga dollar AS yang terus naik,”Mudah-mudahan sih dolarnya jangan terus menerus naik, mudah-mudahan segera stabil tahun depan,”tuturnya.

Analis PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada pernah bilang, pelemahan rupiah dalam jangka panjang bisa berdampak negatif terutama biaya operasional emiten yang menggunakan dolar. Selain itu, emiten memiliki utang berdenominasi dolar AS yang besar juga terbebani karena nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar,”Sektor transportasi seperti Garuda Indonesia Tbk kena dampaknya. Ada juga Samudera Indonesia,”ujarnya

Reza menambahkan, saat ini sektor tambang dan perkebunan juga kena imbas karena rupiah melemah. Padahal menurut Reza, bila rupiah melemah akan untungkan sektor saham tambang dan perkebunan. Namun lonjakan dolar Amerika Serikat, hal itu berpengaruh ke pasar komoditas karena pelaku pasar cenderung memilih mata uang. "Pasar komoditas juga ikut pelemahan," kata Reza.

Hal senada dikatakan Kepala Riset PT Universal Broker Securites, Satrio Utomo. Menurut dia, pelemahan rupiah akan menambah beban utang emiten yang banyak berdenominasi dolar. VP Corporate Communication PT Garuda Indonesia Tbk, Pudjobroto menuturkan, biaya operasional di industri penerbangan sekitar 70% dalam dolar. Dengan nilai tukar rupiah merosot terhadap dolar maka menjadi tantangan bagi perseroan,”Setiap pelemahan Rp 100 maka biaya operasional bisa naik sekitar US$ 12,8 juta," kata Pudjobroto. (bani)