TKI dan Perubahan Budaya

NERACA. Kehadiran mudik TKI layaknya sebuah paradoks. Meski dielukan sebagai pahlawan devisa, namun ada sisi lain yang menyertainya ketika mereka hadir diantara kita. Yakni budaya. Memang tak disangkal, budaya adalah sesuatu yang berubah dan berkembang. Budaya mengikuti kebiasaan keseharian, peka terhadap lingkungan dan lentur terhadap waktu.

Berikut sebuah catatan singkat dari sebuah kelenturan budaya yang merasuki anak negeri, dalam kehampaan bekal nilai-nilai bangsa sendiri ditengah hiruk pikuk dunia modern tempat mereka mencari penghidupan.

Dalam negeri

Advokasi Buruh Migran Indonesia Lombok Timur di Selong mencatat. Sejak tahun 2000 angka perselingkuhan dan perceraian di antara TKI mencapai 78% dari 700 kasus. Di Kabupaten Trenggalek Jawa Timur, tingkat perceraian yang dilatari masalah TKI/TKW mencapai 60%. TKW Hongkong meniru budaya barat, berpakaian seksi, dan bergaul bebas bahkan free sex, banyak yang pulang mudik hamil tanpa suami, bahkan terinveksi virus HIV/AIDS. Hasil penelitian Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB Bogor, sekitar 40% anak yang ditinggal karena ibunya jadi TKW mengalami gizi rendah, juga ada yg gizi buruk. Di Sukabumi, Peneliti IPB Dr. Ir. Ikeu Tanzuaha MS, mencatat; pada tahun 2009 dari sampel 300 orang TKW yang bekerja selama enam bulan, bahwa anak-anak yang ditinggal ibunya cenderung berperangai kasar dan tingkat kecerdasan rendah.

Luar negeri

Menurut catatan Kementerian Nakertrans, hingga Juli 2010, kepulangan TKI bermasalah ; di Arab Saudi 16.170 kasus, Emirat Arab 3.310 kasus, Taiwan 1.938 kasus, Singapura 1.788 kasus, dan Jordania 1.434 kasus

Related posts