"Ingin Jadi Duta Negara Indonesia"

Putri 'Purple' Pratiwi, PR Manager Grand Sahid Jaya Hotel

Sabtu, 20/12/2014

Niatan menjadi pesinetron akhirnya kandas lantaran selalu gagal casting akibat memiliki tubuh mungil. Meski demikian, dia tetap bersyukur karena tubuh mungilnya itu ternyata menjadi selling point tersendiri baginya.

NERACA

Gagal, gagal dan gagal…. Mungkin inilah kata yang tepat mewakili kekesalan Putri Pratiwi ketika ingin merengkuh karir di dunia keartisan. Betapa tidak, berulang kali mengikuti casting dia salalu gagal lantaran hanya memiliki tinggi badan 150cm. Walhasil, dia pun banting stir dengan bekerja di salah satu hotel ternama di Bandung.

“Dulu pengen juga jadi artis, sejak SMA saya rajin ikut kelas drama, peran yang biasa saya dapat peran yang antagonis (jahat-jahat), karena wajah saya mendukung untuk berperan antagonis. Lalu ikut beberapa kali casting, tapi karena tinggi badan kurang memadai saya batal,” ucap dia sedikit mengenang.

Untung buat Purple, begitu biasa dia disapa, kegagalan di dunia keartisan tidak menular dalam berkarir di sektor perhotelan. Setelah beberapa kali ganti bendera hotel. Kini dia menjabat Public Relation Manager di Grand Sahid Jaya Hotel Jakarta.

“Kalau pekerjaan ini (Public Relation) kan tidak melulu mengurusi masalah tinggi badan saja, jadi bisa lah masuk sini. Kan modalnya cuma cara mampu berkomunikasi dengan baik,” sebut dia.

Urusan komunikasi Purple memang jagoannya. Sejak kecil dia terbiasa berbicara di hadapan umum. Menurut dia, ada kesenangan tersendiri berbicara di depan banyak orang. Meski demikian dia menolak kalau kemampuannya hanya ’MBA’ alias ‘Modal Bacot Aja’.

“Gak gitu juga, sebelum berbicara harus dibekali ilmunya juga, gak asal ngomong. Tetapi sih memang kalau urusan ngomong mah bawaan dari kecil, kalau disuruh ngomong memang suka banget. Ada kebanggan tersendiri ngomong di depan umum,” ujar penggila Beyonce Knowles itu.

Ya, dengan modal ‘bacot’ serta ilmu pengetahuan yang kuat, Purple memilki ambisi untuk menjadi juru bicara dubes Indonesia di luar negeri. Tujuannya, yaitu lebih mengenalkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki Indonesia di luaran sana.

“Obsesi terbesar saya ingin jadi juru bicara dubes di luar negeri. Kalau itu tidak tercapai, target lainnya saya juga ingin jadi Director PR di salah satu chain hotel Internasional terbesar di dunia,” ujarnya seraya mengalihkan target.

Purple tidak menutup kemungkinan untuk pindah kewarganegaraan jika obesesinya gagal tercapai (juru bicara dubes). Karena semua dilakukannya semata-mata untuk memasarkan nama Indonesia di mata Internasional.

“Nanti kan kalau di luar negeri kita pasti ditanya berasal dari mana, di situ saya akan pasarkan dan kupas habis negara Indonesia (tentu yang positifnya lebih besar porsinya),” kata penggemar Valentino Rossi itu.

Pede dengan Ungu

Mungkin ketika mendengar nama Purple, pikiran kita masih menerawang apa maksud dari nama tersebut. Apakah dia pecinta band Ungu, atau hobi mengoleksi berbagai benda berwarna ungu atau ada hal yang lain lagi yang hanya Tuhan dan Purple yang tahu?

Tetapi, kalau sudah bertemu dengannya. Kita baru tahu kenapa dia dipanggil Purple. Ternyata, wanita berdarah Yaman ini sangat menggilai warna ungu. Terbukti dari beberapa atribut yang dikenakan mayoritas berwarna ungu.

“Kalau bukan kerja bisa ungu semua ini mas… Karena kerja saja jadi dipadu-padankan dengan warna lain, seperti blazer hitam ini. Kalau engga bisa-bisa dari ujung kepala sampai ujung kaki warna ungu semua,” ujar dia.

Purple mulai menggilai warna ungu sejak duduk di bangku SMP, awalnya, kata dia, dimuali ketika mengenakan pulpen (boxi) berwarna ungu, warna yang dihasilkan dari goresn pulpen tersebut ternyata membuatnya senang dan lebih ceria. Walhasil setelahnya semua stationary miliknya berwarna ungu.

“Awalnya gitu, tetapi setelah itu mulai dah pakaian warna ungu, sepatu warna ungu, sampai sekarang sudah tidak bisa dihitung berapa koleksi pernak-pernik berwarna ungu saya, intinya saya lebih pede dengan warna ungu walau banyak orang bilang ungu itu warna janda,” tutup dia.