Cara Sederhana Melakukan Perubahan Di Masyarakat

Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Jumat, 19/12/2014
Sekedar mengggerakkan orang ternyata bukan pekerjaan mudah. Jangan dikira bahwa hanya dengan diberi pengertian melalui ceramah, dialog atau diskusi, orang lantas segera mengerjakan apa yang telah dipahami itu. Mungkin saja mereka mengerti apa yang dimasudkan dan bersemangat mengerjakan, tetapi belum tentu mereka sanggup memulai, dan mengerjakan apa yang dimaui.

Upaya-upaya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat telah lama dilakukan, baik oleh pemerintah maupun oleh swadaya masyarakat. Akan tetapi hasilnya tidak selalu memuaskan. Mereka sudah diberi modal, ketrampilan, pendampingan, dan lain-lain, tetapi ternyata juga tidak berhasil. Kemiskinan dari dulu hingga sekarang masih menjadi tema pembicaraan aktual. Sehingga artinya, upaya-upaya pemberantasan kemiskinan bukan menjadi pekerjaan mudah.

Semua orang tidak mau tetap menjadi miskin, sebaliknya mereka ingin kaya. Tetapi mengubah mental miskin menjadi bermental kaya juga tidak mudah. Para tukang becak, tukang parkir, buruh tani, dan pekerjaan lainnya sejenis itu, diketahui oleh siapapun tidak akan bisa mengatarkan seseorang menjadi kaya. Akan tetapi, umpama mereka diajak untuk mengubah pekerjaannya ke pekerjaan lain yang lebih menguntungkan, juga belum tentu mau. Mereka sudah merasa tenang dengan jenis pekerjaannya itu.

Sulitnnya melakukan perubahan tidak saja terhadap masyarakat bawah sebagaimana dikemukakan di muka, melainkan juga terhadap komunitas yang berpendidikan tinggi sekalipun. Sebagai contoh, banyak lembaga yang dikelola dan dipimpin oleh orang yang berpendidikan tinggi, tetapi juga tidak maju. Keadaannya dari tahun ke tahun tetap. Alasannya, mereka tidak memiliki dana yang cukup. Oleh karena itu, sulitnya melakukan perubahan bukan saja didominasi kelompok tertentu, melainkan oleh semua kalangan.

Menurut hemat saya perubahan itu harus dimulai dari mengubah jiwa atau mindsetnya dan kemudian diberi contoh tentang keberhasilan. Terkait dengan hal itu, saya pernah memiliki pengalaman menarik. Suatu ketika, saya diajak berbicara oleh Menteri Agama tentang pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Pak Menteri Agama rupanya berkeinginan agar lembaga pendidikan tinggi Islam menjadi semakin maju, tetapi beliau belum tahu dari mana memulai perubahan itu.

Mendengarkan penjelasan Pak Menteri tersebut, saya memberanikan diri untuk menyampaikan pendapat, bahwa perubahan itu tidak cukup ditempuh melalui diskusi-diskusi, tetapi lebih dari itu harus disempurnakan melalui contoh nyata. Saya meyakinkan Pak Menteri Agama lewat contoh-contoh yang pernah saya lihat. Misalnya, saya pernah melihat apa yang terjadi di Pasuruan, yaitu dalam keberhasilannya mengembangkan industri meubel. Saya membayangkan bahwa dahulu, di kota itu terdapat hanya satu atau dua orang yang menjadi pengusaha mebel dan sukses. Keberhasilan pengusaha mebel itu kemudian ditiru atau dicontoh oleh tetangganya dan kemudian sukses pula. Akhirnya, usaha itu meluas dan kemudian sekarang ini dikenal, Pasuruan sebagai kota meubel.

Kasus yang hampir sama adalah tentang keberhasilan Kabupaten Mojokerto dalam mengembangkan usaha ternak bebek. Semula, hanya ada beberapa orang pengusaha bebek, dan kemudian berhasil hingga menjadi kaya. Maka keberhasilan itu ditiru oleh para tetangganya, hingga akhirnya, Kabupaten Mojokerta dikenal sebagai penghasil telor dan bebek hingga sekarang ini. Hal serupa adalah terjadi di Blitar, terkait keberhasilan usaha ternak gurami. Sebagai akibat dari beberapa orang yang sukses dalam budidaya gurami, maka selanjutnya ditiru oleh para tetangganya hingga meluas. Akhirnya sekarang ini ketika menyebut Kabupaten Blitar, orang akan teringat dengan ternak ikan gurami itu.

Melalui contoh sederhana itu maka dapat disimpulkan bahwa, kata kunci dalam usaha melakukan perubahan adalah memberi contoh sukses. Oleh karena itu kiranya, manakala pemerintah, dalam hal ini kementerian agama, membuat beberapa contoh pendidikan Islam yang maju, maka akan segera ditiru oleh yang lain. Dalam kehidupan ini, banyak orang lebih mudah diajak meniru daripada diajak berpikir atau menciptakan sendiri. Berdiskusi panjang kiranya perlu, akan tetapi manakala tidak disempurnakan dengan contoh, maka usaha untuk melakukan perubahan, tidak terkecuali usaha peningkatan kualitas pendidikan tinggi Islam, tidak akan terlaksana.

Sebagai contoh pula, tatkala STAIN Malang berubah menjadi UIN Malang dan berhail, maka segera STAIN dan IAIN lainnya ingin berubah juga menjadi bentuk Universitas Islam Negeri atau UIN. Oleh karena itu, sekali lagi bahwa, cara murah dan strategis di dalam melakukan perubahan adalah melalui contoh itu. Tanpa contoh nyata, maka perubahan masih akan sulit diharapkan. Dan anehnya, hal demikian itu, tidak saja dialami oleh masyarakat tingkat bawah, tetapi juga oleh semua kalangan, tidak terkecuali oleh kalangan perguruan tinggi sekalipun. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)