Harga Saham J Resources Dinilai Janggal - Dituding Ada Goreng Saham

NERACA

Jakarta –Perusahaan tambang emas PT J Resources Asia Pasific Tbl (PSAB) dinilai memiliki pergerakan saham yang sangat aneh karena bertolak belakang dengan fundamental yang ada. Pasalnya, harga emas dunia mengalami penurunan, sedangkan saham PSAB malah mengalami penguatan.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (18/12), Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, seharusnya saham PSAB alami penurunan seperti saham perusahaan di sektor komoditas emas lainnya, “Anehnya dari sisi fundamentalnya. Harga emas kan cenderung turun dalam setahun ini. Pasar komoditas juga turun ya,” ujar Reza.

Menurutnya, saat ini penguatan dolar Amerika Serikat (AS) membuat sentimen negatif terhadap pergerakan indeks. Reza menduga ada pihak yang menggerakkan saham PSAB dengan menggoreng atau memberikan sentimen positif dari internal perusahaan.“Ada pihak-pihak tertentu menggerakkan saham ini sendiri. Masalahnya berarti spekulasinya sendiri dari orang dalam atau rumor dari internal. Dia kan ngeklaim punya cadangan emas yang besar di Gorontalo. Apakah benar cadangan terbukti benar atau tidak,” tukasnya.

Reza menambahkan, laporan keuangan PSAB seperti fiktif. Mengingat beberapa waktu lalu, PSAB mengalami kerugian akibat dari harga emas yang turun. Namun dalam laporan keuangan terakhirnya, ada lonjakan dalam cadangan emas dan produksi. “Laporan keuangan juga bisa tidak valid. Agak aneh. Mungkin ada rekayasa disitu,” tutupnya.

Sebelumnya, pengamat pasar modal Hasan Zein Mahmud pernah bilang, PT J Resources Asia Pacific Tbk diminta untuk melaporkan keuangannya yang valid dan benar kepada regulator, agar tidak merugikan investor. Terlebih saat ini, perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan ini sedang terlibat sengketa kerja sama dengan KUD Dharma Tani Marisa. Menurutnya, banyak 'keajaiban' pergerakan saham di perusahaan tersebut,”Harga emas dalam 4 tahun terakhir mengalami penurunan. Dengan begitu, saham perusahaan emas kan juga turun," ujarnya.

Namun, lanjut dia, pada Oktober tahun ini pergerakan saham PSAB justru mengalami kenaikan. Padahal, komposisi kepemilikan saham lebih didominasi PSAB yaitu 5,4% dimiliki publik, sementara sisanya 94,6% dimiliki J Resources Mining Limited,”Pemegang sahamnya kan cuma 5% dari publik masa bisa naik. Harusnya sahamnya itu jadi saham tidur. Lantaran, hanya menjual 5% ke publik. Ini berarti ada sesuatu yang aneh, biasanya saham tidur itu digoreng," kata Hasan.

Menurutnya, merupakan suatu kewajaran apabila perseroan yang sudah melakukan keterbukaan di publik mengalami kerugian. Untuk itu, dia meminta perseroan mengeluarkan laporan keuangan yang benar."Jangan sampai infonya merugikan investor. Tujuan saya itu cuma meminta perusahaan itu mempublikasikan laporan keuangannya yang benar," jelas dia. (bani)

BERITA TERKAIT

Krida Tetapkan Harga IPO Rp 202 Persaham

Perusahaan pengiriman dan logistik dengan nama KJN Exoress, PT Krida Jaringan Nusantara Tbk telah menetapkan harga penawaran umum saham perdana…

Gelar Go Public - Sinarmas MSIG Life Lepas 420 Juta Saham

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan kondisi pasar modal yang masih kondusif, PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk sebagai perusahaan yang bergerak…

Soal StanChart Lepas Bank Permata - Rudy Minta OJK Hentikan Penjualan Saham

NERACA Jakarta – Rencana Standart Chartered Bank bakal melepas saham PT Bank Permata Tbk menuai reaksi dari Rudy Ramli, pemilik…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Danai Akuisisi Lahan - DMS Propertindo Bidik Dana IPO Rp 186,6 Miliar

NERACA Jakarta – Kondisi pasar properti yang diprediksi masih lesu tahun ini, tidak menyurutkan niatan PT DMS Propertindo Tbk (DMS)…

Pefindo Sematkan Peringkat AA Jasa Marga

Melesatnya pertumbuhan EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortization) PT Jasa Marga(Persero) Tbk (JSMR) atau pendapatan sebelum bunga, pajak,…

Berlina Alokasikan Capex Rp 120 Miliar

Bangun proyek tiga besar untuk menambah kapasitas produksi, PT Berlina Tbk (BRNA) mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 120 miliar. Tahun…