Saham Sektor Properti Bakal Menjala Untung

Performance Diprediksi Tumbuh

Jumat, 19/12/2014

NERACA

Jakarta –Keyakinan jika saham sektor properti bakal menunjukkan performance lebih baik, dinilai sangat beralasan. Pasalnya, sepanjang tahun ini saham sektor properti mencatatkan kinerja tertinggi dibandingkan sektor lainnya.

Menurut pengamat pasar modal dari PT Valbury Asia Asset Management, Andreas Yasakasih, penguatan kinerja saham sektor properti akan terus berlanjut hingga tahun depan, selain sektor keuangan dan infrastruktur,”Saham sektor properti tahun depan masih akan menjadi minat investor, karena memiliki kinerja positif di tahun ini, diikuti sektor keuangan dan infrastruktur," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, kuatnya permintaan properti di sepanjang tahun ini diikuti dengan adanya dukungan dari penyalurtan pembiayaan menjadi salah satu faktor saham-saham di sektor itu membukukan kinerja positif. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per November 2014, indeks properti mencatat pertumbuhan sebesar 48,72%. Diikuti indeks keuangan sebesar 33,43% dan infrastruktur sebesar 22,74%. Sementara yang mencatatkan pertumbuhan terendah yakni indeks pertambangan sebesar 1,07%.

Hal senada juga disampaikan Head of Equity Research Mandiri Sekuritas John Rachmat, sektor perbankan, properti, dan manufaktur akan menunjukkan performa positif pada tahun 2015 mendatang sejalan dengan fokus pemerintah yang akan mendorong infrastruktur sehingga akan menopang pertumbuhan ekonomi pada tahun depan,”Ekonomi Indonesia bisa mencatat pertumbuhan sebesar 5,3% pada 5015 mendatang. Apalagi jika iklim investasi tidak terpengaruh global, pertumbuhannya bisa mencapai 5,5%," katanya.

Dia memaparkan bahwa saham-saham yang dapat diperhatikan di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Tabungan Negara (BBTN), PT Semen Gresik (SMGR), PT Pembangunan Perumahan (PTPP), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Ciputra Surya (CTRS) dan PT Pakuwon Jati (PWON).

Sebaliknya, pengamat pasar modal, Jimmy Dimas Wahyu pernah bilang, kinerja saham sektor properti diprediksi tak mengalami perubahan yang jauh berbeda dibanding tahun ini. Menurut dia, sektor properti tetap akan mengalami perlambatan pada 2015. “Tapi perlambatan bukan berarti krisis,”ungkapnya.

Meski melambat, kata Jimmy, sektor properti akan tetap prospektif. Sebab, beberapa indikator seperti tingginya populasi penduduk, bonus demografi, pertumbuhan ekonomi, dan potensi pendapatan per kapita yang meningkat memberi prospek sektor properti tak stagnan. "Kesimpulannya properti melambat, tapi bukan stop," ujarnya.

Harga hunian di Indonesia saat ini, kata dia, mencapai nilai tertinggi pada 2011 dan terus melesat hingga 2013. Tapi, mulai tahun 2014 ini, harga properti mengalami perlambatan dengan penurunan 25%. Penurunan harga properti, menurut Jimmy, juga disebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubidi. Kenaikan harga BBM bersubsidi ini memicu inflasi sehingga memaksa BI menaikan BI Rate untuk meredam inflasi. “Hal itu merupakan perputaran yang natural,”tuturnya.(bani)