TKI dan PEMBANGUNAN

Neraca. Cerita eksekusi hukum pancung Ruyati di Arab Saudi karena membunuh majikannya, masih begitu hangat. Atau kisah Darsem yang lolos dari hukuman mati, lalu mendadak kaya dengan Rp 2 miliar dikantong hadiah pemirsa sebuah stasiun TV yang iba akan nasibnya . Semua begitu jelas dan terang benderang.

Realitas yang bahkan menyilaukan adalah masuknya dana segar dalam bentuk valuta asing seiring kedatangan jutaan tenaga kerja asal Indonesia untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriah. Jumlahnya pun sangat fantastis sekitar Rp 60 triliun menurut catatan Bank Indonesia.

Jumlah itu bukan harga mati. Diluar catatan Bank Indonesia, tak sedikit jutaan dollar hijrah ke Indonesia melalui jalur lain diluar kendali perbankan. Misalnya dititipkan secara langsung kepada teman atau kurir perorangan. Belum lagi bila kalkulasi memasukkan ratusan ribu TKI illegal yang juga mengirim uangnya ke tanah air. So bukan mustahil valuta asing senilai Rp 100 triliun dapat diboyong para TKI ke Indonesia.

Meski valuta asing yang dikirim para TKI tidak masuk dalam cadangan devisa, namun jelas akan memperbanyak stok valuta asing dipasarsehingga turut berperan dalam menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah. Saat ini, TKI dapat mengirimkan uang US$ 500 juta atau sekitar Rp 4,5 triliun per bulan ke tanah air.

Masuknya jutaan valuta asing yang menggiurkan oleh para TKI, cepat ditangkap kalangan perbankan. Seperti Bank Bukopin, yang konon serius mengkaji pembukaan kantor perwakilannya di Arab Saudi. Atau Bank Negara Indonesia (BNI) yang mengaku, merasakan transfer dana dari luar ke dalam negeri mencapai ratusan triliun sepanjang fenomena jelang hari raya terjadi.

Datangnya dana segar TKI juga dirasakan sejumlah daerah dipelosok tanah air. Utamanya daerah yang menjadi kantong penyedia TKI. Sebuah contoh Desa Gelogor Kecamatan Kediri Lombok Barat. Desa seluas 168.162 Ha berpenduduk 6.194 jiwa ini, mulai merasakan geliat perekonomian di desanya pasca kucuran dana segar dari sanak saudara pada beberapa minggu menjelang hari raya tiba.

Begitu pun pada Desa Sukaurip Kecamatan Balongan Indramayu Jawa Barat. Perubahan kasat mata terlihat dengan berdirinya sederet rumah permanen berlantai keramik yang tampak asri di Desa Sukaurip. Salah seorang warga desa menuturkan, bahwa perubahan desanya mulai dirasakan dalam 10 tahun. Sekali lagi, ini berkat jasa para TKI.

Realitas ini jelas membuktikan. Bila pengelolaan manajemen TKI yang cantik tentu berdampak pada bergeraknya pembangunan di daerah. Keberhasilan TKI mengais rejeki selayaknya sebuah tamparan bagi kita. Dan kita akan terus merasa malu, bila Ruyati (alm) dan Darsem cs dapat membangun daerahnya, menggairahkan ekonomi dilingkungannya, menstabilkan mata uang rupiah, namun terus menderita hanya karena keberanian tak kunjung terpancar dari para pemimpin negeri.

Nampaknya kita harus banyak belajar dari para TKI. Karena keberanian mereka bekerja ditengah hukum yang tidak berpihak, nyatanya sanggup mereka lalui. Sungguh ini sebuah pelajaran yang terus dipertontonkan, tanpa kita sanggup memetik pelajaran dari mereka

Related posts