Insentif Jadi Andalan Dongkrak Kinerja Ekspor

Jumat, 19/12/2014

NERACA

Jakarta – Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, pemerintah akan mengoptimalkan insentif berupa kemudahan pajak bagi kalangan industri guna mendorong peningkatan ekspor. "Tidak harus fiskal. Insentif itu macam-macam, perizinan segala macam. Intinya, industri-industri yang diperkirakan bisa mendorong ekspor, memanfaatkan momentum rupiah yang akan didorong, diberikan insentif," kata Bambang kepada wartawan usai rapat terbatas di Kantor Presiden Jakarta, Rabu, dikutip dari Antara, Kamis.

Salah satu insentif yang akan dioptimalkan oleh pemerintah adalah kemudahan pajak (tax allowance-red). Menurut Menkeu, produk yang akan didorong untuk ekspor adalah produk-produk manufaktur bukan komoditas.

"Manufaktur di manapun kalau mata uangnya mengalami depresiasi itu akan meningkat daya saingnya karena jual dia akan lebih murah secara relatif, tidak masalah dia impor (sebagian bahan baku-red), 'kan tidak mungkin 100 persen impor. Ketika menjual permintaannya meningkat," katanya.

Dengan kebijakan yang ada, kata Bambang, pemerintah mengharapkan "tax allowance" dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong peningkatan ekspor. Pemerintah akan mengoptimalkan insentif kemudahan pajak bagi kalangan industri untuk mendorong peningkatan ekspor.

"Kita intinya insentif itu tidak harus fiskal, insentif itu macam-macam, perizinan segala macam. Intinya, industri-industri yang diperkirakan bisa mendorong ekspor, memanfaatkan momentum rupiah ini yang akan didorong diberikan insentif," kata Menteri Keuangan.

Salah satu insentif yang akan dioptimalkan oleh pemerintah adalah kemudahan pajak (tax allowance-red). Menurut Menkeu, produk yang akan didorong untuk ekspor adalah produk-produk manufaktur bukan komoditas.

"Manufaktur di mana pun kalau mata uangnya mengalami depresiasi itu akan meningkat (daya saingnya,red) competitiveness nya karena jual dia akan lebih murah secara relatif, tidak masalah dia impor (sebagian bahan baku-red), kan tidak mungkin 100 persen impor, ketika menjual permintaannya meningkat," paparnya.

Di pihak lain, Indonesia melalui Kementerian Perdagangan mendorong peningkatan ekspor ke Oman guna mempertahankan keberlanjutan misi dagang yang menguntungkan bagi dua negara. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Partogi Pangaribuan dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu, mengatakan pihaknya yakin dengan hubungan diplomasi yang terjadi sejak 1978, kedua negara bisa menjalin hubungan ekonomi yang lebih baik lagi dan saling menguntungkan.

"Kita harapkan hubungan perdagangan bisa ditingkatkan volumenya. Kita tukar barang apa yang ada di Indonesia dan Oman. Kita saling meningkatkan perdagangan dan investasi dalam rangka peningkatan ekspor 300 persen dalam lima tahun," katanya.

Partogi menuturkan, hubungan antara Indonesia dan Oman bagaikan saudara. Pasalnya, selain sama-sama negara dengan penduduk mayoritas muslim, kedua negara juga sama-sama berpenduduk ramah dan menghargai produk negara lain.

Total neraca perdagangan Indonesia-Oman terus mengalami tren peningkatan dalam lima tahun terakhir. Nilai total perdagangan antara kedua negara tercatat mencapai 400 juta dolar AS pada 2013.

Indonesia sempat mengalami surplus pada periode 2008-2010, meski kemudian mengalami penurunan pada periode 2011-2012. Mulai Januari hingga September 2014, tercatat adanya surplus perdagangan dengan Oman, yakni sekitar 200 juta dolar AS.

Sementara itu, pemerintah optimistis kondisi perekonomian nasional pada 2015 akan lebih baik antara lain dengan perbaikan fiskal dan juga peningkatan ekspor nasional. "Kita optimistis ekonomi Indonesia akan lebih kuat," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam keterangan persnya di Kantor Presiden Jakarta, Rabu, dikutip dari kantor berita Antara.

Wapres menjelaskan secara umum, meski nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat namun bila dibandingkan dengan mata uang Malaysia, Jepang, Australia dan beberapa negara lainnya, rupiah menguat. "Dilain pihak rupiah menguat dibanding yen, ringgit dan dolar Australia. Sebenarnya ekonomi (kita-red) lebih kuat (dibanding negara lainnya-red)," katanya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan menurunnya nilai tukar rupiah dibandingkan dolar Amerika Serikat ini dapat dimanfaatkan dengan mendorong peningkatan ekspor komoditas Indonesia. "Ini peluang yang baik, dengan rupiah melemah dibanding dolar Amerika Serikat, maka impor kita akan menurun dan ekspor kita naik," tegasnya.

“Jadi karena itu akan menyebabkan stabilitas ekonomi akan cepat. Defisit akan turun apalagi kebijakan ini juga mendukung kebijakan yang sudah diambil sebelumnya, pengurangan subsidi,” tambahnya.

Dengan terbentuknya stabilitas kurs nantinya juga akan menyebabkan investasi lebih cepat. "Investasi di Indonesia akan lebih murah dan investasi lebih memungkinkan bergerak dengan baik dan ini peluang yang baik untuk ekonomi kita tumbuh," kata Wapres.

Wapres Kalla juga menegaskan insentif yang didapat kalangan industri bisa dalam berbagai bentuk untuk mendorong peningkatan ekspor. "Bagaimana mendorong ekspor, insentif yang pertama siapa yang dapat 1 dolar akan mendapat rupiah lebih banyak itu pertama karena dapat revenue (penerimaan,red) yang lebih banyak insentif yang dibicarakan itu insentif untuk melakukan investasi di Indonesia jadi tidak hanya bentuk uang tapi fasilitas yang lebih baik, itu juga insentif," katanya.