Mudik dan Uang Tunai

NERACA. Tak dipungkiri, aktifitas Ramadhan dengan lebaran memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat pedesaan. Bagaimana tidak, berjuta pemudik pulang kampung dan menggelontorkan miliaran rupiah dalam jangka waktu yang hanya beberapa hari. Memberikan efek dinamika ekonomi yang membantu perekonomian daerah.

Sebuah sumber menyebutkan, bahwa diprediksikan belanja makanan dan minuman selama lebaran dapat mencapai Rp 70 triliun, ini belum termasuk belanja pakaian, perabot dan lainnya.

Bagi sebagian orang yang masih punya keluarga diluar kota, mudik menjadi sebuah keharusan. Tak peduli sepenuh apa pun penumpang bus, kereta atau pesawat, tidak peduli semacet apa pun jalur pantai utara Jawa, mudik tetap dilakukan.

Cerita suka maupun duka selama mudik pun terus diutarakan sepanjang satu, dua bulan mendatang. Termasuk kesiapan uang tunai selama mudik berlangsung. Membawa uang tunai ketika mudik memang tak dapat dihindari. Tanpa uang tunai, pemudik akan kesulitan melakukan berbagai transaksi selama perjalanannya.

Dan bukan hanya dalam perjalanan, uang tunai pun digunakan selama berada dikampung halaman. Mulai dari biaya hidup hingga keinginan memberi uang kepada sanak saudara.

Kesiapan dana segar sudah diantisipasi Bank Indonesia. Seperti yang dilakukan Bank Indonesia Batam-Riau yang meminta agar seluruh bank umum yang beroperasi di kota industri tetap buka saat Idul Fitri 1432 Hijriah.

Deputi Bidang Sistem Pembayaran dan Manajemen Perbankan BI Batam, Johnson Pasaribu, di Batam mengatakan, bila perusahaan-perusahaan yang menanamkan modal di Batam membutuhkan pelayanan transaksi di Hari Lebaran, sehingga BI menganjurkan bank tetap beroperasi. ”Kami anjurkan buka selama libur Lebaran untuk melayani transaksi keuangan dari perusahaan, misalnya Pertamina,” jelas Johnson.

Pembelian bahan bakar minyak dari perusahaan-perusahaan industri dan stasiun pengisian bahan bakar umum dilakukan setiap hari, dengan transaksi keuangan rutin setiap hari sehingga membutuhkan layanan bank umum. Selain itu, BI juga menganjurkan bank umum tetap melayani kebutuhan nasabah selain kliring dan Real Time Gross Settlement (RTGS).

Dalam salah satu laporan, Bank Indonesia menyampaikan bahwa penukaran uang receh sampai menjelang akhir lebaran mencapai Rp 77 triliun, lebih besar dari prediksi BI sekitar Rp 61,36 triliun. Ini memang luar biasa, karena untuk urusan receh puluhan triliun harus diglontorkan BI. Dapat dibayangkan jika urusan bukan sekadar uang receh untuk melengkapi hari kemenangan bagi sebagain orang. Pasti angkanya fantastis.

Related posts